Misteri Katak Bertaring di Kalimantan: Benarkah Ada Spesies yang Masih Tersembunyi?

ADVERTISEMENT

Misteri Katak Bertaring di Kalimantan: Benarkah Ada Spesies yang Masih Tersembunyi?

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Sabtu, 25 Apr 2026 09:00 WIB
Katak bertaring, spesies baru ditemukan di Kalimantan
Foto: (Ade Damara Gonggoli/BRIN-IPB University)/Katak bertaring, spesies baru ditemukan di Kalimantan.
Jakarta -

Penemuan spesies baru katak bertaring di Pulau Kalimantan pada 2025 menyisakan misteri bagi para ilmuwan. Menurut mereka, temuan katak bertaring menunjukkan kedekatan antarspesies bisa tak terlalu jelas. Lantas benarkah masih ada spesies katak yang tersembunyi?

Selama ini, kemajuan teknologi genetika membuat para ilmuwan semakin sering menemukan spesies baru yang sebelumnya tersembunyi. Banyak hewan yang dulu dianggap satu spesies ternyata terdiri dari beberapa kelompok berbeda secara genetik.

Studi katak bertaring di Pulau Kalimantan bisa menjadi contoh. Setelah sekian lama dianggap spesies berbeda, ternyata setelah diidentifikasi dengan teknologi DNA, merupakan spesies baru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Katak Bertaring di Kalimantan Jadi Petunjuk

Peneliti dari Michigan State University, Chan Kin Onn, mengatakan bahwa para ilmuwan di seluruh dunia telah mengidentifikasi lebih dari 9.000 spesies amfibi, dan sekitar 100 hingga 200 spesies baru ditambahkan setiap tahunnya. Terbaru pada 2025, mereka mengidentifikasi sekelompok katak kecil berwarna cokelat di Asia Tenggara yang dikenal sebagai katak bertaring Borneo.

Salah satu spesies yang paling lama dikenal adalah Limnonectes kuhlii, yang sudah dideskripsikan oleh ilmuwan sejak 1838.

ADVERTISEMENT

Namun, penelitian genetik dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa katak yang tampak mirip ini kemungkinan bukan hanya satu spesies. Analisis DNA mengindikasikan adanya banyak garis keturunan yang berbeda.

"Hewan yang terlihat mirip tetapi berbeda secara genetik disebut spesies kriptik," jelas Chan, dikutip dari Science Daily.

Untuk menelitinya lebih jauh, para ilmuwan menganalisis lebih dari 13.000 gen dari sampel katak yang dikumpulkan di hutan pegunungan Pulau Kalimantan di wilayah Malaysia. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok katak tersebut memang terdiri dari beberapa garis genetik berbeda, tetapi jumlahnya tidak sebanyak yang sebelumnya diperkirakan.

"Ini bukan hanya satu spesies, tetapi juga bukan 18 spesies," kata Chan.

Penemuan Serupa Terjadi di Indonesia

Penelitian tentang katak bertaring juga terjadi di Indonesia. Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebelumnya menemukan dua spesies baru di Pegunungan Meratus, Kalimantan.

Dua spesies tersebut diberi nama Limnonectes maanyanorum dan Limnonectes nusantara. Sebelumnya, keduanya sempat dianggap bagian dari spesies Limnonectes kuhlii, tetapi analisis genetik dan morfologi menunjukkan keduanya merupakan garis keturunan yang berbeda.

Kedua katak ini memiliki ukuran tubuh sedang dengan ciri khas berupa struktur "taring" di rahang bawah, terutama pada katak jantan. Selain itu, perbedaan bentuk bintil pada kulit serta ukuran taring menjadi ciri penting yang membedakan keduanya.

Penemuan tersebut menegaskan bahwa wilayah tropis seperti Kalimantan masih menyimpan banyak keanekaragaman hayati yang belum sepenuhnya dipahami oleh ilmuwan.

Mengapa Penentuan Spesies Penting bagi Konservasi?

Menentukan jumlah spesies bukan hanya persoalan klasifikasi ilmiah. Informasi tersebut juga sangat penting untuk menentukan strategi konservasi.

Saat ini amfibi termasuk kelompok hewan yang paling terancam di dunia. Analisis global pada sekitar 8.000 spesies amfibi menunjukkan bahwa dua dari lima spesies menghadapi risiko kepunahan.

Karena itu, ilmuwan perlu memastikan apakah suatu populasi benar-benar merupakan spesies yang berbeda atau masih bagian dari spesies yang sama. Kesalahan dalam menentukan batas spesies bisa memengaruhi prioritas perlindungan.

"Ada begitu banyak spesies di dunia yang belum kita temukan, dan mereka bisa punah sebelum sempat kita beri nama," ujar Chan.

Penelitian tentang katak bertaring ini menunjukkan bahwa proses terbentuknya spesies sebenarnya berlangsung bertahap. Perbedaan antarspesies tidak selalu muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang perlahan dalam apa yang disebut ilmuwan sebagai "zona abu-abu" evolusi.

Hasil studi dalam tulisan ini telah dipublikasikan dalam jurnal Systematic Biology dengan judul "A Genomic Perspective on Cryptic Species Reveals Complex Evolutionary Dynamics in the Gray Zone of the Speciation Continuum.", 14 Januari 2026.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.




(rhr/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads