Benarkah pada 2030 Terjadi 2 Kali Ramadan? Ini Penjelasan Sainsnya

ADVERTISEMENT

Benarkah pada 2030 Terjadi 2 Kali Ramadan? Ini Penjelasan Sainsnya

Cicin Yulianti - detikEdu
Senin, 09 Mar 2026 04:00 WIB
Ilustrasi Ramadan dengan lentera berlatar belakang masjid.
Ilustrasi Ramadan. Foto: Freepik/Freepik
Jakarta -

Bulan Ramadan akan selalu datang setiap tahunnya. Namun, apakah detikers tahu bahwa pada 2030 Ramadan diprediksi akan terjadi dua kali dalam setahun.

Mengutip laman Indonesia Baik Kementerian Komunikasi dan Digital, Ramadan pada tahun tersebut memang berbeda. Ramadan pada 2030 diprediksi akan terjadi dua kali yakni pada sekitar 5 Januari dan 26 Desember 2030.

Mengapa Ramadan 2030 Terjadi 2 Kali?

Berdasarkan laman Indonesia Baik, perhitungannya berdasarkan kalender Hijriah dan Masehi. Dalam kalender Hijriah, terdapat sebanyak 354-355 hari dalam setahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara dalam kalender Masehi terdapat 365-366 hari dalam satu tahun. Antara kedua kalender tersebut ada selisih sekitar 10-12 hari.

Hal itu membuat tanggal Ramadan pada kalender Masehi terus bergeser lebih awal setiap tahunnya.

ADVERTISEMENT

Fenomena dua kali Ramadan pada 2030 bukanlah yang petama kali. Momen ini adalah siklus setiap 33 tahun sekali di mana pada dekade mendatang dapat terjadi kembali.

Penjelasan Pakar Soal Fenomena Ramadan 2 Kali

Pakar fisika teoritis dari IPB University yakni Profesor Husin Alatas menjelaskan bahwa fenomena soal waktu ini sebenarnya masih jadi misteri dalam ilmu fisika.

Namun, para ilmuwan dapat menggunakan fenomena periodik di alam untuk menjelaskannya. Dalam fisika sendiri ada sebuah perangkat yang dapat menunjukkan waktu secara akurat.

"Saat ini, perangkat penunjuk waktu paling akurat adalah jam kisi optik yang memanfaatkan transisi frekuensi optik dalam atom seperti Ytterbium (Yb), Strontium (Sr), atau Aluminium (Al)," katanya dalam laman IPB University.

Dosen mata kuliah Mekanika Lagrange-Hamilton tersebut menyebut pengukuran waktu dengan fenomena alam periodik ini juga bisa dilakukan lewat pergerakan matahari.

"Penentuan satuan waktu yang akurat memanfaatkan pola fluktuasi tingkat energi elektron dalam atom-atom ini yang sangat stabil," katanya.

Menurutnya, pergerakkan periodik juga telah digunakan untuk penentuan waktu tahunan. Selain itu juga bisa untuk perhitungan transisi bulan.

"Selain itu, pergerakan periodik bulan juga telah lama digunakan untuk penentuan waktu tahunan, terutama berkaitan dengan pergantian bulan dalam kalender lunar, seperti kalender Hijriah," katanya.

Dalam kasus Ramadan tahun 2030, Husin melihat ada selisih 10,88 hari antara tahun surya (kalender Gregorian) dan tahun lunar (kalender Hijriah).

Selisih tersebut mengacu pada jumlah hari dalam satu tahun surya sebanyak 365,24 hari dan pada tahun Hijriah sebanyak 354,36 hari.

"Akibat perbedaan ini, ada kemungkinan hari pertama bulan Hijriah tertentu, termasuk Ramadan, terjadi dua kali dalam satu tahun surya. Perhitungan menunjukkan pada 2030, akan ada dua kejadian hari pertama Ramadan," katanya.

Tak hanya lewat fenomena bulan baru, Husin mengatan penentuan tanggal Hijriah juga dapat dilakukan lewat metode perhitungan analitis-matematis prediktif (hisab) dan pengamatan faktual (rukyat).

"Patut direnungkan bahwa keduanya pada dasarnya merupakan fondasi utama ilmu pengetahuan modern saat ini, yaitu prediksi dan observasi," katanya.




(cyu/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads