Cerita Mahasiswa Afrika Ramadan di RI: Kaget Ada Takjil-Perbedaan Awal Puasa

ADVERTISEMENT

Cerita Mahasiswa Afrika Ramadan di RI: Kaget Ada Takjil-Perbedaan Awal Puasa

Cicin Yulianti - detikEdu
Minggu, 08 Mar 2026 17:00 WIB
Mahasiswa asal Afrika di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT).
Mahasiswa asal Afrika di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT). Foto: Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT)
Jakarta -

Ramadan bukan sekadar bulan suci bagi muslim di seluruh dunia. Ramadan juga menghadirkan ragam tradisi dan budaya dari berbagai negara.

Perbedaan tradisi Ramadan ini sangat dirasakan oleh Vanessa Jepkemboi Bett dan Essra Mohammed Osman Abdalla. Vanessa adalah mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT).

Ia berasal dari negara Kenya. Sementara Essra adalah mahasiswa S1 Teknik Informatika asal Sudan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak Banyak Hiasan tapi Tetap Hangat

Essra mengaku suasana puasa di Indonesia khususnya Samarinda terasa hidup dan semarak, walaupun tak semeriah di negara asalnya.

"Di Sudan, kami menghias jalanan dan lingkungan sekitar dengan dekorasi bernuansa Ramadan sebagai pertanda kegembiraan dan semangat menghadapi bulan puasa," tuturnya," dikutip dari laman UMKT, Sabtu (7/3/2026).

ADVERTISEMENT

Suasana hangat juga dirasakan Essra dalam hal suhu. Ia menyebut suhu udara di Sudan dan Indonesia relatif sama sehingga haus yang dirasakan selama puasa tak jauh berbeda.

Heran dengan Perbedaan Awal Puasa

Hal lain yang terasa baru bagi Essra adalah waktu memulai puasa. Ia heran mengapa di Indonesia terdapat perbedaan waktu memulai puasa antara yang ditetapkan pemerintah dengan organisasi masyarakat.

Ia juga bingung dengan pelaksanaan sholat tarawih yang berbeda. Meski demikian, Essra tak menganggapnya sebuah keanehan melainkan hanya perbedaan budaya.

Tradisi Bukber Sudah Biasa

Ada beberapa tradisi Ramadan antara Indonesia dan Sudan yang menurut Essra cukup sama mulai dari menabuh bedug, panggilan sahur, hingga buka bersama.

Namun, ada sedikit perbedaan dalam hal bukber di Sudan. Di sana, warga khususnya laki-laki akan menggelar tikar di depan rumah untuk mengundang siapa saja berbuka bersama.

Jika boleh, Essra ingin mengenalkan tradisi unik tersebut kepada masyarakat Indonesia. Menurutnya, tradisi tersebut dapat mempererat hubungan tali silaturahmi.

Istilah 'Takjil' Terasa Asing

Vanessa sebenarnya tidak melihat perbedaan yang sangat mencolok antara tradisi Ramadan di Indonesia dan Kenya. Terutama dalam hal makanan, ia tak kesulitan memperoleh makanan selama puasa.

"Makanan tetap tersedia, hanya saja tidak sebanyak bulan-bulan biasa," katanya.

Walaupun seorang non-Muslim, tetapi ia sangat mengenal tradisi apa saja yang ada di Kenya selama Ramadan. Sejak menjadi mahasiswa di RI, ia melihat banyak budaya antara kedua negara ini yang berbeda.

Salah satunya istilah takjil yang asing bagi Vanessa. Ia melihat bahwa Indonesia memiliki kekayaan kosakata menyangkut Ramadan.

Essra dan Vanessa merasa kagum dengan keragaman tradisi Ramadan yang ada di Indonesia. Mereka juga menjadi belajar tentang toleransi dan empati yang lebih tinggi.



(cyu/nah)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads