11 Studi di Amerika Utara menunjukkan, orang yang netral pada isu-isu kontroversial cenderung tidak dipercaya daripada orang yang berani mengutarakan pendapatnya. Alih-alih dipandang baik, mereka dianggap sama tidak bermoralnya dengan orang yang punya pandangan berseberangan.
Hal tersebut disampaikan Gabrielle Adams, peneliti kebijakan publik, administrasi bisnis, dan psikologi University of Virginia (UVA) yang memimpin salah satu studi.
"Ketika seseorang mengungkapkan sudut pandang netral, kita sangat skeptis terhadap sudut pandang netral tersebut, dan kita sebenarnya berpikir bahwa mereka kurang bermoral; pada dasarnya, sama tidak bermoralnya dengan seseorang yang pandangannya berlawanan," kata Adams, dikutip dari laman UVA Today.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Netral Dianggap Apatis dan Ragu-ragu
Sejumlah skenario diterapkan pada partisipan penelitian. Pada salah satu studi, 600 partisipan diminta membaca tentang rekan mereka mendukung, menentang, atau mengaku netral pada naiknya imigrasi di negara mereka, yang berdampak pada bertambahnya jumlah imigran.
Mereka kemudian diminta menilai moral rekannya tersebut. Di samping itu, mereka juga ditanyai soal pendapatnya terkait imigrasi. Peneliti menemukan, rekan yang pendapatnya selaras dengan partisipan dinilai lebih baik.
"Namun, rekan yang berpendapat netral dinilai sama jeleknya dengan rekan yang pendapatnya bertentangan dengan partisipan," jelas Adams.
Dalam skenario lainnya, 605 partisipan diminta membayangkan sedang makan malam dengan sejumlah tamu. Tamu tersebut ditanyai pendapatnya soal tempat suntik narkotika legal aman yang akan buka di dekat rumah.
"Para peserta menilai tamu yang netral lebih berniat menghindari konflik dan bersikap strategis daripada orang yang secara lugas setuju atau tidak setuju dengan mereka," kata Adams.
"Pada saat yang sama, mereka juga menilai tamu yang netral lebih apatis dan ragu-ragu mengenai isu tersebut daripada tamu yang secara jelas berpihak," sambungnya.
Netral Dianggap 'Main Aman'
Pada skenario lain, peneliti menggunakan sampel representatif secara nasional. Para partisipan diminta membayangkan sedang melihat unggahan orang di media sosial yang mendukung, menentang, atau netral pada isu kontroversial.
Hasilnya, partisipan menilai orang yang pendapatnya selaras deengan mereka dinilai paling baik. Namun, orang yang netral dinilai sama jeleknya dengan orang yang beda pendapat dengan mereka.
Berangkat dari 11 studi, peneliti menyimpulkan, orang netral dianggap bersikap netral demi mempertahankan reputasi yang menguntungkan diri mereka sendiri, terlihat empatik, dan menghindari konflik.
"Orang-orang berpikir bahwa netralitas ini pada dasarnya adalah cara untuk bermain di kedua sisi," kata Adams.
Lebih Baik Sepakat untuk Tidak Sepakat
Ia menjelaskan, hasil penelitian ini juga menunjukkan, orang tidak perlu takut untuk mengatakan apa yang mereka pikirkan. Sebab, bersikap netral rupanya bukan cara terbaik untuk melakukan percakapan yang beradab dan saling menghormati.
"Cara yang lebih produktif untuk percakapan yang beradab adalah dengan mengungkapkan apa yang kamu pikirkan, menjelaskan apa yang kamu pikirkan, karena ketidaksepakatan tidak seburuk itu," jelasnya.
Studi ini telah dipublikasi dengan judul "Indifferent or impartial? Actor-observer asymmetries in expressing and evaluating sociopolitical neutrality" dalam e Journal of Experimental Psychology: General, November 2025.
Simak Video "Video: AI Grok Makin Liar, Kemkomdigi Diminta Jangan Takut Tegur X "
[Gambas:Video 20detik]
(twu/nwk)











































