Kebiasaan buruk kerap dipandang sebagai tanda orang yang kurang disiplin atau kurang matang secara sosial dan emosional. Kebiasaan buruk membentuk stigma di masyarakat bahwa seseorang tidak berusaha menjadi versi terbaik dari dirinya.
Namun, ada sebagian kebiasaan buruk yang ternyata punya dampak positif. Kebiasaan buruk dapat menjadi strategi adaptif jika dilakukan dalam batas wajar. Kebiasaan tersebut mampu membantu seseorang menjalin hubungan, mengendalikan emosi, dan memecahkan masalah.
Dikutip dari Psychology Today, berikut penjelasan beberapa kebiasaan 'buruk' yang rupanya dapat berdampak positif dalam konteks tertentu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebiasaan 'Buruk' yang Ternyata Bermanfaat
1. Gosip yang Sehat
Gosip sering dikaitkan dengan pengkhianatan atau drama yang tidak penting. Namun, secara psikologi gosip memiliki arti yang lebih netral. Gosip dapat diartikan sebagai pertukaran informasi evaluatif tentang orang yang tidak hadir.
Saat kita meninggalkan beban moral, penelitian justru mengungkap sisi adaptif dari gosip. Studi yang terbit di jurnal Current Biology tahun 2021 lalu, menjelaskan peran penting dari gosip dalam proses pembelajaran tidak langsung.
Ketika orang membicarakan perilaku orang lain, tentang siapa yang salah, curang, dan siapa yang bersikap sosial dengan baik, saat itulah mereka sedang berbagi pengetahuan sosial.
Tanpa disadari, gosip ternyata membantu penyebaran norma sosial dan pemahaman bersama tentang siapa yang dapat dipercaya dan menghadapi dinamika kompleks dalam kelompok. Gosip bekerja layaknya sistem navigasi sosial tak kasat mata dalam percakapan sehari-hari.
Penelitian juga menjelaskan, dengan bergosip manusia dapat memperkuat hubungan kelompok. Saling berbagi pandangan tentang peristiwa sosial menciptakan sudut pandang yang selaras. Kecocokan inilah yang kemudian meminimalisir kecemasan karena adanya kejelasan dalam situasi yang ambigu.
Selain itu, bergosip dengan batasan tertentu dapat memvalidasi perasaan seseorang. Mendengar respons seperti 'aku juga melihat hal yang sama' atau 'perasaanmu masuk akal' misalnya, memberi efek menenangkan.
Sejatinya manusia memproses informasi sosial secara kolektif. Gosip adalah cara tertua untuk membangun makna bersama.
2. Melampiaskan Emosi Secara Terarah
Berkeluh kesah kerap dianggap sebagai sikap negatifmkarena diartikan sebagai tanda seorang pesimis. Mereka yang mengeluh dinilai sebagai orang yang enggan melihat masalah dari sudut pandang berbeda. Namun, ternyata melampiaskan emosi dengan terarah memiliki fungsi psikologis yang berbeda, yaitu sebagai bentuk pengaturan emosi.
Penelitian tentang berbagai emosi secara sosial sudah menjelaskan perbedaan ini. Sebuah studi pada 2014 tentang neuroimaging menemukan seorang yang berbagi pengalaman negatif terhadap pasangannya yang suportif, menunjukkan peningkatan aktivitas otak yang berhubungan dengan rasa lega dan dihargai. Jadi, bercerita dengan orang yang berempati dapat mengurangi beban emosional meski kenyataanya tidak berubah.
Proses ini membantu seseorang untuk mengolah emosinya dengan efektif. Mengungkapkan perasaan dapat mengubah rasa tidak nyaman yang abstrak menjadi lebih jelas dan mudah dikelola.
Pendengar kerap memberi pandangan mereka dengan sukarela, baik dalam bentuk normalisasi maupun dorongan halus. Sikap ini yang kemudian membantu seseorang memahami situasi dengan seimbang.
Berbagi emosi juga mempererat ikatan sosial. Respons hangat terhadap curahan hati seseorang, mampu menimbulkan rasa dianggap dan tidak sendirian dalam menghadapi stres.
Kendati demikian, manfaat ini juga bergantung pada konteks. Berkeluh kesah hanya berdampak positif jika dilakukan dalam kondisi tertentu, disengaja, dan ditujukan pada orang yang tepat. Sebab, keluhan berulang tanpa arah menyebabkan tekanan emosional semakin parah.
3. Menunda dengan Strategi
Menunda-nunda pekerjaan sering dianggap sebagai penghambat produktivitas seseorang. Kebiasaan ini kerap dikaitkan dengan waktu yang molor dan kesempatan yang terbuang sia-sia.
Penundaan kronis yang dipicu oleh penghindaran dapat menjadi masalah. Namun, penelitian terbaru menemukan sebuah perbedaan penting.
Para peneliti membedakannya kepada penundaan aktif dan pasif. Psikolog Shin-Hsien Chu dan Jin Nam Choi menjelaskan, penundaan aktif berarti sengaja menunda tugas karena merasa bekerja di bawah tekanan. Namun, mereka tetap mengendalikan tenggat waktu, relatif tidak stress, dan kerap menghasilkan kinerja yang baik.
Perilaku seperti ini memang tampak seperti penundaan. Namun, secara internal penundaan aktif adalah bentuk perencanaan dan pengelolaan waktu yang disengaja.
Sejumlah penelitian terkait masa inkubasi mendukung gagasan tersebut. Sebuah studi tentang ilmu kreativitas menjelaskan, dengan menjauh dari tugas dan membiarkan pikiran mengembara, alam bawah sadar kita terus memproses informasi. Proses ini sering menghasilkan ide yang lebih matang.
Penundaan aktif ini juga mencegah keputusan yang cenderung impulsif. Jeda waktu membuka ruang refleksi, terlebih dalam situasi yang belum pasti. Proses ini yang membuat seseorang lebih cermat dalam mengolah informasi.
Meski demikian, bukan semua penundaan sifatnya adaptif. Penundaan pasif yang ditandai dengan rasa cemas, ragu-ragu, dan rasa panik pada menit terakhir justru merugikan. Perbedaannya terlihat jelas dari niat, kendali, dan stabilitas emosional.
Penundaan dengan strategi yang tepat dapat meningkatkan kinerja. Sementara menunda hanya karena menghindar justru melemahkannya.
Penulis merupakan peserta Magang Hub Kemnaker di detikcom.
(nah/nah)











































