Resolusi Tahun Baru Selalu Kandas? Yuk, Ubah Caranya

ADVERTISEMENT

Resolusi Tahun Baru Selalu Kandas? Yuk, Ubah Caranya

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Jumat, 02 Jan 2026 20:30 WIB
Resolusi Tahun Baru Selalu Kandas? Yuk, Ubah Caranya
Banyak orang kesulitan menjalani resolusi awal tahun karena target yang terlalu ambisius. Pakar dan peneliti saran begini agar target tercapai. Foto: Getty Images/iStockphoto/AndreyPopov
Jakarta -

Sudah bikin resolusi Tahun Baru tapi mulai kesulitan menjalaninya? Kamu tidak sendiri. Banyak orang bersemangat di awal, tapi menyerah bahkan sebelum Januari berakhir.

Menurut penelitian dari University of New South Wales (UNSW) Business School, kegagalan ini bukan semata karena kurang niat, tapi karena cara kita membuat resolusi sering kali terlalu ambisius dan tidak realistis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Godaan 'Fresh Start' di Awal Tahun

Awal tahun sering terasa seperti kesempatan baru untuk memperbaiki diri. Ini disebut fresh start effect, yaitu efek psikologis yang membuat kita merasa bisa memulai ulang dan meninggalkan kebiasaan lama.

"Awal tahun memberi kesan lembaran baru, kesempatan simbolis untuk memperbaiki diri dan meninggalkan kekurangan di masa lalu," jelas Profesor Peter Heslin dari UNSW Business School, dikutip dari laman resmi kampus tersebut.

ADVERTISEMENT

Namun, euforia ini juga membuat banyak orang tergesa-gesa membuat target besar tanpa memikirkan cara mencapainya. Misalnya, berjanji olahraga tiap hari atau berhenti makan gula sepenuhnya, padahal belum terbiasa menjalani pola itu.

Semangat Besar, Realitasnya Nggak Segampang Itu!

Kesulitan orang-orang untuk berkomitmen pada resolusi awal tahun rupanya sudah dilaporkan peneliti setidaknya sejak 1988.

Riset pada Journal of Substance Abuse tersebut menunjukkan, 77% orang berhasil menjaga resolusinya selama seminggu pertama, tetapi kebanyakan menyerah sebelum pertengahan Januari. Hanya 19% yang bertahan hingga dua tahun.

Menurut Heslin, hal tersebut terjadi karena resolusi terlalu berfokus pada hasil akhir, seperti turun 10 kg atau menabung sekian juta, tanpa memperhatikan proses kecil yang membentuk kebiasaan sehari-hari.

"Masalahnya, banyak orang menaruh fokus pada hasil, bukan pada langkah-langkah kecil untuk mencapainya. Ketika hasilnya tidak cepat terlihat, motivasi pun langsung turun," ujar Heslin.

Selain itu, banyak orang merasa perubahan besar harus dimulai tepat pada 1 Januari, padahal hal itu justru bisa menimbulkan tekanan. Alhasil, kita yang tertekan jadi menunda-nunda untuk benar-benar memulai.

Pada kenyataannya, tidak ada waktu yang "paling tepat" untuk berubah. Kapan pun bisa jadi awal yang baru selama kita ingin memulai.

Buat Resolusi, Mulai dari Hal Kecil Dulu!

Peneliti Janet Polivy dan Peter Herman dalam jurnal American Psychologist (2002) menyebut fenomena kegagalan ini sebagai false hope syndrome, yaitu siklus ketika seseorang membuat target besar, gagal, lalu mengulang lagi dengan harapan baru setiap tahun.

Biasanya, siklus seperti ini bisa membuat orang kehilangan semangat dan merasa gagal terus-menerus.

Heslin menyarankan agar orang mulai berpikir lebih realistis.

"Sadari dan lawan jebakan berpikir bahwa kamu hanya bisa bahagia setelah mencapai tujuan tertentu atau menjadi versi diri yang kamu inginkan," katanya.

Daripada membuat resolusi besar, Heslin menyarankan agar kita fokus pada perubahan kecil dan realistis. Di samping itu, beri waktu untuk benar-benar pulih dan istirahat di awal tahun.

Ia menambahkan, gunakanlah Januari untuk pemulihan dan istirahat, bukan menekan diri dengan target baru. Jika mau berubah, cobalah mulai dari hal kecil yang bisa disesuaikan dan dinikmati.

Mulai sekarang, yuk, ubah cara pandang soal resolusi, detikers. Mulai dari yang kecil dan nikmati prosesnya!




(twu/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads