Dalam sejarah Indonesia, jabatan Menteri Luar Negeri bukan cuma posisi administratif tapi adalah wajah republik, penafsir kepentingan nasional, sekaligus penjaga martabat negara di hadapan dunia. Karena itu, menlu-menlu di masa lalu bukan hanya "menjalankan kebijakan", tetapi mendefinisikan arah diplomasi Indonesia.
Dalam kesempatan ini redaksi detikEdu mengajak pembaca untuk mengenal beberapa sosok Menlu legendaris kita, seperti Adam Malik, Prof Mochtar Kusumaatmadja, Ali Alatas.
Adam Malik dan Seni Mengatur Republik
Berlatar pergerakan dan wartawan menjadikan Adam Malik diplomat ulung yang disegani di dalam negeri dan forum internasional. Ia ceplas-ceplos, tak suka protokoler, tapi semua terasa tetap terukur.
Nama lengkapnya Adam Malik Batubara, tapi publik dan sejarah lebih sering mencatatnya tanpa marga. Ia lahir di Pematang Siantar, 22 Juli 1917, dari rahim Hajjah Siti Salamah. Ayahnya, Haji Abdul Malik, saudagar pakaian yang tergolong berada. Dalam otobiografinya, Mengabdi Republik, Jilid 1: Adam dari Andalas (Gunung Agung, 1979), Adam Malik mencatat bahwa ayahnya adalah "satu-satunya orang di kota itu yang memiliki mobil sedan Buick." Di Pematang Siantar yang masih lengang, Buick bukan sekadar kendaraan tapi penanda kelas sosial dan zaman.
Adam Malik tak tumbuh sebagai anak saudagar yang larut dalam kenyamanan. Sejak usia 17 tahun, ia sudah aktif berorganisasi. Rapat, selebaran, dan perdebatan politik lebih menarik perhatiannya ketimbang etalase toko. Naluri politiknya tumbuh lebih cepat daripada usia. Pada Agustus 1945, Adam Malik termasuk para pemuda yang membawa Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok.
Bersama tiga wartawan muda lainnya, Soemanang Soerjowinoto, AM Sipahutar, dan Pandu Kartawiguna, di usia 20 tahun Adam Malik mendirikan Kantor Berita Antara, 13 Desember 1937. Dari pers, ia belajar bahwa kata-kata bisa menjadi senjata politik-dan bahwa kejujuran sering kali membuat kekuasaan merasa tidak nyaman.
Dalam banyak kesempatan, Adam Malik mengaku pemikirannya dibentuk oleh tiga tokoh besar republik: Soekarno, Mohammad Hatta, dan Tan Malaka. Dari Soekarno ia menyerap keberanian mengambil risiko dan kepekaan membaca momentum. Dari Hatta, kejernihan berpikir dan rasionalitas dalam mengambil keputusan. Dari Tan Malaka, keberanian berpikir melampaui pakem dan berani berbeda. Perpaduan ketiganya membentuk Adam Malik sebagai politikus yang lentur-tidak dogmatis, tapi juga tidak naif.
Kelenturan itulah yang kelak tampak dalam karier diplomatiknya. Pada 1959, Presiden Soekarno mengangkat Adam Malik sebagai Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet dan Polandia. Tugasnya jauh dari seremoni: mengurus pembelian senjata demi pembebasan Irian Barat. Pada 1962, ia dipercaya menjadi Ketua Delegasi RI dalam perundingan Indonesia-Belanda. Di meja diplomasi, Adam Malik dikenal lincah, percaya diri, dan sulit ditebak.
Simak Video "Video Alwi Shihab Usai Bahas Board of Peace: Two State Solution Harga Mati!"
(jat/nwk)