Adam Malik, Diplomat Ber-slogan 'Semua Bisa Diatur'

Mengenal Sosok Menlu Legendaris (1)

Adam Malik, Diplomat Ber-slogan 'Semua Bisa Diatur'

Sudrajat - detikEdu
Rabu, 24 Des 2025 18:00 WIB
Adam Malik, Diplomat Ber-slogan Semua Bisa Diatur
Foto: (Adam Malik saat bertugas mewakili Indonesia di PBB (kiri)/dokumentasi PBB)
Jakarta -

Dalam sejarah Indonesia, jabatan Menteri Luar Negeri bukan cuma posisi administratif tapi adalah wajah republik, penafsir kepentingan nasional, sekaligus penjaga martabat negara di hadapan dunia. Karena itu, menlu-menlu di masa lalu bukan hanya "menjalankan kebijakan", tetapi mendefinisikan arah diplomasi Indonesia.

Dalam kesempatan ini redaksi detikEdu mengajak pembaca untuk mengenal beberapa sosok Menlu legendaris kita, seperti Adam Malik, Prof Mochtar Kusumaatmadja, Ali Alatas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adam Malik dan Seni Mengatur Republik

Berlatar pergerakan dan wartawan menjadikan Adam Malik diplomat ulung yang disegani di dalam negeri dan forum internasional. Ia ceplas-ceplos, tak suka protokoler, tapi semua terasa tetap terukur.

Nama lengkapnya Adam Malik Batubara, tapi publik dan sejarah lebih sering mencatatnya tanpa marga. Ia lahir di Pematang Siantar, 22 Juli 1917, dari rahim Hajjah Siti Salamah. Ayahnya, Haji Abdul Malik, saudagar pakaian yang tergolong berada. Dalam otobiografinya, Mengabdi Republik, Jilid 1: Adam dari Andalas (Gunung Agung, 1979), Adam Malik mencatat bahwa ayahnya adalah "satu-satunya orang di kota itu yang memiliki mobil sedan Buick." Di Pematang Siantar yang masih lengang, Buick bukan sekadar kendaraan tapi penanda kelas sosial dan zaman.

ADVERTISEMENT

Adam Malik tak tumbuh sebagai anak saudagar yang larut dalam kenyamanan. Sejak usia 17 tahun, ia sudah aktif berorganisasi. Rapat, selebaran, dan perdebatan politik lebih menarik perhatiannya ketimbang etalase toko. Naluri politiknya tumbuh lebih cepat daripada usia. Pada Agustus 1945, Adam Malik termasuk para pemuda yang membawa Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok.

Bersama tiga wartawan muda lainnya, Soemanang Soerjowinoto, AM Sipahutar, dan Pandu Kartawiguna, di usia 20 tahun Adam Malik mendirikan Kantor Berita Antara, 13 Desember 1937. Dari pers, ia belajar bahwa kata-kata bisa menjadi senjata politik-dan bahwa kejujuran sering kali membuat kekuasaan merasa tidak nyaman.

Dalam banyak kesempatan, Adam Malik mengaku pemikirannya dibentuk oleh tiga tokoh besar republik: Soekarno, Mohammad Hatta, dan Tan Malaka. Dari Soekarno ia menyerap keberanian mengambil risiko dan kepekaan membaca momentum. Dari Hatta, kejernihan berpikir dan rasionalitas dalam mengambil keputusan. Dari Tan Malaka, keberanian berpikir melampaui pakem dan berani berbeda. Perpaduan ketiganya membentuk Adam Malik sebagai politikus yang lentur-tidak dogmatis, tapi juga tidak naif.

Kelenturan itulah yang kelak tampak dalam karier diplomatiknya. Pada 1959, Presiden Soekarno mengangkat Adam Malik sebagai Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet dan Polandia. Tugasnya jauh dari seremoni: mengurus pembelian senjata demi pembebasan Irian Barat. Pada 1962, ia dipercaya menjadi Ketua Delegasi RI dalam perundingan Indonesia-Belanda. Di meja diplomasi, Adam Malik dikenal lincah, percaya diri, dan sulit ditebak.

Tanggal 27 Maret 1966, Soeharto menunjuk Adam Malik sebagai Menteri Luar Negeri. Tiga hari kemudian, ia menyebut tugas pertamanya: mengakhiri konfrontasi dengan Malaysia. Ia pula yang membawa Indonesia kembali menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa setelah sebelumnya keluar di era Soekarno.

Puncak kiprahnya di panggung global terjadi ketika Adam Malik menjabat Ketua Sidang Umum PBB pada 1971-1972. Dalam periode itu, ia memainkan peran penting dalam masuknya Republik Rakyat China ke PBB, menggantikan Taiwan-sekaligus mengambil alih hak veto di Dewan Keamanan. Sikap ini tidak sepenuhnya sejalan dengan pandangan Presiden Soeharto yang kala itu masih bersikap dingin terhadap Cina.

Kepada sahabatnya, Situ Meisheng -mantan wartawan Jakarta yang memiliki akses langsung ke Beijing- Adam Malik bercerita. Dalam pertemuan di Hong Kong, sebelum berangkat ke Markas PBB di New York, ia menyebut Soeharto meminta Indonesia abstain dan mendukung gagasan 'dua China' di PBB. Adam Malik menolak setengah hati. Seperti dikutip Kompas (4 Januari 2021), ia berprinsip, "Hanya dengan satu China bisa dicapai kestabilan Asia dan dunia."

Sikap itu kembali muncul ketika ia menjabat Wakil Presiden. Adam Malik mengusulkan agar Indonesia segera membuka kembali hubungan diplomatik dengan Cina yang terputus pasca Gerakan 30 September 1965. Usul yang membuat kikuk Soeharto.

"Waktu itu kita masih membatasi," ujar Soeharto, dikutip dalam buku Wapres: Pendamping atau Pesaing karya Roy BB Janis. "Tetapi pernyataan Bung Adam seolah-olah hal itu akan kita lakukan tahun depan. Pernyataan Bung Adam itu merupakan jawaban yang menyulitkan. Jiwa wartawan rupanya sudah jadi darah daging Bung Adam. Jadinya agak susah."

Pemulihan hubungan dengan China baru diwujudkan enam tahun setelah kepergian Adam Malik. Tepatnya pada 8 Agustus 1990 yang ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding antara Indonesia dan RRC. Abdurrachman Gunadirdja menjabat duta besar pertama yang bertugas di Beijing, 1990-1994.

Di kawasan Asia Tenggara, Adam Malik tercatat sebagai salah satu arsitek berdirinya ASEAN. Bersama para menteri luar negeri negara tetangga, ia mendeklarasikan organisasi itu di Bangkok pada 1967-sebuah ikhtiar menjaga stabilitas kawasan yang rapuh oleh konflik dan kecurigaan.

Di lingkungan diplomatik internasional, Adam Malik dijuluki Si Kancil. Bukan karena tubuhnya kecil, melainkan karena kecerdikannya dalam memberikan jawaban dan menyiasati persoalan yang rumit. Ia punya sense of humor yang tinggi dan terbiasa bicara ceplas-ceplos tapi tetap terukur.

Dalam forum-forum internasional, ia dengan kalem seraya menyunggingkan senyum biasa berujar, "Everything can be arranged." Diplomasi adalah seni kompromi dan negosiasi. Tapi di republik yang terbiasa mengaburkan batas antara kompromi dan kompromistis, jargon itu sekaligus menjadi kritik-bahwa terlalu banyak hal di negeri ini "bisa diatur" bukan dengan aturan tapi uang dan kekuasaan.

Setahun setelah berhenti menjabat sebagai Wakil Presiden, Adam Malik wafat di Bandung pada 5 September 1984. Jejaknya sebagai diplomat ulung yang disegani dunia tampak jelas ketika Sidang Majelis Umum PBB, 17 September 1984, dibuka dengan mengheningkan cipta untuk mengenang kepergiannya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Alwi Shihab Usai Bahas Board of Peace: Two State Solution Harga Mati!"
[Gambas:Video 20detik]
(jat/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads