Ditemukan Mural 3D Warna-warni Berusia 3.000 Tahun di Peru!

ADVERTISEMENT

Ditemukan Mural 3D Warna-warni Berusia 3.000 Tahun di Peru!

Nograhany Widhi Koesmawardhani - detikEdu
Sabtu, 30 Agu 2025 10:00 WIB
Mural 3D berusia 3.000 tahun di Peru
Foto: (Pontificia Universidad Catolica del Peru)
Jakarta -

Ditemukan mural 3 dimensi (3D) berwarna-warni di Peru berusia 3.000 tahun! Ternyata, selera estetika manusia di era itu sudah 'secanggih' ini.

Mural warna-warni yang ditemukan di Peru ini mengungkap tradisi seni pesisir pra-Inca, demikian dilansir dari Live Science, Jumat (29/8/2025).

Para arkeolog menemukan mural 3D raksasa ini tepatnya di pesisir barat laut Peru. Selain 3D, mural ini juga warna-warni.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cat berwarna biru, kuning, merah, dan hitam masih menghiasi mural berusia 3.000 tahun ini. Ada gambar ikan, bintang, dan makhluk mitologi.

ADVERTISEMENT

"Citra, teknik dekoratif, dan kondisi preservasi yang luar biasa menjadikan ini penemuan yang sungguh tak tertandingi di wilayah ini," ujar Cecilia Mauricio, seorang arkeolog di Universitas Katolik Kepausan Peru yang menemukan mural itu.

Mauricio dan timnya mulai menggali di situs arkeologi Huaca Yolanda pada awal Juli 2025 lalu. Selama pekan pertama penggalian, mereka menemukan mural yang berasal dari Periode Formatif (2000-1000 SM), dinamai demikian karena masyarakat kompleks pertama muncul di wilayah yang sekarang disebut Peru pada masa itu. Mural tersebut memiliki panjang hampir 6 meter dan tinggi 2,9 meter.

"Bagian selatan mural menggambarkan seekor burung besar dengan sayap terentang dan motif berlian di kepalanya, kemungkinan mewakili seekor elang atau alap-alap. Di bagian utara, terdapat tumbuhan, bintang, dan figur mirip manusia yang 'tampaknya mewakili dukun' yang merupakan orang-orang berkuasa pada masa itu," urai Mauricio.

Bukti yang ada saat ini, imbuh dia, menunjukkan bahwa mural tersebut menghiasi ruang-ruang interior di atrium utama sebuah kuil dari Periode Formatif.

Huaca Yolanda kemungkinan dihuni pada masa yang sama dengan ChavΓ­n de HuΓ‘ntar, sebuah situs ritual utama di Andes sebelum berdirinya Kekaisaran Inca.

Peradaban ChavΓ­n terletak di dataran tinggi dan mengembangkan teknik pertanian, metalurgi, dan produksi tekstil yang canggih. Orang-orang di situs ini meninggalkan mural yang menggambarkan jaguar dan reptil predator di dataran rendah hutan.

Namun, mural di Huaca Yolanda berbeda dari mural yang ditemukan di ChavΓ­n karena mencerminkan tradisi seni pesisir yang khas, termasuk citra ikan dan jaring ikan.

Tidak seperti Chavin, Huaca Yolanda bukanlah situs arkeologi yang dilindungi secara resmi. Dalam pernyataan dari Universitas Kepausan Katolik Peru, Mauricio meminta Kementerian Kebudayaan Peru, otoritas regional, dan organisasi warisan budaya untuk melindungi situs tersebut guna melestarikan jendela langka ini ke masa lalu yang formatif dan canggih.




(nwk/faz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads