Teknologi artificial intelligence atau AI semakin canggih penerapannya dalam berbagai bidang. Kali ini, dalam bidang arkeologi, AI diketahui sudah bisa membaca teks kuno yang memiliki kata-kata Yunani.
Temuan ini dilakukan oleh seorang mahasiswa ilmu komputer di Universitas Nebraska-Lincoln, Luke Farritor. Ia mengembangkan algoritma pembelajaran mesin yang telah mendeteksi huruf Yunani pada beberapa baris gulungan papirus, termasuk ΟΞΏΟΟΟ ΟΞ±Ο (porphyrias), yang berarti 'ungu'.
Farritor juga menggunakan perbedaan tekstur permukaan yang halus dan berskala kecil untuk melatih jaringan sarafnya dan menyorot tinta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat saya melihat gambar pertama, saya terkejut," kata Federica Nicolardi, ahli papirus di Universitas Naples di Italia dan anggota komite akademik yang meninjau temuan Farritor, dikutip dari situs Nature.
"Itu adalah mimpi yang luar biasa. Saya benar-benar dapat melihat sesuatu dari dalam sebuah gulungan," imbuhnya.
Pertama Kali AI Bisa Membaca Teks Kuno
Berkat temuan ini, mahasiswa berusia 21 tahun itu berhasil memenangkan kontes global untuk AI yang bisa membaca teks pertama di dalam gulungan berkarbonasi dari kota Romawi kuno Herculaneum.
Pada 12 Oktober, penyelenggara mengumumkan bahwa Farritor telah memenangkan hadiah 'huruf pertama' sebesar $40.000 atau sekitar Rp 634 juta karena membaca lebih dari 10 karakter dalam papirus seluas 4 sentimeter persegi.
Sebelumnya, gulungan ini tidak dapat dibaca sejak letusan gunung berapi pada tahun 79 M. Begitupun dengan teks yang sama yang terkubur di dekatnya yakni Pompeii.
Terobosan Farritor ini dapat membuka ratusan teks dari satu-satunya perpustakaan utuh yang bertahan dari zaman kuno Yunani-Romawi.
Gulungan Ditemukan pada Abad 18
Sejarawan Yunani kuno dan Roma di Universitas Ca' Foscari Venezia, Italia, Thea Sommersield mengatakan, gulungan papirus kuno itu pertama ditemukan pada abad kedelapan belas, ketika para pekerja menemukan sisa-sisa sebuah villa mewah yang diduga milik keluarga ayah mertua Julius Caesar.
"Untuk akhirnya melihat huruf dan kata di dalam sebuah gulungan adalah 'sangat menarik'," ucapnya.
Dengan mengartikan papirus tersebut, kata Sommersield, dapat merevolusi pengetahuan kita tentang sejarah dan sastra kuno. Sebab, sebagian besar teks klasik yang dikenal saat ini adalah hasil penyalinan berulang kali oleh para ahli Taurat selama berabad-abad.
Hingga saat ini, para peneliti hanya dapat mempelajari fragmen terbuka. Beberapa karya Latin telah diidentifikasi, tetapi sebagian besar berisi teks-teks Yunani yang berkaitan dengan aliran filsafat Epicurean.
Tantangan untuk Membaca Teks Kuno
Meski begitu, sejak lama ilmuwan mengatakan bahwa membaca gulungan utuh masih merupakan tugas besar.
Brent Seales, seorang ilmuwan komputer yang membantu mendirikan Vesuvius Challenge, dan timnya menghabiskan waktu bertahun-tahun mengembangkan metode untuk "membuka" lapisan tipis tersebut menggunakan pemindaian tomografi komputer (CT) sinar-X, dan memvisualisasikannya sebagai serangkaian gambar datar.
Pada tahun 2016, Seales, yang berada di Universitas Kentucky di Lexington, melaporkan telah menggunakan teknik tersebut untuk membaca gulungan hangus dari En-Gedi di Israel.
Hasilnya ia dan tim mengungkap bagian dari Kitab Imamat yakni bagian dari Taurat Yahudi dan Perjanjian Lama Kristen, yang ditulis pada abad ketiga atau keempat Masehi.
Namun tinta pada gulungan En-Gedi mengandung logam, sehingga bersinar terang pada CT scan. Tinta pada gulungan Herculaneum yang lebih tua berbahan dasar karbon, pada dasarnya arang dan air, dengan kepadatan pemindaian yang sama dengan papirus yang ditempatinya, sehingga tidak muncul sama sekali.
"Kami semua sepakat bahwa kami lebih memilih membaca apa yang ada di dalamnya lebih awal, daripada mencoba menimbun semuanya," kata Seales.
Kini, Seales berharap pembelajaran mesin (AI) akan membuka apa yang disebutnya "perpustakaan tak terlihat". Ini mengacu pada teks yang ada secara fisik, tetapi tidak ada yang bisa melihatnya, termasuk perkamen yang digunakan dalam penjilidan buku abad pertengahan.
Namun untuk saat ini, semua perhatian tertuju pada Vesuvius Challenge. Farritor membuktikan telah menjalankan modelnya di segmen lain dari gulungan tersebut dan melihat lebih banyak karakter muncul.
(faz/nah)