Riset: Bangsa Kanaan Sudah Pakai Perak Jadi Mata Uang Sejak 37 Abad Lalu

Riset: Bangsa Kanaan Sudah Pakai Perak Jadi Mata Uang Sejak 37 Abad Lalu

Nograhany Widhi Koesmawardhani - detikEdu
Senin, 09 Jan 2023 20:30 WIB
Uang perak di masa bangsa Kanaan kuno
Hacksilber, potongan perak tak beraturan untuk alat tukar/uang bangsa Kanaan kuno. Foto: (Badan Kepurbakalaan Israel)
Jakarta -

Bangsa Kanaan kuno yang mendiami kawasan Kanaan (kini Timur Tengah) ternyata memakai perak sebagai mata uang. Ilmuwan menemukan, perak menjadi mata uang sudah terjadi pada 3.700 tahun lalu.

Kawasan Kanaan kuno, kini meliputi Israel, Palestina, sebagian Yordania, Suriah dan sebagian kecil Mesir, menurut Britannica, atau yang kini disebut kawasan Levant bagian selatan.

Ilmuwan menemukan bahwa penggunaan potongan perak, wol domba, biji-bijian, dan benda lain sebelum zaman ada mata uang tampaknya bermula dari milenium ketiga Sebelum Masehi (SM) di Anatolia, Mesopotamia, dan Suriah, berdasarkan catatan dan penemuan arkeologi, demikian dilansir Haaretz, Minggu (8/1/2023), seperti dikutip detikEdu, Senin (9/1/2023).

Awalnya, ilmuwan menduga bahwa praktik menggunakan perak sebagai mata uang di Levant selatan, termasuk wilayah yang kini jadi negara Israel, bermula pada Zaman Besi, sekitar 3.200 tahun lalu. Namun, temuan ilmuwan menunjukkan bukti lebih awal, 3.700 tahun lalu atau di pertengahan Zaman Perunggu, berdasarkan temuan di Israel dari periode itu termasuk di kawasan Megiddo, Gezer dan Shiloh.

Untuk lebih jelasnya, perak untuk penggunaan non-moneter, dalam perhiasan dan bejana, mulai mengalir ke Levant selatan lebih awal. Timbunan perak tertua yang ditemukan di Israel berada di situs pemujaan di Nahariya, utara Israel, dan berasal dari awal Zaman Perunggu Tengah sekitar 4.000 tahun yang lalu.

Namun, timbunan perak itu tidak berbau pertukaran nilai. Penimbunan itu terdiri dari patung-patung lembaran perak, perkakas logam, lembaran tipis, dan skrap - tampaknya untuk pengerjaan logam, bukan untuk membayar apa pun, tulis tim ilmuwan Israel tersebut. Timbunan perak awal serupa yang dianggap tidak memiliki ciri penggunaan komersial juga ditemukan di permukiman Israel utara seperti Dan, Beth She'an, Megiddo, dan Gezer.

Bukti Mata Uang Perak

Bukti lokal paling awal untuk perak sebagai mata uang adalah timbunan perak yang ditemukan di Shiloh, di Gezer dan situs yang disebut Tell el-'Ajjul (kini Israel utara), yang sedikit maju dari Zaman Perunggu Tengah - periode yang ditandai dengan urbanisme.

Bagaimana cara membedakan timbunan perak kuno untuk penggunaan komersial atau nonkomersial ribuan tahun yang lalu? Ini masalah kesimpulan. Timbunan yang ditemukan di Gezer, Shiloh, dan Tell el-'Ajjul tidak termasuk perkakas pandai besi, tidak ditemukan dalam konteks bengkel, dan terdiri dari artefak yang bengkok atau rusak. Hal itu menunjukkan bahwa perak di dalamnya ditimbun untuk nilai intrinsik.

Potongan-potongan perak kuno yang tidak standar dan rusak secara estetika digunakan untuk perdagangan ribuan tahun lalu disebut hacksilber (kata Jerman untuk potongan perak yang dipotong).

Para ilmuwan menambahkan, meski peleburan tembaga mungkin telah dimulai di Israel pada 6.500 tahun yang lalu (atau bahkan lebih awal di tempat lain), perak tidak diproduksi secara lokal. Setiap perak yang ditemukan di Israel harus diimpor, termasuk di Zaman Perunggu dan Besi, karena Israel memiliki bijih tembaga (tambang Raja Solomon), tetapi tidak ada perak.

Bahan Baku dari Tempat Lain

Dari mana bangsa Kanaan alias warga Levant kuno dulu mendapatkan perak? Turki.

"Perak tidak muncul secara alami di Levant dan karena itu menyimbolkan perdagangan jarak jauh, biasanya maritim," demikian kesimpulan para ilmuwan itu.

Orang dahulu akan memperdagangkan logam sebagai batangan, yang ditemukan dari bangkai kapal di Mediterania. Perak paling awal yang ditemukan di selatan Levant tampaknya berasal dari Anatolia pada Zaman Perunggu Tengah, menurut analisis isotop timbal dalam perak. Menjelang Zaman Perunggu Akhir, penemuan di Tell el-'Ajjul menunjukkan bahwa sumbernya sedikit bergeser ke lingkup Anatolia-Aegea-Karpatia.

Dalam salah satu ironi kecil itu, Mesopotamia memang memiliki bijih perak. Namun, tampaknya penduduk setempat tidak mengetahuinya karena mereka juga mengimpor perak dari Anatolia di Zaman Perunggu.

Sebagai gantinya, warga Mesopotamia akan memasok bijih timah, tekstil, dan barang lainnya, demikian disimpulkan ilmuwan dari catatan para pedagang Asiria di antara sekitar 23.500 tablet yang ditemukan di K├╝ltepe-Kanesh di Cappadocia, Anatolia tengah, dari abad ke-18 SM.

Kembali di Israel, perak yang ditemukan di Tell el-'Ajjul tampaknya memiliki jenis yang sama dengan yang ada di kawasan Royal Shaft Grave di Mycenae, Peloponnese, Yunani. Pemikiran mereka adalah bahwa perak di kedua tempat itu berasal dari sumber yang sama, mungkin melalui mesin logam awal di Siprus.

Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa kapal berlayar di pantai Mediterania sepanjang Zaman Perunggu Tengah. Dan meskipun Levant bukanlah target utama dibandingkan dengan, misalnya, Mesir, mereka mengandaikan bahwa pengiriman terjadi antara Levant dan Anatolia.

Dalam kasus penimbunan keping perak untuk tujuan komersial, masuk akal untuk berasumsi bahwa penimbunan terungkap setelah ribuan tahun karena pemiliknya terbunuh sebelum memiliki kesempatan untuk menggunakannya, atau untuk memulihkannya setelah melarikan diri dari musuh perampok.

Namun, beberapa harta akan tetap berada di tempat mereka ditempatkan, seperti deposit dasar - terkubur di bawah fondasi rumah untuk menyuap kekuatan supernatural untuk melindungi rumah. Seperti penimbunan yang ditemukan di Gezer, misalnya.

Uang perak di masa bangsa Kanaan kunoTumpukan cacahan perak yang ditemukan di Tell el 'Ajjul diduga kuat jadi alat tuker di masa bangsa Kanaan kuno Foto: (Badan Kepurbakalaan Israel)

Pemalsuan Uang Perak

Penimbunan sebelum keruntuhan besar peradaban Zaman Perunggu di sekitar Mediterania, 3.200 tahun yang lalu, hampir merupakan perak murni. Tapi timbunan yang berasal dari rentang keruntuhan telah diolah dengan tembaga murah alias dioplos, dan asumsinya adalah ada perilaku ketidakjujuran di sini. Karena pecahan perak yang digunakan dalam perdagangan tidak seragam dalam bentuk atau ukuran, jumlah perak sebenarnya yang terkandung di dalamnya sangat penting untuk bisnis yang adil, jelas para ilmuwan.

Orang bertanya-tanya apakah pemalsuan mata uang juga dimulai lebih awal dari yang diharapkan, katakanlah, di Zaman Perunggu, ketika hacksilber sudah mulai digunakan. Para ilmuwan ini juga mengajukan hipotesa bahwa ada rute perdagangan maritim antara Anatolia dan Levant pada 1.700-1550 SM.

Studi para ilmuwan Israel: Tzilla Eshel, Ayelet Gilboaa, Tiroshc Yigal Erel dan Naama Yahalom-Mack tentang perak jadi mata uang ini ini sudah diterbitkan di jurnal Science Direct berjudul "The earliest silver currency hoards in the Southern Levant: Metal trade in the transition from the Middle to the Late Bronze Age" pada Januari 2023 ini.



Simak Video "Kisah Kolektor Uang Kuno di Parepare"
[Gambas:Video 20detik]
(nwk/twu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia