Riwayat Masjid Al-Qiblatain, Saksi Perpindahan Arah Kiblat

Riwayat Masjid Al-Qiblatain, Saksi Perpindahan Arah Kiblat

Devi Setya - detikEdu
Jumat, 30 Sep 2022 07:30 WIB
Masjid Al-Qiblatain
Masjid Al-Qiblatain Foto: Getty Images/iStockphoto/gururugu
Jakarta -

Masjid Al-Qiblatain menjadi salah satu tempat tujuan umat muslim yang berkunjung ke Madinah. Bangunan ini adalah saksi perpindahan arah kiblat dari sebelumnya di Masjid Al-Aqsa di Palestina ke Masjidil Haram.

Dikutip dari Arab News, Masjid Al-Qiblatain artinya dua arah kiblat. Masjid ini dibangun dua tahun setelah Rasulullah SAW tiba di Madinah. Awalnya, masjid ini bernama Masjid Bani Salamah.

Kedatangan Rasulullah SAW beserta beberapa sahabat ke Salamah bertujuan untuk menenangkan Ummu Bishr binti al-Bara yang ditinggal mati keluarganya. Saat itu bertepatan dengan bulan Rajab tahun 2 Hijriyah.

Dikutip dari laman resmi Kementerian Agama (Kemenag), Masjid Al-Qiblatain terletak di Quba, tepatnya di atas sebuah bukit kecil di sebelah utara Harrah Wabrah, Madinah. Masjid ini terletak sekitar 7 kilometer dari Masjid Nabawi di Madinah.

Peristiwa Perubahan Arah Kiblat

Pada kunjungannya ini, Rasulullah SAW mendirikan salat Zuhur di Masjid Bani Salamah. Beliau menjadi imam yang diikuti para sahabat dan masyarakat sekitar sebagai makmum.

Dua rakaat pertama salat Zuhur masih menghadap Baitul Maqdis (Palestina), sampai akhirnya malaikat Jibril menyampaikan wahyu pemindahan arah kiblat. Wahyu ini diturunkan ketika Rasulullah SAW baru menyelesaikan rakaat kedua.

Allah SWT berfirman lewat sebuah ayat Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 144:


قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ


Artinya: "Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Allah dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." (Al-Baqarah: 144).

Begitu menerima wahyu ini, Rasulullah SAW langsung berpindah 180 derajat, diikuti oleh semua jamaah melanjutkan salat Zuhur menghadap Masjidil Haram. Proses perpindahan arah kiblat ini terbilang singkat karena Rasulullah SAW tetap melanjutkan salat pada rakaat berikutnya dengan arah kiblat baru.

Sejak saat itu, kiblat umat Islam berpindah dari Baitul Maqdis, Palestina menuju Masjidil Haram. Peristiwa ini menjadikan Masjid Bani Salamah dikenal sebagai Masjid Qiblatain atau Masjid Dua Kiblat.­­­

Sejarah Awal Arah Kiblat

Jika dirunut sejarahnya, kiblat salat untuk semua nabi adalah Baitullah di Mekah yang dibangun pada masa Nabi Adam AS. Hal ini pun tercantum dalam Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 96:

اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَۚ

Artinya: "Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia ialah Baitullah di Mekah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia."

Sementara itu, Al Quds (Baitul Maqdis) ditetapkan sebagai kiblat untuk sebagian dari para nabi dari bangsa Israel. Al Quds berada di sebelah Utara. Adapun Baitullah di Makkah di sebelah selatan sehingga keduanya saling berhadapan.

Namun setelah peristiwa di Masjid Al-Qiblatain, arah kiblat semua berpusat pada satu titik yakni ke Baitullah, Makkah.

Sebagai saksi sejarah, di dalam bangunan Masjid Al-Qiblatain terdapat dua arah mihrab. Satu mihrab menghadap ke Makkah, sementara satu lagi menghadap ke Palestina.

Struktur Bangunan Masjid Al-Qiblatain

Pada bangunan awal, masjid ini menggunakan material yang sederhana seperti bata lumpur dan pelepah serta batang kelapa. Namun seiring berjalannya waktu, masjid ini mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan.

Perluasan pertama terjadi selama era Khalifah Umar bin Abdulaziz pada tahun 706 H. Meskipun mengalami renovasi berkali-kali, tetapi selama hampir 800 tahun, ukuran masjid tidaklah berubah.

Raja Abdulaziz pada awal 1930-an juga memerintahkan untuk melakukan renovasi untuk masjid ini. Perbaikan masjid meliputi pembangunan menara, tembok sekitar masjid, dan perluasan area masjid menjadi 425 meter persegi.

Setelah direnovasi oleh pemerintah Arab Saudi, masjid ini hanya fokus pada satu mihrab saja, yakni yang menghadap ke Ka'bah, Makkah.


Pada bagian atap masjid, terdapat dua kubah kembar yang memiliki ukuran berbeda. Kubah utama yang menunjukkan arah kiblat saat ini, sementara kubah masjid yang lebih kecil dijadikan sebagai pengingat arah kiblat masa lalu.

Di bagian interior masjid ini terdapat garis silang kecil yang menunjukkan transisi perpindahan arah kiblat. Sementara di bawahnya, terdapat replika mihrab tua yang menyerupai ruang bawah kubah batu di Yerusalem dengan nuansa tradisional.

Setiap tahunnya, banyak umat muslim dari berbagai negara datang menyambangi masjid ini. Selain sebagai pengingat sejarah, masjid ini masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah.



Simak Video "5 Fakta Masjid Sheikh Zayed Solo Hadiah untuk Jokowi"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/twu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia