Kita Tak Selalu Bisa Lihat Hidung Sendiri, Begini Penjelasan Ilmiahnya

Kita Tak Selalu Bisa Lihat Hidung Sendiri, Begini Penjelasan Ilmiahnya

Anisa Rizki Febriani - detikEdu
Sabtu, 24 Des 2022 13:00 WIB
ilustrasi hidung
Foto: thinkstock
Jakarta -

Detikers pernah coba melihat hidung dalam pandangan lurus tanpa bantuan cermin? Meskipun pernah, pasti tidak seluruh permukaan hidung dapat terlihat dengan jelas.

Seluruh organ indra yang dimiliki manusia, mulai dari penciuman, penglihatan, perasa, hingga pendengaran akan menginformasikan otak tentang dunia luar.

Hal tersebut menjadi cara otak untuk selalu mengetahui apa saja yang sedang terjadi di sekitar kita. Jadi, dapat dikatakan bahwa otak selalu memperhatikan semua yang dilakukan oleh indra.

Melansir Science ABC, otak memiliki satu fakta unik yaitu mengabaikan hal-hal yang tidak berguna. Berkaitan dengan itu, otak sering mengabaikan hidung. Padahal, hidung memiliki peran penting.

Jadi, Kenapa Otak Mengabaikan Hidung?

Otak mengabaikan rangsangan sensorik tertentu untuk memperhatikan hal-hal yang dianggap lebih penting. Walau begitu, kita masih bisa melihat hidung ketika konsentrasi.

Perhatian selektif merupakan proses yang memungkinkan seseorang untuk memilih dan fokus pada input tertentu untuk diproses lebih lanjut sambil secara bersamaan menekan informasi yang tidak relevan atau mengganggu.

Perhatian selektif yang dilakukan oleh otak ketika mengabaikan hidung, dapat diibaratkan seperti fokus saat memperhatikan percakapan dengan teman di tengah keramaian pesta atau musik yang berisik.

Apa Alasan Otak Melakukan Hal Tersebut?

Bayangkan jika seluruh informasi sensorik diperlakukan sama, pasti kita tidak bisa menyelesaikan hal-hal yang sedang dilakukan.

Organ indra kita akan terus menerus bekerja, seperti mata yang berkedip, hidung yang bernapas, dan mungkin merasakan detak jantung.

Otak mampu memutuskan mana saja yang harus diabaikan dan diperhatikan. Dalam pikiran alam bawah sadar, otak manusia akan memilih secara selektif mana saja yang penting berdasarkan prasangka dan preferensi kita.

Menguji Tingkat Bias Selektivitas dalam Penelitian

Untuk menguji bagaimana cara otak memilih secara selektif, para ilmuwan menguji tingkat bias selektivitas dalam sebuah penelitian dengan menunjukkan dua jenis gambar yang berbeda kepada sejumlah peserta.

Satu gambar adalah objek netral, seperti lampu, sementara gambar lainnya adalah adegan berdarah dan kekerasan.

Hasil dari studi menyimpulkan bahwa gambar berdarah lebih menarik perhatian ketimbang gambar netral yang dianggap monoton.

Peneliti mencatat, objek yang menyebabkan reaksi emosional langsung akan membuat perhatian manusia lebih tertuju. Di sisi lain, sesuatu yang umum dan biasa mudah diabaikan oleh pikiran kita agar kita lebih fokus pada tugas yang lebih penting, pun seperti melihat hidung kita sendiri secara langsung.

Jadi dapat disimpulkan bahwa penelitian mengenai otak manusia masih menjadi misteri. Organ vital ini sangat luar biasa, tidak hanya bekerja keras tetapi juga membuat kita tetap hidup, serta memastikan kita tidak dikuasai oleh informasi eksternal yang sangat banyak.

Mengabaikan hidung dan membuat kita tidak bisa melihatnya memungkinkan otak untuk lebih selektif dalam memperhatikan apa yang menurutnya penting dan mengabaikan informasi yang tidak berguna.



Simak Video "Dialami Indra Bekti, Simak Pengertian dan Gejala Perdarahan Otak"
[Gambas:Video 20detik]
(aeb/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia