Rekomendasi Dongeng Sebelum Tidur yang Mengandung Pesan Moral

Rekomendasi Dongeng Sebelum Tidur yang Mengandung Pesan Moral

Putri Tiah Hadi Kusuma - detikEdu
Jumat, 09 Des 2022 18:00 WIB
Hari Dongeng Nasional 28 November
Foto: Getty Images/iStockphoto/globalmoments/Ilustrasi Rekomendasi Dongeng Sebelum Tidur yang Mengandung Pesan Moral
Jakarta -

Mendongeng merupakan sesuatu kegiatan yang lazim dilakukan oleh para orangtua sebelum mengantar tidur anak-anak mereka. Namun, seiring dengan pesat perkembangan teknologi, ditambah dengan faktor kesibukan para orangtua membuat tradisi ini banyak ditinggalkan.

Padahal, mendongengkan sebuah cerita kepada anak sebelum tidur dapat memberikan manfaat seperti, mendorong terbukanya cakrawala pemikiran anak, menumbuhkan minat membaca, dan sejalan pertumbuhan jiwa anak, mereka akan mendapat sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya dan dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Oleh karena itu, para orang tua harus pandai memilih dongeng yang sesuai dengan usia anak serta mengandung pesan moral dan pendidikan. Demikian dikutip dari jurnal ilmiah "Dongeng, Mendongeng, dan Manfaatnya" oleh Rukiyah.

Contoh Dongeng Sebelum Tidur

Berikut ada beberapa dongeng anak, seperti dikutip dari buku 101 Dongeng Sebelum Tidur oleh Redy Kuswanto dan buku Dongeng Seru Sebelum Tidur (Hewan & Tumbuhan) oleh Novi Anggraheni, di antaranya:

1. Keledai Pemalas

Mengisahkan seorang pedagang garam yang memiliki seekor keledai. Pada suatu hari, keledai itu berujar bosan karena terus mengangkut garam di punggungnya.

Si pedagang akan menjual garam ke pasar. Ia menumpuk berkarung-karung garam di punggung keledainya. Keledai itu sangat pemalas.

"Aku muak mengangkut barang, terutama garam ini," kata keledai pada dirinya sendiri. "Aku akan berpura-pura jatuh ke sungai agar aku bisa menyingkirkan muatan-muatan ini."

Untuk menuju ke kota, mereka harus menempuh jalan di dekat lereng bukit yang licin. Ketika mereka melewati lereng itu, Keledai berpura-pura jatuh ke sungai. Air sungai melarutkan semua garam di dalam karung. Beban pun menjadi berkurang.

Pedagang yang malang itu kembali ke rumahnya. Ia akan kembali menumpuk karung-karung garam ke punggung Keledai. Saat mendaki lereng bukit untuk kedua kalinya, keledai dengan sengaja membuat dirinya terpeleset dan jatuh. Keledai tertawa di dalam hatinya.

Si pedagang sudah tahu kenakalan keledai. "Baiklah, Keledai pemalas. Kau pikir dirimu lebih pintar. Aku akan memberimu pelajaran," kata si pedagang.

Pada perjalanan berikutnya, si pedagang meletakan karung-karung kapas di punggung keledai. Walaupun muatannya ringan, si Keledai tetap ingin mengurangi bebannya. Maka, ia akan kembali menjatuhkan diri ke sungai. Tentu saja, kapas di punggungnya menjadi jauh lebih berat ketika basah. Ia pun berusaha lebih kuat. Keledai malas itu pun kena batunya.

Pesan moral dalam dongeng ini untuk jangan suka berbuat licik. Lakukanlah tugas sesuai kemampuan diri sendiri.

2. Hujan Uang

Mengisahkan seorang pemuda, yang pada suatu hari ketika hujan turun. Ia meminta doa kepada Tuhan untuk menurunkan hujan uang.

Seorang pemuda harus bekerja keras setiap hari untuk memenuhi segala kebutuhannya. Tapi sayang, uang yang dihasilkan tidak banyak. Uang itu hanya cukup untuk membeli makan setiap hari. Padahal, si pemuda memiliki banyak keinginan. Ia ingin membeli baju baru. Ia ingin memakan makanan enak. Ia ingin membeli kendaraan bagus. Ia ingin banyak hal.

Bertahun-tahun ia bekerja, tapi hasilnya sama saja. Hingga kini, ia belum juga mampu membeli apa yang ia inginkan. Apalagi, sekarang musim hujan. Ia harus sering libur karena hujan. Air hujan menggenangi jalan, ia pun tidak bisa keluar rumah. Uang di tabungannya pun kian menyusut. Ia ingin sekali hujan air berubah menjadi uang. "Tuhan, tolong turunkan hujan uang."

Tak lama, air tidak turun lagi dari langit. Gemuruh menghilang seketika. Angin ribut pun berhenti. Mendung telah pergi dan lembaran-lembaran uang turun dari langit. Uang-uang itu berterbangan ke seluruh negeri. Doa si pemuda terkabul. Si pemuda pun berlari keluar rumah dan memunguti uang-uang itu dengan hati gembira.

"Terima kasih, Tuhan. Engkau benar-benar menurunkan hujan uang untukku," ujar si pemuda penuh sukacita.

Semalaman dia tidak bisa tidur karena terlalu senang. Rumahnya kini penuh dengan lembaran-lembaran uang. Tas, kendi, meja, kursi dan tempat tidurnya penuh dengan uang.

Keesokan harinya, si pemuda pergi ke pasar. Ia menggendong sekarung uang. Ia ingin membeli banyak hal dengan uang yang ia miliki sekarang. Pertama-tama, ia akan pergi ke rumah makan.

"Aku ingin makan makanan yang paling enak di rumah makan ini," ujar si Pemuda.

"Maaf, aku sudah tidak jualan lagi. Aku sudah kaya sekarang. Aku sudah punya banyak uang. Aku sudah tidak membutuhkan uang darimu lagi," tolak pemilik rumah.

Rupanya pemilik rumah makan pun telah memiliki banyak uang. Lalu, si pemuda pergi ke toko baju. Ia ingin membeli baju yang bagus. Tapi sayang, penjual baju menolak menjual dagangannya karena ia juga telah memiliki banyak uang.

Semua orang di negeri ini bersuka cita berkat turunnya hujan uang. Kini, mereka semua memiliki uang yang banyak. Mereka berhenti bekerja. Si pemuda pun terus mencari pedagang yang masih menerima uangnya. Namun, mereka semua menolak dengan alasan yang sama. Ia pun menyesal telah meminta hujan uang. Meskipun, sekarang uangnya banyak, tapi uang itu sama sekali tidak berguna.

Pesan moral dalam dongeng anak ini, mengajarkan untuk selalu bersyukur dan tidak mengeluh dengan apa yang telah Tuhan berikan.

3. Menepati Janji

Dongeng anak ini mengisahkan tentang dua kelinci yang bersahabat bernama Ila dan Oci. Suatu ketika, Ila akan hendak pergi menjenguk neneknya sebelum pergi, ia menitipkan wortelnya kepada Oci.

Ila akan pergi ke luar ke luar kota selama beberapa hari. Ia akan menengok neneknya bersama orang tuanya. Sebelum pergi, Ila menemui Oci, temannya. Sembari berpamitan, ia menitipkan wortel. Ila dan Oci adalah dua kelinci yang menyukai wortel.

"Oci, aku titip wortelku, ya. Tolong simpankan wortel ini untukku...," pinta Ila dengan ramah.

"Iya, aku berjanji akan menjaga wortel Ila," kata Oci.

Ila pun dapat pergi ke luar kota dengan tenang. Ila berjanji akan mengambil wortel ini beberapa hari yang akan datang. Selama itu pula, Oci akan menjaga wortel itu dengan baik.

Berhari-hari Ila pergi. Oci pun memenuhi janjinya untuk menjaga wortel itu. Pernah ketika adiknya hampir memakan wortel itu, Oci memarahinya habis-habisan. Ia melarang siapapun untuk mendekati wortel itu. Oci berusaha menjaga amanah dari temannya dengan baik.

Ila bilang hanya akan pergi beberapa hari untuk menengok neneknya. Tapi ini sudah hampir satu minggu, namun tidak kunjung pulang. Padahal, wortel itu benar-benar akan membusuk. Tapi, ia juga tidak mau mengingkari janjinya kepada Ila.

Ila kembali setelah dua minggu pergi. Ila mendatangi rumah Oci sembari membawa oleh-oleh. Oci pun senang karena bisa menepati janjinya.

"Ila, aku sudah menjaga wortelmu dengan baik. Tapi maaf, karena kamu pergi terlalu lama pergi, wortelmu menjadi busuk. Sungguh, aku tidak berbohong. Wortel itu masih kusimpan meskipun telah membusuk," jelas Oci.

Ila terkejut mendengarnya. Ia kaget karena Oci masih menyimpan wortelnya. Ia jadi merasa bersalah kepada Oci. "Oci, seharusnya kamu makan saja wortel itu."

"Aku lebih memilih melihatnya membusuk daripada harus mengingkari janjiku," jelas Oci.

Ila tersenyum senang. Ia pun meminta maaf karena tidak bisa pulang tepat waktu. Ia juga berterima kasih karena Oci telah menepati janjinya untuk menjaga wortelnya dengan baik.

Pesan moral dari dongeng diatas, mengajarkan untuk bertanggung jawab dan menjaga kepercayaan seseorang

Nah, itu dia contoh dari dongeng anak, semoga bisa membantu.



Simak Video "Ma'ruf Amin Sebut Pernikahan Dini Tidak Maslahat"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/nah)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia