Tips Riset Mudah dan Murah ala Dosen ITB, Tidak Perlu Biaya Mahal

Tips Riset Mudah dan Murah ala Dosen ITB, Tidak Perlu Biaya Mahal

Anisa Rizki - detikEdu
Selasa, 08 Nov 2022 19:30 WIB
Prof Mikrajuddin, Guru Besar ITB peraih Habibie Award 2018
Tips riset mudah dan murah ala Prof Mikrajuddin, Guru Besar ITB peraih Habibie Award 2018. Foto: Dok. ITB
Jakarta -

Penelitian bertujuan untuk mendapatkan solusi atau kesimpulan dari suatu masalah. Termasuk ke dalam salah satu poin tridarma perguruan tinggi, riset, atau penelitian banyak mengalami kendala, khususnya terkait biaya.

Dosen dari Departemen Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus peraih Habibie Award 2018, Prof Dr Eng Mikrajuddin MSi membagikan kita-kiat riset yang mudah dan murah melalui Discussion Series bertajuk "Research Opportunities for Less-facilitated Researchers" secara daring.

Materi yang ia bagikan bertujuan untuk membangkitkan semangat, khususnya bagi para peneliti muda. Menurutnya, keterbatasan bukanlah kendala. Justru, keterbatasan bisa menjadi pemantik kreativitas seseorang.

"Keterbatasan yang kita miliki bisa kita akali dengan kreativitas. Tidak semua dari kita beruntung mendapatkan fasilitas yang cukup untuk riset karena keterbatasan dari pemerintah dan institusi. Melakukan riset dengan produktivitas lebih rendah dari kondisi ideal lebih baik daripada tidak melakukan apapun sama sekali," terangnya, seperti dikutip dari laman resmi ITB, Selasa (8/11/2022).

Ubah Kebiasaan Eksperimental Jadi Pemodelan Teoretis

Lebih lanjut, Prof Mikrajuddin menyampaikan bahwa ada tiga hal yang dibutuhkan dalam sebuah penelitian, yaitu fasilitas yang sesuai, dana yang cukup, dan lingkungan yang baik.

Namun, ketika salah satunya tidak terpenuhi atau bahkan ketiganya tidak ada, peneliti harus berpindah dari kebiasaan eksperimental ke kebiasaan pemodelan teoretis.

Ia menjelaskan, model yang dibangun dapat diuji oleh percobaan sederhana atau menggunakan data peneliti lainnya. Cara ini pun ia praktikkan dalam penelitiannya yang didasari dari observasi fenomena sehari-hari.

Prof Mikrajuddin mencontohkan, ia mengamati kembang api pada malam takbir hingga mengobservasi kemacetan di Kota Bandung. Fenomena tersebut ia analisis hingga terbentuk model atau persamaan yang sesuai.

Peneliti Harus Bergerak dengan Kreativitas

Dosen ITB ini menuturkan, riset-riset yang ia lakukan tidak membutuhkan banyak biaya. Bahan-bahannya juga mudah ditemukan sehari-hari. Contoh, percobaan mengenai kembang api hanya memerlukan modal untuk membeli kembang api.

Sementara itu, pada penelitian lain seperti tampi beras, modal yang diperlukan hanya berkisar Rp 100 ribu untuk membeli berbagai jenis beras, pasir, kacang hijau, dan bahan-bahan lainnya.

Menurut Prof Mikrajuddin, peneliti harus melihat melampaui keterbatasan yang ada dan bergerak dengan kreativitas. Sebab, banyak hal yang bisa dieksplorasi melalui percobaan sederhana tanpa memerlukan banyak modal.

Ia juga menyampaikan kepada peneliti untuk tidak minder karena paper reviewer akan melihat karya tulis ilmiahnya secara utuh tanpa memperhatikan ketenaran dari identitas peneliti.

"Tidak semua kondisi akan ideal ketika kita berkarya di institusi masing-masing. Bisa saja institusi tidak punya alat sampai kita pensiun. Kita harus bangga bisa menghasilkan ini dengan kondisi yang sangat minimal," pungkas Prof Mikrajuddin.



Simak Video "Penampakan Gedung Riset Polsri Terbakar, Bocah Bawa Korek Api Diamankan"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/twu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia