Miliaran Kepiting Salju "Hilang" di Laut Bering, Kenapa?

Miliaran Kepiting Salju "Hilang" di Laut Bering, Kenapa?

Anisa Rizki Febriani - detikEdu
Sabtu, 22 Okt 2022 15:00 WIB
snow crabs in an aquarium
Ilustrasi kepiting salju. (iStock)
Jakarta -

Laut Bering merupakan bagian dari Samudra Pasifik yang menjadi hunian bagi beberapa satwa laut di dunia, salah satunya kepiting salju. Diketahui, populasi kepiting salju di Laut Bering pernah mencapai miliaran.

Di tahun 2018, terdapat sekitar 3 miliar kepiting salju (Chionoecetes opilio) di Laut Bering bersama dengan sekitar 5 miliar kepiting dewasa, sebagaimana tertulis dalam laporan Seattle Times. Namun, selama lima tahun belakangan justru populasi hewan tersebut kian menurun.

Pada akhir tahun 2021, populasi kepiting salju tersebut menurun dan kehilangan hingga 8 miliar kepiting salju. Penurunan drastis populasi kepiting tersebut terjadi dalam kurun waktu tiga tahun.

"Pengelolaan kepiting salju Laut Bering sekarang harus fokus pada konservasi dan pembangunan kembali mengingat kondisi populasinya," ungkap perwakilan Departemen Perikanan Alaska atau Alaska Department of Fish and Game (ADFG), dikutip dari laman Live Science, Jumat (21/10/2022).

ADFG akhirnya membatalkan panen kepiting salju di musim ini untuk mencegah kepunahan. Selain itu, panen kepiting raja merah (Paralithodes camtschaticus) di Teluk Bristol dibatalkan mengingat jumlahnya yang kian berkurang.

Penyebab Menurunnya Populasi Kepiting Salju

Penyebab utama menurun drastisnya kepiting salju di Laut Bering adalah perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Praktik penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan juga dapat menjadi salah satu faktor.

Kepiting salju tumbuh subur di perairan utara yang dingin, tepatnya di dasar Laut Bering. Bagi kepiting ini, suhu air menjadi salah satu faktor kenyamanan dan berperan penting dalam siklus hidup mereka.

Ketika air laut dingin, dia menjadi rendah kadar garam dan rendah daya apung, sehingga memudahkan kepiting bergerak di dasar lautan.

Ahli biologi kelautan menjelaskan bahwa lapisan air dingin ini disebut sebagai kolam dingin. Banyak ikan dan jenis kehidupan laut lainnya yang menghindari kolam dingin, tetapi bagi kepiting salju remaja, itu menjadi salah satu tempatnya berlindung.

Pada kolam dingin hampir tidak ada pemangsa, sebab sangat jarang predator yang ingin menjelajah ke lapisan tersebut. Sehingga, kepiting-kepiting muda dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik.

Gelombang Panas hingga Praktik Penangkapan Ikan

Kemunculan gelombang panas yang tercatat pada tahun 2016 hingga 2019 menghambat pembentukan kolam dingin di Laut Bering.

Akibatnya bayi-bayi kepiting jadi rentan terhadap serangan predator. Terlebih, air yang lebih hangat mempercepat metabolisme kepiting dewasa dan berujung membuat mereka kelaparan.

Selain perubahan iklim, praktik penangkapan ikan juga mungkin memiliki kontribusi pada penurunan jumlah kepiting. Sebab, alat tangkap ikan yang menargetkan spesies laut lain di Laut Bering terkadang turut menangkap kepiting salju.

Namun, tak jarang para nelayan membuang kepiting salju tersebut yang dianggap terlalu kecil, terlalu muda, atau yang cangkangnya berubah warna dan rusak. Atau membuang keseluruhan kepiting salju lantaram bukan target tangkapan.

Di tahun 2020, ADFG memperkirakan lebih dari 30 persen populasi kepiting salju yang ditangkap dan dibuang kembali ke Laut Bering menyebabkan kematian pada hewan tersebut.



Simak Video "Menjajal Kepiting Budeng di Warung Mangrove Jembrana"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/rah)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia