Menguak Misteri Yeti, Monster Salju di Pegunungan Himalaya

Menguak Misteri Yeti, Monster Salju di Pegunungan Himalaya

Anisa Rizki Febriani - detikEdu
Jumat, 21 Okt 2022 20:30 WIB
Ilustrasi Yeti
Kisah para pejalan dan peneliti menguak misteri Yeti. Foto: iStock
Jakarta -

Misteri mengenai monster salju di daerah Himalaya sering diceritakan dalam berbagai kisah. Memiliki wujud seperti gorila raksasa berbulu putih, monster ini kerap disebut sebagai Yeti.

Mengutip New World Encyclopedia, Yeti merupakan bagian dari sejarah dan mitologi penduduk di wilayah Himalaya, tepatnya di Nepal dan Tibet.

Sebagian besar ilmuwan, penjelajah, dan penulis menganggap bukti keberadaan Yeti belum dapat dikatakan fakta. Karena itu, banyak yang menganggap makhluk tersebut sebagai legenda atau kesalahan identifikasi satu spesies tertentu.

Orang Tibet menganggap monster salju di pegunungan Himalaya itu sebagai makhluk yang menakutkan dan terlihat ganas. Sementara itu, suku Sherpa yang hidup di lereng-lereng pegunungan Himalaya menjadikan Yeti sebagai satu sosok dalam cerita pengantar tidur anak-anak.

Di sisi lain, penduduk Nepal memiliki versi ceritanya tersendiri mengenai Yeti. Mereka memandang Yeti sebagai makhluk jahat yang suka meneror penduduk setempat.

Sejarah Kemunculan Yeti

Kebanyakan cerita Yeti berasal dari legenda Sherpa, komunitas yang hidup di ketinggian rata-rata 12.000 kaki di Nepal timur dan sebagian besar merupakan pemandu bagi para pendaki, sebagaimana dikutip dari BBC.

Monster salju Himalaya itu pertama kali diperkenalkan di daerah Barat pada tahun 1921 oleh Henry Newman, seorang reporter The Statesmen di Kolkata.

Kala itu, Newman menulis tentang ekspedisi Inggris ke Himalaya yang dipimpin oleh Letnan Kolonel C. K. Howard Bury. Pada ekspedisi tersebut, mereka menjumpai sosok yang bergerak pada ketinggian sekitar 20.000 kaki atau sekitar 6.096 meter.

Merasa penasaran, mereka mencoba mendekati sosok tersebut dan menemukan jejak kaki dengan ukuran yang lebih besar dari manusia. Suku Sherpa yang ikut mengamati sosok tersebut memberitahu Bury bahwa jejak kaki tersebut dibuat oleh Yeti.

Bersamaan dengan itu, cerita mengenai monster gunung mulai merebak. Akhirnya, banyak orang yang tertarik mengenai Yeti dan pergi mendaki untuk mencari makhluk misterius tersebut.

Bukti Keberadaan Yeti

Di tahun 1925, seorang fotografer bernama N.A. Tombaziyang merupakan anggota dari Royal Geographical Society diduga melihat makhluk di ketinggian sekitar 15.000 kaki (4.572 meter) di dekat Gletser Zemu.

Tombazi kemudian menulis bahwa ia mengamati makhluk tersebut dari jarak sekitar 200-300 yard (182-274 meter) selama satu menit. Ia mengklaim, sosok tersebut seperti manusia yang berjalan tegak tanpa pakaian dan sesekali berhenti untuk mencabuti rhododendron kerdil.

Ketertarikan bangsa Barat terhadap Yeti kian memuncak. Pada tahun 1951, Eric Shipton mendaki gunung Everest dan mengambil sejumlah foto jejak kaki besar di salju dengan ketinggian 19.685 kaki (6.000 m) di atas permukaan laut.

Foto-foto tersebut lantas menjadi subjek penelitian dan perdebatan yang paling intens mengenai Yeti. Beberapa orang berpendapat bahwa itu adalah bukti terbaik keberadaan Yeti, sementara yang lain berpendapat bahwa cetakan itu berasal dari makhluk biasa, dan berubah karena salju mencair.

Penemuan Dugaan Spesimen Rambut dan Kulit Yeti

Sebuah ekspedisi terbesar pencarian Yeti dilakukan di tahun 1954. Pemimpin pendakian gunung, John Angelo Jackson, melakukan perjalanan pertama dari Everest ke Kangchenjunga. Saat itu, ia memotret lukisan simbolis Yeti di Thyangboche.

Jackson melacak dan memotret banyak jejak kaki di salju, yang sebagian besar dapat diidentifikasi. Namun, banyak juga yang tidak dapat diidentifikasi.

Yang paling mengejutkan dari ekspedisi tersebut adalah tim memperoleh spesimen rambut dari kulit kepala yang ditemukan di biara Pangboche.

Rambut tersebut kemudian diteliti oleh Frederic Wood Jones, seorang ahli anatomi manusia dan komparatif. Ia membandingkannya dengan rambut dari hewan beruang dan orangutan.

Spesimen rambut tersebut berwarna hitam hingga coklat tua. Wood Jones tidak dapat memastikan rambut tersebut berasal dari hewan apa. Namun, dia yakin bahwa bulu-bulu itu bukan dari beruang atau kera. Wood Jones menyimpulkan bahwa bulu-bulu tersebut berasal dari bahu makhluk tersebut.

Parasit pada Kotoran Yeti

Mulai tahun 1957, pengusaha minyak Amerika, Tom Slick, mendanai beberapa misi untuk menyelidiki laporan Yeti. Pada tahun 1959, kotoran Yeti yang diduga dikumpulkan oleh ekspedisi Slick kemudian dianalisis.

Hasilnya, mereka menemukan parasit yang tidak dapat diklasifikasikan. Parasit tersebut dapat membantu menentukan keberadaan Yeti.

Pada tahun 1970, pendaki gunung Inggris, Don Whillans, mengklaim telah melihat sosok makhluk ketika mendaki gunung Annapurna. Saat mencari tempat perkemahan, Whillans mendengar tangisan aneh. Pemandu yang berasal dari suku Sherpa lantas mengaitkannya dengan panggilan Yeti.

Malam itu juga, Whillans melihat sosok gelap bergerak di dekat perkemahannya. Keesokan harinya, ia mengamati beberapa jejak kaki mirip manusia di salju. Ketika ia melihat dengan teropong, Whillans menyaksikan makhluk mirip kera selama 20 menit tengah mencari makanan tidak jauh dari kampnya.

Hingga saat ini, bukti keberadaan monster salju Himalaya itu belum bisa dipastikan kebenarannya. Jadi, apakah detikers percaya akan keberadaan Yeti?



Simak Video "Video Detik-detik Pesawat Yeti Airways Jatuh Versi Penumpang"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/twu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia