Arkeolog Temukan Bukti Amputasi Pertama di Dunia, Ternyata Ada di Indonesia

Arkeolog Temukan Bukti Amputasi Pertama di Dunia, Ternyata Ada di Indonesia

fahri zulfikar - detikEdu
Rabu, 05 Okt 2022 12:30 WIB
Dr Tim Maloney and Andika Priyatno work at the site in a cave in East Kalimantan, Borneo, Indonesia, March 2, 2020. The remains, which have been dated to 31,000 years old, mark the oldest evidence for amputation yet discovered. And the prehistoric “surgery” could show that humans were making medical advances much earlier than previously thought, according to the study published Wednesday, Sept. 7, 2022 in the journal Nature.  (Tim Maloney/Griffith University via AP)
Temuan fosil amputasi pertama ada di Indonesia. (Foto: AP Photo/Tim Maloney)
Jakarta -

Tim arkeolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), FSRD Institut Teknologi Bandung (ITB), BPCB Kalimantan Timur, dan Griffith University Australia berhasil menemukan sisa-sisa kerangka bagian kaki kiri bawah yang telah mengalami proses amputasi oleh "ahli bedah prasejarah" pada 31.000 tahun yang lalu.

Melansir laman Instagram BRIN, penelitian ini awalnya terungkap pada 2020 lalu dalam penggalian arkeologi di Liang Tebo, Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur.

Bukti Awal Tindakan Medis dalam Sejarah

BRIN mengungkapkan bahwa penemuan kerangka amputasi ini menjadi bukti paling awal dari sebuah tindakan medis yang kompleks dibanding 'operasi' zaman batu yang ditemukan di Eurasia.

Amputasi tersebut dilakukan ketika individu masih remaja dengan kisaran usia 19-20 tahun. Jasad tersebut dikubur sekitar 6-9 tahun setelah proses amputasi.

"Adanya pertumbuhan tulang yang berhubungan dengan penyembuhan," tulis BRIN, dikutip Rabu (5/10/2022).

Dijelaskan juga bahwa pemburu purba ini selamat dari operasi yang sangat serius yang dapat mengancam keselamatannya. Bahkan bekas lukanya pun telah tertutup dengan baik.

Munculnya Kemajuan Teknologi Medis

Dr. Tim Maloney dari Griffith University menyampaikan bahwa pergeseran pola hidup spesien zaman itu memunculkan masalah kesehatan yang kemudian mendorong kemajuan teknologi medis.

"Pergeseran dari pola berburu dan mengumpulkan makanan ke bertani di akhir zaman es diperkirakan memunculkan masalah kesehatan yang sebelumnya tidak diketahui," paparnya.

"Kemudian mendorong kemajuan teknologi medis, mungkin termasuk berbagai bentuk 'operasi' zaman batu," imbuh Dr. Tim.

Sementara PR Arkeometri, OR Abastra, BRIN, Adhi Agus Oktaviana berpendapat bahwa kemungkinan seniman di wilayah ditemukannya kerangka memiliki peran dalam mengembangkan pengetahuan medis.

"Adanya kemungkinan jika beberapa seniman pendahulu dari daerah ini juga telah mengembangkan pengetahuan medis tingkat lanjut," ujarnya.

Penemuan Besar dalam Sejarah Kedokteran

Menurut BRIN, penemuan bukti operasi amputasi ini juga memiliki implikasi besar dalam pemahaman tentang sejarah kedokteran.

Sebab, hal ini menjadi bukti bahwa manusia telah mengembangkan pengetahuan anatomi dan keterampilan medis tingkat tinggi sebelum spesies mulai bertani dan tinggal di pemukiman secara permanen.

"Tingkat infeksi yang cepat di daerah tropis yang panas dan lembab mendorong mereka untuk memanfaatkan 'farmasi alami' tanaman obat hujan yang kemudian mengarah pada perkembangan awal dalam penggunaan sumber daya botani untuk anestesi, antiseptik, dan perawatan penyembuhan luka lainnya," terang BRIN.



Simak Video "Alasan BRIN Batalkan Rencana Renovasi Rp 6,1 M Ruang Kerja Dewan Pengarah"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia