Sejumlah Negara Ini Legalkan Jenazah Manusia Jadi Pupuk Kompos, Kok Bisa?

Sejumlah Negara Ini Legalkan Jenazah Manusia Jadi Pupuk Kompos, Kok Bisa?

Anisa Rizky - detikEdu
Minggu, 25 Sep 2022 16:01 WIB
Ilustrasi jenazah
Ilustrasi jenazah. Sejumlah negara melegalkan jenazah untuk dijadikan kompos. (Foto: Thinkstock)
Jakarta -

Jika umumnya pupuk kompos berasal dari sisa-sisa sampah organik yang telah mengalami pelapukan, lain halnya dengan yang terjadi di California, Amerika Serikat. Gavin Newson, Gubernur California melegalkan praktik mengubah jenazah manusia menjadi pupuk kompos.

Gavin Newson telah menandatangani Undang-Undang yang mengizinkan warganya memilih opsi pengomposan setelah kematian yang berlaku pada tahun 2027 mendatang.

Mengutip dari Smithsonian Magazine pada Minggu (25/9/2022), Washington jadi yang pertama melegalkan pengomposan manusia di tahun 2019 silam, kemudian diikuti oleh Colorado dan Oregon pada 2021 lalu. Lalu baru-baru ini, di Vermont praktik tersebut telah dilegalkan pada Juni 2022.

Tujuan dari praktik ini untuk menangani perubahan iklim dan menyelamatkan lingkungan hidup yang aman dan bersih. Hal ini dikatakan langsung oleh Christina Garcia, anggota majelis yang mengusulkan UU tersebut.

"Perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut adalah ancaman yang sangat nyata bagi lingkungan kita. Pengomposan adalah metode alternatif yang tidak akan menyumbangkan emisi ke atmosfer," ujarnya pada laman The New York Post.

Proses Pengomposan Jenazah Manusia

Pada pengomposan jenazah manusia ini nantinya tubuh akan dimasukan ke dalam bejana baja, kemudian ditutupi dengan bahan organik seperti jerami, serpihan kayu serta tanaman alfalfa.

Mikroba mengurai mayat dan tanaman, lalu mengubah berbagai komponen menjadi tanah yang kaya akan nutrisi dalam periode waktu 30 hari.

Staf yang berada di rumah duka khusus pengomposan manusia nantinya akan mengeluarkan kompos dari wadah dan membiarkannya mengering selama 2 hingga 6 minggu.

Anggota keluarga boleh menggunakan kompos manusia tersebut seperti jenis kompos pada umumnya, seperti mencampurkannya ke tanaman ataupun menyumbangkannya untuk kawasan konservasi.

Tiap-tiap tubuh menghasilkan satu meter kubik kompos, menurut Recompose, rumah duka yang mengkhususkan diri dalam pengomposan jenazah manusia memiliki kantor pusat di Seattle.

"Pengurangan organik alami sangat aman dan berkelanjutan, ini memungkinkan tubuh kita kembali ke tanah setelah kita mati," ujar Katrina Spade, CEO Recompose.

Pengomposan Jenazah Manusia Disebut Jadi Salah Satu Upaya Menjaga Lingkungan

Pengomposan jenazah manusia menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan ketimbang metode kremasi. Sebab, proses kremasi yang melibatkan pembakaran, pelarutan, atau pemrosesan sisa-sisa manusia menjadi abu dan fragmen tulang melepaskan 534,6 pon karbon dioksida ke udara per tubuh.

Artinya, setiap tahun sekitar 360.000 metrik ton gas rumah kaca dihasilkan dari proses kremasi jenazah. Kemudian, dikatakan juga bahwa penguburan jenazah menggunakan peti dan brankas sebetulnya memberikan dampak bahaya pada lingkungan, karena bahan kimia yang digunakan untuk membalsemi tubuh dapat larut ke dalam tanah.

Menurut Molly Taft, sebesar 5,3 juta galon cairan seperti formaldehida, metanol, dan etanol terkubur setiap tahun. Peti mati dan brankas pemakaman juga membutuhkan banyak sumber daya, yakni 30 juta kaki papan kayu dan hampir 2 juta ton beton, baja, dan bahan lainnya per tahun.

Kisaran Harga Pengomposan Jenazah Manusia

Sebuah studi tahun 2021 oleh Asosiasi Direktur Pemakaman Nasional mengatakan bahwa biaya pemakaman normal rata-rata berkisar USD 7,848 atau setara dengan Rp 118 juta.

Sementara itu, metode pengomposan jenazah manusia memakan biaya sebesar USD 4,000 - USD 5,500 atau setara dengan Rp 60 juta - Rp 83 juta, sebagaimana disebutkan pada laman US Funerals Online.

Nah, itulah informasi mengenai negara yang melegalkan praktik pemakaman jenazah melalui pengomposan. Jadi, bagaimana menurut detikers?



Simak Video "Dicari! Sosok yang Viralkan Jenazah Tak Diantar Warga Bak Sinetron"
[Gambas:Video 20detik]
(erd/erd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia