Orang yang Masih Hidup Bisa Menjadi Saksi bagi Jenazah, Ini Penjelasannya

Devi Setya - detikEdu
Senin, 13 Jun 2022 15:00 WIB
Makam umat muslim
Ilustrasi seorang wanita berdoa di dekat makam Foto: Getty Images/Enes Evren
Jakarta -

Perbuatan baik yang dilakukan seseorang akan selalu dikenang, bahkan bisa menjadi saksi saat ajal menjemput. Orang-orang yang berbuat baik akan mendapatkan kebaikan pula di dunia maupun di akhirat.

Setiap umat muslim yang meninggal dunia, ia akan diurus sesuai syariat Islam. Seperti dimandikan, dikafani dan disholatkan. Kecuali untuk mereka yang meninggal dalam keadaan syahid ketika gugur dalam berperang di jalan Allah SWT.

Banyaknya orang yang hadir untuk ikut shalat jenazah atau mengantarkan ke makam menandakan sifat jenazah semasa hidup. Biasanya jika semasa hidup, seseorang selalu berbuat baik maka akan banyak orang yang mendoakannya.

Dilansir dari NU Online (13/6) orang yang masih hidup bisa menjadi saksi bagi orang yang meninggal. Ketika banyak orang mengatakan jenazah semasa hidupnya sering berbuat baik, maka surga ganjarannya. Demikian pula sebaliknya.

Sebuah hadits yang bersumber dari sahabat Anas bin Malik radliyallâhu 'anhu menuturkan:

"Sahabat Anas bin Malik berkata, orang-orang lewat membawa satu jenazah, mereka memujinya dengan kebaikan. Maka Rasulullah bersabda, "Wajabat." Kemudian lewat lagi orang-orang membawa satu jenazah, mereka mencelanya dengan kejelekan. Maka Rasulullah bersabda, "Wajabat." Sahabat Umar bin Khathab berkata, "Apa yang wajib, ya Rasul?" Rasulullah bersabda, "Jenazah ini yang kalian puji dengan kebaikan wajib baginya surga. Dan orang ini yang kalian cela dengan kejelekan wajib baginya neraka. Kalian adalah para saksinya Allah di muka bumi."

Di Indonesia, hal ini menjadi sebuah tradisi yang disebut tahsînul mayit, yakni dengan menanyakan kepada para pelayat apakah jenazah ketika hidupnya termasuk orang yang baik atau buruk. Secara tidak langsung, orang-orang yang masih hidup ini sudah menjadi saksi bagi jenazah.

Tentunya kata "wajib" pada hadits di atas bukanlah berarti bahwa Allah mau tidak mau harus memasukkan orang yang meninggal ini ke dalam surga atau neraka sesuai dengan kesaksian yang diberikan masyarakat kepadanya. Kata "wajib" di sini lebih bermakna adanya satu isyarat bahwa jenazah yang bersangkutan layak dan semestinya masuk surga atau neraka atas kebaikan atau kejelekan yang ia lakukan semasa hidupnya.

Allah SWT sendiri tak ada kewajiban bagi-Nya untuk menempatkan seseorang di surga atau di neraka. Allah melakukan apa pun sesuai dengan kehendak-Nya. Tak ada yang bisa mengganggu gugat apa yang dilakukan-Nya.

Bahwasanya seseorang telah berbuat kebaikan semasa hidupnya kemudian ia dimasukkan ke dalam surga adalah semata-mata karena rahmat dan anugerah Allah. Dan bahwasanya seseorang telah melakukan kejelekan semasa hidupnya lalu ia dimasukkan ke dalam neraka juga semata-mata karena keadilan Allah saja.

Bukan berarti dengan pujian baik, seseorang bisa langsung masuk surga atau dengan pujian buruk lantas orang akan masuk neraka. Tentu saja semua akan kembali tergantung amal ibadah yang dilakukan semasa hidupnya.

Menurut Ibnu Hajar-dikuatkan oleh satu hadits yang diriwayatkan secara marfu' oleh Imam Ahmad, Ibnu Hiban dan Hakim dari jalur Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas:

"Tidaklah seorang muslim meninggal kemudian empat orang tetangganya yang paling dekat memberikan kesaksian kepadanya bahwa mereka tidak mengetahui dari orang tersebut kecuali kebaikan, kecuali Allah berkata, "Aku terima ucapan kalian dan aku ampuni apa-apa yang tidak kalian ketahui."

Dilansir dari situs resmi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (13/6) Rasulullah SAW juga pernah bersabda:

"Tiadalah empat orang muslim bersaksi bahwa seorang jenazah itu orang baik, maka Allah masukkan ia ke surga", maka kami berkata : Bagaimana jika cuma 3 orang yg bersaksi?, beliau saw bersabda : "walau tiga", lalu kami berkata : jika cuma dua?, beliau bersabda : "walau dua". Lalu kami tak bertanya jika hanya satu" (HR. Bukhari)

Sebagai keluarga atau kerabat, sangat dianjurkan supaya berprasangka baik kepada siapapun, bahkan kepada jenazah. Allah yang maha tahu baik buruknya seseorang, apalagi di saat sebelum kematian menjemput, yang merupakan saat penentu keselamatan atau celakanya seseorang.

Dalam buku Tata Cara Mengurus Jenazah karya Syaikh Muhammad Nasiruddin al-Albani dijelaskan pula kesaksian untuk jenazah ini haruslah diungkapkan dengan jujur. Artinya kita tidak boleh memberikan persaksian yang baik kepada seseorang yang jelas-jelas fasik dan melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan.

Dari penjelasan ini dapat diambil satu pelajaran bahwa kesaksian baik yang diberikan oleh para tetangga dan handai taulan kepada seorang yang telah meninggal sangat memberi manfaat. Oleh karenanya banyak manfaat yang bisa didapat ketika seseorang berbuat kebaikan, ibaratnya sedang menabung untuk diri sendiri.


Kebaikan ini akan kembali kepada diri sendiri, baik di dunia maupun di akhirat. Dari sini kita bisa memetik pelajaran bahwa sudah semestinya kita selalu berbuat baik kepada sesama. Kelak kebaikan yang kita tabur tersebut akan kita tuai manfaatnya.



Simak Video "Dinar Candy Ikut Lega Akhirnya Jenazah Eril Ditemukan"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia