Masker Gelap Picu Lebih Banyak Jerawat? Begini Kata Pakar dari FK Unair

Masker Gelap Picu Lebih Banyak Jerawat? Begini Kata Pakar dari FK Unair

Novia Aisyah - detikEdu
Rabu, 14 Sep 2022 18:30 WIB
Warga Australia Disarankan Tetap Mengenakan Masker Menghadapi Penyebaran Flu di Musim Dingin
Ilustrasi tanggapan pakar dari FK Unair soal mitos masker gelap sebabkan lebih banyak jerawat. Foto: ABC Australia
Jakarta -

Ada anggapan yang muncul bahwa masker berwarna hitam atau gelap bisa mencetuskan lebih banyak jerawat. Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair), dr. M. Yulianto Listiawan, Sp.KK(K), FINSDV, FAADV, meluruskan anggapan yang muncul sejak adanya pandemi COVID-19 tersebut.

"Masker menyebabkan jerawat itu memang ada, tapi tidak dipengaruhi warna," ungkapnya, dikutip dari laman resmi kampus.

Menurut sosok yang disapa dr. Wawan ini, kemunculan jerawat akibat pemakaian masker justru karena tertutupnya daerah kelenjar sebaceous. Kemunculan jerawat yang dipicu pemakaian masker terlalu sering pun tidak terjadi pada semua orang, bergantung kondisi kulit bawaan individu.

Menurutnya kalaupun berkaitan dengan warna, maka hubungannya adalah kemampuan dalam menyerap sinar matahari.

"Yang menyebabkan jerawat itu ya karena masker dipakai terus di wilayah yang kaya kelenjar sebaceous penyebab jerawat. Sehingga, dia tidak bisa keluar dan menyebabkan kebuntuan. Akhirnya muncul jerawat," jelasnya.

Apakah Pakaian Berwarna Gelap Sebabkan Kelainan Kulit?

Berkenaan dengan pemakaian atribut berwarna gelap, Ketua Departemen Kesehatan Kulit dan Kelamin FK Unair itu juga menegaskan, pakaian berwarna gelap tidak berkaitan dengan menyebabkan kelainan kulit.

"Itu hanya mitos. Memang rasanya lebih panas jika menggunakan pakaian hitam. Tapi itu justru punya manfaat karena panasnya diserap, tidak diteruskan ke kulit," terang Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) ini.

Dia memaparkan, faktor utama kelainan kulit adalah paparan sinar matahari yang terus-menerus menyentuh kulit. dr. Wawan menyebutkan, berbagai ragam warna pakaian mempunyai respons berbeda terhadap sinar matahari. Warna hitam berkemampuan menyerap sinar matahari serta mengubahnya menjadi energi panas, dan tidak meneruskannya ke kulit.

"Hitam tidak memantulkan apa-apa, malahan menyerap sepenuhnya sinar matahari. Hitam itu bagusnya apa? Artinya sinar matahari tidak diteruskan ke kulit kita, jadi dia justru melindungi kulit kita," urainya.

Dia pun menyampaikan, warna pakaian tidak berpengaruh langsung terhadap kulit. Menurut ahli medis Departemen Kesehatan Kulit dan Kelamin FK Unair itu, yang perlu lebih diutamakan adalah selektif memilih pakaian yang bisa menutup kulit. Sebab, pakaian yang lebih terbuka bisa menyebabkan kulit yang terekspos matahari sehingga lebih mudah terbakar.



Simak Video "Vaksin Inavac Unair Kantongi Izin Penggunaan untuk Booster"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/twu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia