Sindrom Mayat Berjalan, Begini Sejarah Dokter Cotard Mengungkapnya

Sindrom Mayat Berjalan, Begini Sejarah Dokter Cotard Mengungkapnya

Nikita Rosa - detikEdu
Sabtu, 03 Sep 2022 20:00 WIB
WHO: Masalah Kesehatan Mental di Dunia Meningkat Tajam Selama Pandemi
Penjelasan Walking Corpse Syndrome. (Foto: DW (News)
Jakarta -

Walking corpse syndrome atau sindrom mayat berjalan adalah sindrom di mana seseorang percaya bahwa dirinya telah meninggal dunia. Beberapa ilmuwan percaya bahwa sindrom ini termasuk dalam delusi. Ilmuwan lain meyakini bahwa sindrom ini termasuk dalam 'kegilaan'.

Masih menuai perdebatan, kasus Walking Corpse Syndrome pertama kali diungkapkan sejak abad ke-18. Di mana perempuan dengan julukan Nyonya X yakin dirinya sudah meninggal.

Kasus Pertama Walking Corpse Syndrome

Pada tahun 1874 di rumah sakit jiwa Vanves Paris, seorang perempuan berusia 43 tahun memberitahu dokternya tentang pengalaman aneh yang ia alami. Pasien itu bercerita bahwa ia merasa dihantui oleh suara aneh dalam pikirannya. Suara-suara itu mengatakan bahwa ia sebenarnya telah meninggal dunia.

Dokter itu adalah ahli saraf dan psikolog Paris terkemuka bernama Jules Cotard. Akhirnya 6 tahun kemudian, setelah banyak wawancara dengan wanita yang dia panggil 'Nyonya X', Cotard menghadirkan penyakit baru kepada komunitas medis. Dia percaya bahwa penyakit itu sejenis 'melancholia' yang kita kenal sekarang dengan depresi.

Dikutip dari BBC Science Focus, nyonya X mengeluh bahwa dia tidak memiliki otak, saraf, dada, perut, atau semangat hidup, yang tersisa hanyalah kulit dan tulang.

Cotard melanjutkan, pasiennya menganggap dia tidak perlu makan, dan tidak bisa lagi mati secara alami. Satu-satunya cara untuk mengakhiri hidupnya adalah dengan membakarnya hidup-hidup.

Cotard menggambarkan Nyonya X sebagai jiwa yang hilang. Di bawah figurnya yang yakin dirinya sudah mati, sebenarnya Nyonya X adalah orang nyata yang menarik diri dari dunia, baik secara fisik maupun mental. Cotard menyebutnya sebagai 'délire de negation' atau keadaan kebingungan mental akibat trauma dan lainnya.

Atas jasanya mengungkap penyakit ini, Walking Corpse Syndrome disebut juga sindrom Cotard.

Apa Penyebab Walking Corpse Syndrome?

Menurut jurnal berjudul Walking Corpse Syndrome karya Saravanan, Walking Corpse Syndrome disebabkan oleh malfungsi di area otak yang disebut fusiform gyrus, yang berfungsi mengenali wajah, dan juga di amigdala, satu set neuron yang memproses emosi.

Hasilnya, penderita akan merasa sulit terhubung dengan kenyataan. Walking corpse syndrome biasanya ditemukan pada orang yang menderita psikosis (seperti Skizofrenia), penyakit neurologis, penyakit mental, depresi klinis, dan derealisasi.

Apakah Penderita Walking Corpse Syndrome Bisa Sembuh?

Saat ini, dunia medis masih berfokus pada mengobati gejalanya dibanding penyebabnya. Umumnya, para dokter menggunakan perawatan anti-depresan dan anti-psikotik.



Simak Video "Mengenal Stockholm Syndrome yang Dikaitkan dengan Lesti Kejora"
[Gambas:Video 20detik]
(nir/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia