Mengenal Duck Syndrome, Sering Pura-pura Tenang Padahal Punya Banyak Masalah

Fahri Zulfikar - detikEdu
Selasa, 25 Jan 2022 10:30 WIB
Ilustrasi perempuan menangis
Foto: iStock/PonyWang
Jakarta -

Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam menangani masalah yang dihadapi. Ada yang ekspresif dan emosional dan ada juga yang berusaha tetap tenang meski sedang punya banyak masalah.


Terlebih pada era media sosial seperti saat ini. Seseorang mudah sekali menutupi diri di depan banyak orang dan berusaha tetap ceria atau bahagia meski sedang tertekan. Kondisi ini juga disebut dengan Duck Syndrome.


Pakar Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Margaretha Rehulina, S.Psi., G.Dip.Psych., M.Sc. mengatakan bahwa di dunia klinis tidak memakai istilah Duck Syndrome karena itu bukanlah diagnosa klinis.


Menurut Margaretha, Duck Syndrome merupakan terminologi yang digunakan untuk menjelaskan suatu fenomena populer.


Istilah Duck Syndrome pertama kali dimulai di Stanford University, salah satu universitas terkenal di dunia karena mayoritas mahasiswanya merupakan mahasiswa-mahasiswa pilihan.


Istilah yang Diambil dari Bebek yang Berenang


Kemunculan istilah Duck Syndrome berasa dari kebiasaan mahasiswa Stanford pada tahun pertama yang menampilkan diri seperti bebek (duck).


Maksudnya adalah ketika bebek berenang di atas permukaan air memang terlihat tenang, padahal di bawah air kakinya sedang berenang dengan sangat cepat. Mereka berusaha terlihat sangat tenang padahal di balik itu sedang melakukan perjuangan yang besar.


"Supaya tidak terlihat kalah, maka mereka harus bersikap seperti bebek yang tenang padahal di balik itu semua sedang mengalami perjuangan, kegelisahan, dan ketakutan," ucapnya dikutip dari laman Unair, Senin (24/01/2022).


Mengapa Duck Syndrome Bisa Muncul?


Duck Syndrome dapat terjadi karena adanya persoalan yang muncul ketika seseorang sedang berusaha menyesuaikan diri di lingkungan baru.


Namun, hal tersebut akan menjadi masalah apabila apa yang ditampilkan sangat berbeda dengan yang sebenarnya dirasakan.


Dosen Fakultas Psikologi Unair itu menyebutkan bahwa secara umum ada tiga jenis Duck Syndrome yang sering dialami oleh millennial. Berikut jenis dan cara mencegahnya.


Jenis Duck Syndrome dan Cara Mencegahnya:


1. Menipu Diri Demi Terlihat Sukses


Jenis Duck Syndrome yang pertama sering dialami oleh milenial yang ingin menampilkan diri di sosial media agar terlihat glamor, sukses, dan bahagia. Padahal di balik itu, dia harus berhutang atau bekerja dengan sangat keras.


Untuk menghadapi hal ini, diperlukan kejujuran untuk dapat menerima diri sendiri. Harus bisa menyadari bahwa apa yang dimiliki saat ini adalah hal yang terbaik.


Tidak perlu berpura-pura dan menipu diri di sosial media untuk menampilkan kesuksesan walaupun sebenarnya itu bukan gambaran dirinya.


"Poinnya adalah menerima diri sendiri agar bisa menjadi pribadi yang otentik," jelas Margaretha.


2. Struggle Alone


Seseorang yang tertutup dan cenderung pendiam biasanya mengalami jenis Duck Syndrome satu ini. Ciri-cirinya adalah selalu berusaha ingin terlihat baik-baik saja meskipun sebenarnya mereka sedang mengalami banyak masalah.


Jenis Duck Syndrome ini yang paling berbahaya karena terkait dengan persoalan mood seperti depresi atau gangguan kecemasan lainnya.


Menurut Margaretha, jika hal itu dialami orang di sekitar kita, maka perlu dibantu untuk memahami persoalan yang sedang terjadi pada diri mereka.


Selain itu, juga perlu mengajarkan kepada mereka untuk jangan sungkan meminta bantuan. Mereka perlu dibantu dengan cara diberi penjelasan mengenai kesehatan mental dan cara mengupayakan agar sehat secara mental.


"Kita hanya butuh minta bantuan kepada orang yang profesional atau keluarga untuk membantu persoalan yang dia alami. Jangan menutupi persoalan yang sedang dihadapi dan tidak apa-apa meminta bantuan orang lain," terangnya.


3. Membandingkan Diri dengan Orang Lain


Jenis Duck Syndrome yang ketiga juga cukup banyak ditemukan baik dilakukan oleh individu, teman, ataupun orang tua.


Pada kondisi individu, umumnya dialami oleh orang yang di dalam kepalanya ingin berhasil sehingga ia menampilkan dirinya berhasil. Namun yang sebenarnya terjadi adalah ia sangat kewalahan bahkan tidak mampu untuk mencapai tujuannya karena sudah melampaui batas kemampuan.


Biasanya, hal tersebut terjadi karena ia membandingkan diri dengan sesuatu yang di luar kemampuannya sendiri. Mereka perlu diajak untuk berhenti melakukan perbandingan yang tidak realistis.


"Jadi, tipsnya adalah berusaha untuk bisa menerima kondisi dirinya dan berusaha membuat tujuan hidup yang lebih realistis. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara berhenti membandingkan diri dengan orang lain," tutur pakar psikologi Unair itu.



Simak Video "Jurusan Sepi Peminat di Unair, Apa Saja?"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia