Kisah Percobaan Transplantasi Organ Hewan ke Manusia, Ada yang Berhasil

Trisna Wulandari - detikEdu
Selasa, 19 Jul 2022 13:15 WIB
Operasi bedah di raumah sakit. dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Kisah transplantasi organ hewan ke manusia sejak tahun 1838. Foto: dikhy sasra
Jakarta -

Percobaan transplantasi organ hewan ke manusia sudah dilakukan sejak beberapa abad silam. Harapannya, kelak organ hewan dapat membantu dunia medis dalam menyelamatkan lebih banyak nyawa manusia. Namun, apakah ada percobaan yang berhasil?

Dengan keterbatasan donasi organ manusia, peneliti dan ahli medis mencari berbagai kemungkinan transplantasi menggunakan donor organ dari lintas spesies. Hewan pendonor idealnya mampu melawan penyakit manusia, tidak mahal untuk diternakkan dan diberi makan, tidak butuh waktu lama untuk melahirkan, dan beberapa kelahiran per kehamilan.

Hewan pendonor organ juga idealnya tidak punya batasan imun saat ditranplantasikan ke manusia. Di samping itu, hewan-hewan ini juga sebia mungkin tidak menimbulkan kontroversi etis saat digunakan untuk manusia.

Dikutip dari Animal organs for human transplantation oleh Marlon F. Levy, MD, belum ada hewan yang memenuhi semua kriteria ideal di atas. Namun, ada beberapa hewan yang sudah diujikan pada manusia, seperti babon dan babi.

Seperti apa percobaan transplantasi organ hewan ke manusia yang pernah dilakukan? Bagaimana pula keadaan pasien setelah operasi? Simak kisahnya di sini.

Percobaan Transplantasi Organ Hewan ke Manusia

Jantung Babi untuk Manusia

Dikutip dari Live Science, tim dokter baru-baru ini berhasil melakukan transplantasi jantung babi pada dua pasien meninggal yang sebelumnya bertahan hidup dengan ventilator.

Tim yang dipimpin dokter bedah kardio Dr. Nader Moazami dari pusat kesehatan NYU Langone Health, New York City melakukan tindakan operasi transplantasi jantung ini pada Juni dan Juli 2022.

Sebelumnya di awal tahun 2022, tim dokter dari University of Maryland Medical Center melakukan operasi transplantasi jantung babi ke satu pasien lain. Pasien ini bertahan hidup selama dua bulan setelah operasi.

Bedanya, pada percobaan terbaru , tim dokter dari pusat kesehatan NYU Langone Health, New York City melakukan transplantasi jantung babi ke dua pasien jantung yang sudah meninggal, Lawrence Kelly (72 tahun) dan Alva Capuano (64 tahun). Babi yang digunakan dalam upaya transplantasi ke tubuh manusia ini merupakan babi yang sudah dimodifikasi secara genetik.

Setelah transplantasi, Kelly dan Capuano menerima pengobatan standar pascatransplantasi. Perwakikan NYU Langone menyatakan, tidak ada tanda penolakan dini atas transplantasi organ pada tiga hari pertama. Pasien juga tidak membutuhkan peralatan bantuan pascaoperasi.

Direktur NYO Langone Transplant Institute Dr. Robert Montgomery mengatakan, tindakan operasi yang mereka lakukan pada pasien yang sudah meninggal, alih-alih pada pasien hidup, memungkinkan studi lebih dalam tentang sebaik apa badan pasien menoleransi jantung babi.

"Kita dapat melakukan jauh lebih banyak pengawasan berkala, memahami biologi dan hal-hal yang tidak diketahui," kata Montgomery, dikutip Senin (18/7/2022).

Kornea Babi untuk Manusia

Transplantasi pertama dari hewan ke manusia terjadi pada tahun 1838, menurut catatan National Library of Medicine. Dikutip dari A brief history of cross-species organ transplantation oleh David K. C. Cooper, MD, PhD, donor kornea pertama dari manusia ke manusia bahkan baru terjadi pada 1905, sekitar 65 tahun setelahnya.

Namun sejak itu, upaya xenotransplantation atau transplantasi lintas spesies tercatat gagal. Sebab, sistem imun manusia umumnya akan menyerang dan menolak organ hewan yang didonorkan karena mendeteksinya sebagai benda asing.

Sejak percobaan pertama ini, periset dan ahli medis berupaya memodifikasi genetika hewan donor organ. Harapannya, modifikasi genetik dapat mengelabui sistem imun manusia dengan memodulasi pertumbuhan organ. Dengan demikian, organ hewan jadi lebih cocok untuk manusia dan mengurangi kemungkinan penolakan oleh sistem kekebalan tubuh.

Jantung Babon untuk Bayi Manusia

Leonard Bailey melakukan transplantasi jantung babon pada bayi perempuan yang dikenal dengan nama Baby Fae pada 1983. Saat itu, sulit mendapat donor organ dari sesama bayi untuk ditransplantasi ke bayi yang punya kondisi jantung bawaan.

Secara teknis, operasi transplantasi jantung untuk Baby Fae berhasil, namun cangkok jantung ini mengalami penolakan akut dari tubuh Fae. Alhasil, pasien bayi ini meninggal 20 hari kemudian.

Belakangan disimpulkan, penolakan organ oleh tubuh Baby Fae disebabkan ABO resipien dan babon tidak sesuai. Pasalnya, babon pada dasarnya tidak punya golongan darah O. Di masa kini, rupanya terapi imunosupresif juga tidak membantu penolakan xenograft.

Meskipun prosedur ini tidak banyak mendukung kemajuan ilmu xenotransplantasi, publikasi yang besar membantu donasi organ dari bayi lebih banyak muncul. Alhasil, operasi ini turut mengembangkan program transplantasi jantung pada bayi dan anak-anak di Loma Linda University.



Simak Video "Deretan Desainer yang Gunakan Organ Manusia Dalam Karyanya"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/lus)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia