Aturan Tes COVID-19 bagi Pelaku Perjalanan Dicabut, Ini Kata Pakar Unair

Devi Setya - detikEdu
Selasa, 24 Mei 2022 19:00 WIB
Suasana pelayanan tes antigen yang sepi di kawasan Stasiun Senen, Jakarta Pusat, Kamis (31/3).
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Terhitung sejak 18 Mei 2022, pemerintah Indonesia resmi mencabut aturan wajib tes Covid-19 bagi pelaku perjalanan. Aturan ini berlaku untuk perjalanan dalam maupun luar negeri. Syaratnya adalah sudah melakukan vaksinasi lengkap.

Sebelumnya, masyarakat yang ingin melakukan perjalanan diwajibkan untuk menunjukkan bukti tes Covid-19. Tes ini bisa meliputi tes swab PCR, swab antigen, dan rapid test antibodi. Kini tes Covid-19 ini bukan menjadi syarat mutlak untuk melakukan perjalanan.

Dikabarkan situs resmi Universitas Airlangga (24/5) Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR), Laura Navika Yamani SSi MSi PhD, mengungkap dua alasan yang membuat aturan tes Covid-19 untuk pelaku perjalanan dicabut oleh pemerintah Indonesia.

Menurut Laura, dua alasan dicabutnya aturan tes Covid-19 ini adalah karena penyebaran virus Covid-19 sudah terkendali serta cakupan vaksinasi masyarakat sudah cukup baik.

Laura Navika Yamani SSi MSi PhD dari UNAIRLaura Navika Yamani SSi MSi PhD dari UNAIR Foto: Humas UNAIR

Berikut penjelasan soal alasan dicabutnya aturan tes Covid-19 bagi pelaku perjalanan:

1. Kasus Covid-19 Terus Menurun

Laura mengatakan, perkembangan Covid-19 yang terjadi di Indonesia sudah terkendali. Hal itu dapat dilihat dari data pantauan Covid-19 yang menunjukan Rate of Transmission (RT) Covid-19 di Indonesia kurang dari satu.

"Memang kasus Covidnya sudah bisa dikatakan terkendali karena RT, Rate of transmission, dari Covid ini kurang dari satu. Jadi untuk penyakit menular ketika RT kurang dari satu maka tingkat penularannya bisa dikatakan nol, artinya tidak terjadi penyebaran," kata Laura.

Tidak hanya itu, Laura juga mengatakan, jika RT menunjukkan hasil satu maka satu orang pengidap Covid-19 dapat menularkan kepada satu orang lainnya. Selain itu, jika RT di bawah satu dapat diasumsikan bahwa penularan itu tidak ada, sehingga kasus Covid-19 tidak akan melonjak secara signifikan.

Hal ini juga bisa dilihat dari laporan satgas penanganan Covid-19. Berdasarkan laporan yang dipublikasikan lewat situs resmi Satgas Covid-19, dalam hal pelacakan kasus Covid-19 di Indonesia sudah standar dengan ketentuan WHO. Yakni, satu orang diperiksa per 1.000 penduduk per minggu.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, terbukti positivity rate atau persentase kasus positif yang ditemukan pada sejumlah orang yang diperiksa terus mengalami penurunan.

2. Cakupan Vaksinasi yang Cukup Baik

Banyak hal yang menjadi pemicu turunnya kasus Covid-19 di Indonesia, salah satunya adalah cakupan vaksinasi yang dinilai sudah cukup baik. Hal ini pun dikatakan Laura sebagai kabar yang positif.

Laura menilai cakupan vaksinasi Covid-19 di Indonesia cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari sebagian besar penduduk Indonesia yang telah menerima vaksin dosis lengkap.

"Dengan baiknya cakupan vaksinasi yang ada di masyarakat kita, ini juga berdampak pada penyebaran Covid yang juga menurun dan kondisi imunitas terhadap Covid ini membuat pemerintah menjadi confident untuk melakukan pelonggaran tentang protokol kesehatan. Salah satunya yaitu dengan kebijakan tidak memberlakukan untuk test swab atau tes Covid tetapi dengan persyaratan sudah divaksin," ujar dosen FKM UNAIR itu.

Adapun masih adanya persyaratan dengan vaksin lengkap, tambah Laura, menunjukkan pemerintah sangat mengharapkan partisipasi dari masyarakat untuk segera melakukan vaksinasi.

Pemerintah masih terus menyediakan layanan pemberian vaksin Covid-19 di beberapa penyedia layanan faskes. Jadi diharapkan masyarakat dapat segera melengkapi vaksin Covid-19.



Simak Video "200 Kasus Covid-19 'Ganas' di Beijing Teridentifikasi"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia