Syarat Tes Antigen dan PCR Dihapus, Pakar Unair: Lebih Baik Ditunda

Fahri Zulfikar - detikEdu
Selasa, 15 Mar 2022 09:30 WIB
Kereta
Foto: Pradita Utama/detikcom/Syarat Tes Antigen dan PCR Dihapus, Pakar Unair: Lebih Baik Ditunda
Jakarta -

Pemerintah melalui Satgas COVID-19 telah mengeluarkan aturan terbaru untuk syarat pelaku perjalanan dalam negeri (PPDN) beberapa waktu lalu.

Saat ini, perjalanan dalam negeri atau domestik tak perlu lagi menunjukkan hasil negatif tes antigen-PCR bagi yang telah disuntik vaksin Corona dosis kedua atau ketiga. Aturan tersebut tertera dalam Surat Edaran Satgas COVID-19 Nomor 11 Tahun 2022 tentang Ketentuan Perjalanan Orang dalam Negeri pada Masa Pandemi COVID-19.

Menanggapi kebijakan tersebut, Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Dr M Atoillah Isfandiari dr MKes menyampaikan syarat terbaru dari pemerintah dinilai kurang tepat sasaran.

"Pelonggaran pemeriksaan tes antigen dan PCR itu lebih baik ditujukan bagi pelaku perjalanan domestik yang telah vaksinasi booster," ucapnya dikutip dari laman resmi Unair, Senin (14/3/2022).


Dr Ato menyebutkan hal itu akan lebih meningkatkan keamanan saat perjalanan. Selain itu, syarat tersebut juga dapat mendorong masyarakat untuk melakukan vaksinasi booster.

"Kenyataannya, sebagian masyarakat ikut vaksin bukan karena kesadaraan mendapatkan kekebalan. Tapi agar dapat mengakses yang tidak bisa diakses tanpa vaksin," imbuhnya.


Kasus Positif Sulit Terdeteksi

Di sisi lain, dr Ato juga menjelaskan bahwa penerapan kebijakan baru justru akan mempersulit terdeteksinya kasus positif.

Pencabutan syarat tes antigen dan PCR akan menghilangkan salah satu kontributor terbesar dalam tracing Covid-19.

"Saat mobilitas meningkat, risiko ISPA akan meningkat. Di sisi lain, kita tidak tahu ISPA yang meningkat disebabkan oleh covid atau bukan," jelasnya.


Penerapan Kebijakan Perlu Ditunda

Wakil dekan bidang II Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair itu juga menuturkan, gelombang ketiga memang telah melewati puncak dan konsisten mengalami penurunan.

Namun, kasus harian masih cenderung tinggi. Dijelaskan Dr Ato bahwa penerapan kebijakan yang terburu-buru akan meningkatkan kasus harian dan risiko penularan.

Menurutnya, penerapan kebijakan penghapusan syarat tes antigen dan PCR untuk perjalanan domestik lebih baik ditunda dua minggu lagi.

Penundaan tersebut juga akan membuat kondisi lebih stabil saat memasuki bulan Ramadan dan musim mudik.

"Kalau kita mau bersabar dua minggu lagi. Kita ada di posisi yang sama dengan akhir Januari, posisi dasar gelombang. Saat ini kita masih berada pada lereng gelombang," ujarnya.


Cegah Penularan dengan 3M

Meski sudah dilonggarkan, Epidemiologi UNS itu mengimbau masyarakat untuk tidak lengah menerapkan protokol kesehatan (prokes).

Menurutnya, vaksinasi hanya salah satu cara untuk menghindari gejala berat.

"Tetap pakai masker yang proper sama seperti sekarang dan menjaga jarak. Kita tidak tahu yang bareng kita itu membawa virus atau tidak," tegasnya.

Dr Ato juga berpesan kepada masyarakat untuk menghindari berkerumun dalam waktu yang lama. Jika tidak dapat menghindari kerumunan, pastikan masyarakat untuk berkumpul di ruang terbuka.

"Kita memang sedang dalam proses penurunan gelombang. Tapi, pandemi belum selesai. Saat ini kita hidup berdampingan dengan covid, preventing jauh lebih penting daripada sesal kemudian," tutur Epidemiologi Unair tersebut.



Simak Video "Aturan Kereta Api Terbaru, Kapasitas Penumpang 100 Persen"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia