Nggak Sarapan? Ahli Gizi UGM: Hati-hati Fungsi Otak Turun

Fahri Zulfikar - detikEdu
Sabtu, 26 Feb 2022 08:00 WIB
Ilustrasi sarapan
Foto: Shutterstock/Pentingnya Sarapan Bagi Tubuh
Jakarta -

Sarapan seringkali dilewatkan oleh banyak orang, termasuk para mahasiswa. Alasannya beragam mulai dari bangun kesiangan hingga tidak terbiasa. Padahal, sarapan punya banyak manfaat penting bagi tubuh .

Ahli Gizi UGM, Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, S.Gz., MPH., RD., menjelaskan sarapan penting karena salah satunya menjadi sumber energi atau penyedia bahan bakar bagi tubuh untuk beraktivitas di siang hari.

"Kalau habis tidur 8 jam tidak makan dan minum otomatis kadar glukosa dalam tubuh rendah. Jika tidak mengonsumsi makanan setelah bangun tidur makan akan lemas karena tidak akan bahan bakar yang masuk," ungkapnya dikutip dari laman resmi UGM, Jumat (25/2/2022).

A. Alasan Pentingnya Sarapan

1. Makanan di Pagi Hari Tidak Menjadi Lemak

Mirza mengungkapkan sarapan pagi adalah makanan yang tidak akan pernah disimpan dalam tubuh sebagai lemak karena digunakan untuk beraktivitas.

Karena itu, bagi orang yang ingin menjaga berat badan tidak perlu khawatir berat badan akan naik karena sarapan. Sebab, jika melewatkan sarapan menjadikan tingkat lapar menjadi lebih besar saat waktu makan siang dan sore.

Asupan makanan saat makan siang dan sore menjadi lebih banyak sementara aktivitas cenderung berkurang atau tidak sepadat saat pagi hari sehingga akan menjadi simpanan lemak.

2. Sumber Energi Bagi Otak

Selanjutnya sarapan juga bermanfaat karena menjadi sumber energi bagi otak sehingga meningkatkan fungsi kognitif dan konsentrasi. Sebaliknya jika tidak sarapan maka fungsi kognitif otak berkurang.

"Glukosa dari karbohidrat menjadi energi bagi otak. Dengan sarapan otomatis membuat otak berfungsi dengan baik dan bagi anak-anak atau pelajar membantu meningkatkan kecerdasan memori mata pelajaran yang didapat," terangnya.

3. Menjaga Suasana Hati

Hal penting lain yang didapatkan dari sarapan adalah mampu menjaga suasana hati atau mood. Sarapan menjadi bahan energi yang membuat kondisi otak segar sehingga menjadikan mood bagus.

Sebaliknya, jika berada dalam kondisi lapar menjadikan otak lelah dan memengaruhi mood saat belajar atau beraktivitas menjadi lesu ataupun mudah emosi.

"Sarapan dapat mencegah penyakit maag. Sebab, dengan sarapan lambung akan terisi makanan yang akan menetralisir asam lambung. Apabila lambung kosong terlalu lama akan meningkatkan asam lambung dan jika ini terus dibiarkan akan memicu mual dan muntah," paparnya.

B. Efek Jangka Panjang Melewatkan Sarapan:

1. Lebih Berisiko Terkena Penyakit Jantung

Dosen Departemen Gizi Kesehatan FKKMK UGM ini juga mengimbau masyarakat untuk tidak melewatkan sarapan pagi.

Karena tidak hanya berpengaruh pada tubuh dan otak dalam jangka pendek, tetapi ada ancaman jangka panjang yang mengintai jika terlalu sering mengabaikan sarapan.

Mirza mengatakan orang yang sering melewatkan sarapan lebih berisiko terkena penyakit jantung koroner. Berdasarkan riset, disebutkan bahwa orang dalam rentang usia 45-82 tahun yang melewatkan sarapan berisiko lebih tinggi terkena jantung koroner.

"Riset ini sudah berlangsung selama 16 tahun sehingga menunjukkan jika risiko tersebut tidak main-main," katanya.

Risiko lain adalah terkena kanker. Sebab, dengan melewatkan sarapan akan menyebabkan keseimbangan metabolisme dalam tubuh.

Adanya gangguan metabolik dalam tubuh ini dapat menyebabkan tubuh berlebih atau kekurangan zat penting untuk kebutuhan sel tubuh sehingga meningkatkan risiko terkena kanker.

2. Menurunkan Fungsi Otak

Efek lain melewatkan sarapan yakni bisa menurunkan fungsi otak. Penurunan fungsi kognitif yang biasanya terjadi salah satunya demensia.

"Sarapan harus dipertahankan sebagai sebuah kebiasaan dan juga diperbaiki karena dampaknya akan terasa dalam jangka panjang. Hal tersebut menjadi rentan terhadap masalah kesehatan yang berhubungan dengan penyakit tidak menular yang menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia," tegasnya.

3. Kapan Waktu Ideal untuk Jam Makan?

Sementara itu, penentuan jam waktu makan juga telah dikaji tidak hanya berdasarkan kebiasaan saja. Terdapat kajian ilmiah yang dilakukan berdasarkan jumlah energi yang digunakan (energy expenditure) selama 24 jam seseorang melakukan kegiatan.

Menurut Mirza, energy expenditure akan meningkat kebutuhannya seiring berjalannya waktu. Saat siang hingga sore biasanya meningkat dan akan menurun perlahan saat malam hari.

Puncak kebutuhan energi berbeda-beda. Hal tersebut menjadi alasan mengapa waktu sarapan, makan siang, dan makan malam beda berdasarkan kebutuhan energi tubuh saat beraktivitas .

"Jam 6-9 waktu bagus untuk sarapan pagi dan idealnya antara jam 7-8, namun bisa disesuaikan dengan aktivitas. Jangan sampai lewat jam 9 karena sudah masuk persiapan pemenuhan kebutuhan makan siang," tutur Ahli Gizi UGM tersebut.



Simak Video "Lucunya Robot Pengantar Makanan Uber Eats di California"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia