Mengenal Logam Tanah Jarang, si 'Harta Karun' Lumpur Lapindo

Novia Aisyah - detikEdu
Kamis, 27 Jan 2022 19:30 WIB
lumpur sidoarjo
Foto: Suparno
Jakarta -

Semburan lumpur Lapindo yang belum berhenti selama 16 tahun disebut mengandung 'harta karun'. Kandungan bernilai ekonomis ini adalah logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth element serta lithium.

Tim terpadu riset mandiri dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pernah meneliti potensi lumpur Lapindo dan menemukan lithium berdasarkan penelitian tersebut. Menurut penuturan pakar Geologi ITS, Amien Widodo, pihaknya sebetulnya telah melakukan penelitian itu sejak lama.

"Kalau ITS kan istilahnya hanya penelitian awal saja. Kita hanya eksperimen beberapa titik saja sambil untuk melihat hasilnya. Nah itu belum bisa kita, sampai jadi belum, kita hanya melihat kandungan lithium dari lumpur," jelas Amien, dikutip dari detikjatim pada Kamis (27/01/2022).

Sementara itu, yang menemukan logam tanah jarang (LTJ) dalam lumpur Lapindo adalah Badan Geologi Kementerian ESDM Republik Indonesia. "Badan Geologi meneliti istilahnya logam tanah jarang tadi, logam langka. Kita menganalisis yang satunya. Kita hanya menganalisis lithium lah istilahnya," sebut Amien.

Logam Tanah Jarang (Rare Earth Element)

Dikatakan dalam American Geosciences Institute, logam tanah jarang adalah rangkaian dari 17 elemen yang di dalamnya termasuk 15 lantanida dalam tabel periodik, ditambah skandium dan itrium. Berdasarkan US Geological Survey, ada lebih dari 200 produk yang menggunakan logam tanah jarang, khususnya adalah teknologi seperti ponsel, televisi layar datar, kendaraan elektrik hybrid, dan sebagainya.

Meski sebetulnya logam tanah jarang sudah ada sejak terbentuknya Bumi, keberadaannya baru disadari pada akhir abad ke-18. Seperti diterangkan dalam Britannica, penemuannya bermula ketika seorang Letnan Carl Axel Arrhenius asal Swedia menemukan mineral berwarna hitam pada tahun 1787 di Ytterby, sebuah kota kecil dekat Stockholm.

Pada tahun 1803, elemen individu yang berhasil diisolasi adalah cerium. Selanjutnya, unsur tanah jarang yang terbentuk secara alami dan terakhir ditemukan adalah lutetium, yakni pada tahun 1907. Selama periode 160 tahun (1787-1947), pemisahan dan pemurnian logam tanah jarang adalah proses yang sulit dan sangat memakan waktu.

Lithium

Mengutip dari Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB), lithium merupakan logam alkali pertama yang berada di golongan I tabel periodik.

Logam dengan nomor atom 3 ini juga dibutuhkan oleh masyarakat modern. Benda-benda elektronik seperti tablet, laptop, atau ponsel pintar, bahkan kendaraan hybrid membutuhkan baterai lithium-ion.

Logam ini tingkat keterdapatannya sangat rendah di kerak bumi, yakni mencapai 21 µg/g. Di alam, lithium tidak ditemukan secara natural, melainkan umumnya didapatkan bersama mineral lainnya.

Produksi lithium dari batuan utamanya saat ini berasal dari Australia, Brazil, Kanada, dan Zimbabwe.

Potensi Logam Tanah Jarang dan Lithium

Seperti disebutkan sebelumnya, logam tanah jarang dan lithium banyak dibutuhkan dalam teknologi tingkat tinggi. Sebagai tambahan, sebagaimana diberitakan sebelumnya oleh detikjatim, kandungan logam tanah jarang atau rare earth element bisa dimanfaatkan untuk teknologi telekomunikasi, komputer, pembuatan baterai kendaraan listrik, serta nuklir.

Dikutip dari detikfinance, Pengamat Hukum energi dan Pertambangan Ahmad Redi berujar, lithium dalam jumlah besar dapat dijadikan bahan baku besar dan bernilai ekonomi tinggi. Guna memanfaatkan potensi 'harta karun' lumpur Lapindo ini, menurutnya bisa dibangun pabrik dan industri pengolahan.

Dirinya menambahkan, jika ada kepentingan ekspor, maka diperlukan adanya smelter dalam negeri.



Simak Video "Arkeolog Israel Temukan Harta Karun di Lepas Pantai Mediterania"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia