Negara Banyak Cetak Uang tapi Kok Malah Jadi Nambah Utang?

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Minggu, 09 Jan 2022 17:00 WIB
Ilustrasi THR
Ilustrasi uang. (Foto: Muhammad Ridho)
Jakarta -

Pemerintah Indonesia mengungkapkan, per akhir November 2021 utang negara sudah mencapai Rp 6.713,24 triliun. Jumlah ini setara dengan 39,84% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Hal serupa ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Negara maju seperti Amerika Serikat juga memiliki utang sebesar 28,43 triliun USD di pengujung 2021, seperti dikutip dari laman resmi pemerintah AS.


Pertanyaan ini dapat terjawab melalui penjelasan Ihda Arifin Faiz dalam buku Kerangka Dasar Akuntansi Berdasarkan Syariah. Teknisnya, ketika pemerintah mencetak uang maka dalam neraca pemerintah juga akan muncul 'kewajiban' berupa utang.Melihat fenomena ini, pernah penasaran tidak, kenapa negara tidak memilih untuk mencetak uang sebanyak-banyaknya dalam melunasi utang negara atau pun memberantas kemiskinan?

Artinya, bila uang yang dicetak tidak ditopang komoditas maka pertambahan neraca pemerintah di sisi aset dengan bertambahnya uang menjadi ilusi semata. Hal ini juga dilatarbelakangi pemerintah yang tidak punya apa-apa untuk membayar utang tersebut.

Kasus ini pernah terjadi di Argentina. Mereka pernah mencetak uang baru dengan nilai 54% persen dari pendapatannya, lalu naik jadi 86 persen pada tahun 1985-1990. Namun, hasilnya nilai Peso terus melemah dan tidak stabil. Masyarakat akhirnya tidak percaya Peso dan mulai pindah ke mata uang USD.

Berikut fenomena lain yang terjadi akibat negara banyak cetak uang

A. Efek panjang kelangkaan barang

Bertambahnya jumlah uang justru tidak membawa dampak positif bagi keuangan negara. Secara teori, terutama saat makin banyak uang yang beredar tidak diikuti dengan makin banyak barang yang ada di pasar.

Kondisi ini membawa harga barang tersebut naik lebih tinggi karena jadi lebih langka dan dicari. Alhasil, nilai uang yang sudah dicetak banyak malah jadi tidak berarti.

B. Munculnya inflasi

Selain itu, inflasi juga muncul saat penggunaan uang tidak ditopang oleh komoditas, sebagaimana yang terjadi di beberapa negara maju di Jerman dan Inggris. Sebelumnya perlu diketahui bahwa inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu.

Di Jerman, inflasi terjadi pada masa Perang Dunia I. Kebutuhan dana yang besar untuk perang membuat Jerman meninggalkan emas sebagai mata uang Mark. Hal ini menyebabkan harga komoditas naik pada 1923.

Harga sepotong roti saat perang di Jerman bahkan mencapai 200 miliar Mark. Para Ibu di Jerman saat itu pun menjadikan uang kertas Mark sebagai bahan bakar karena nilainya lebih rendah dari kayu bakar.

Contoh lain dari negara Inggris, saat negaranya tidak ditopang emas sekitar awal 1900-an. Inggris memilih mencetak banyak uang demi membiayai perang yang dialami negara tersebut.

Pada 1914, Bank of England menerbitkan uang kertas dengan pertumbuhan 41,2 persen untuk membiayai kebutuhan perang. Hasilnya, inflasi naik jadi 13,5 persen, yang berdampak buruk pada kehidupan masyarakat.

Nah, itu dia sejumlah dampak dari mencetak uang sebanyak mungkin yang justru malah menambah utang negara. Jadi, sudah paham bukan, detikers?



Simak Video "Polisi Ringkus 12 Tersangka Pengedar Uang Palsu Jaringan Jakarta & Jatim "
[Gambas:Video 20detik]
(rah/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia