Benarkah Orang yang Cenderung Malas Lebih Cerdas?

Fahri Zulfikar - detikEdu
Senin, 06 Des 2021 17:00 WIB
malas
Foto: shutterstock/ilustrasi orang malas
Jakarta - Pernah menghabiskan waktu sekadar melamun atau berimajinasi tentang sesuatu? hal semacam itu mungkin akan dianggap sebagai orang malas yang tidak beraktivitas.


Tidak bisa dipungkiri, banyak orang malas mendapatkan reputasi buruk, terutama ketika banyak orang sukses di dunia tidak melakukan hal semacam itu.


Namun hal itu bisa jadi keliru karena sains telah menemukan bukti bahwa kemalasan sebenarnya merupakan tanda kecerdasan.


Orang yang Cenderung Malas Lebih Cerdas


Melansir laman CNBC, sebuah studi tahun 2015 yang diterbitkan dalam Journal of Health Psychology mengatakan bahwa rata-rata orang yang kurang aktif secara fisik cenderung lebih cerdas daripada orang yang aktif secara fisik.


Para peneliti bahkan mengembangkan deskripsi untuk kemalasan dengan sebutan "kebutuhan akan kognisi."


Orang yang cenderung malas mendambakan cara yang terstruktur dan beralasan dalam memandang dunia. Mereka sering melakukan aktivitas yang memberikan stimulasi mental intens, seperti brainstorming teka-teki atau berdebat.


Data menemukan bahwa mereka yang memiliki IQ tinggi tidak mudah bosan, sehingga membuat mereka menjadi kurang aktif dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk berpikir.


Dalam penelitian ini, para peneliti menggunakan kuesioner untuk menilai "kebutuhan akan kognisi." Mereka meneliti 60 subjek peserta yang dibagi menjadi dua kelompok yakni pemikir dan non-pemikir berdasarkan tanggapan survei mereka.


Semua peserta kemudian memakai pelacak aktivitas selama tujuh hari, memberikan para peneliti wawasan tentang kebiasaan mereka.


Kelompok yang sangat aktif menjadi mudah bosan ketika harus duduk diam dan mengamati pemikiran abstrak mereka. Sebaliknya, mereka lebih suka merangsang pikiran mereka dengan tugas-tugas aktif, seperti olahraga dan aktivitas fisik lainnya.


Apakah Orang Malas Benar-Benar Lebih Cerdas dan Lebih Sukses?


Untuk menjawab ini tentu akan bergantung pada bagaimana seseorang memandang kemalasan itu sendiri. Namun, sangat mungkin bahwa hal-hal yang dikaitkan dengan kemalasan sebenarnya tidak menunjukkan kemalasan sama sekali.


Bill Gates sering dikutip mengatakan, "Saya selalu memilih orang yang malas untuk melakukan pekerjaan yang sulit, karena orang yang malas akan menemukan cara yang mudah untuk melakukannya."


Banyak pemikir kritis obsesif (atau orang dengan "kebutuhan akan kognisi" yang tinggi) peduli dengan pengurangan tindakan yang sia-sia dan sebaliknya lebih suka menggunakan proses yang efisien.


Ungkapan Bill Gates dengan mempekerjakan orang yang malas mungkin bukanlah ide yang buruk. Mereka cenderung menjadi pemikir strategis yang dapat menemukan jalan pintas yang cerdas, cara untuk menghilangkan masalah, menghemat waktu, dan menyumbangkan ide-ide baru dan inovatif untuk perusahaan.


Kemalasan yang Salah


Michael Lewis, penulis buku laris "Moneyball" dan "The Big Short," mengatakan bukanlah apa-apa jika tidak pintar dan sukses. Bahkan Michael mengatakan, dia tidak menghindar ketika disebut malas.


Karena faktanya, dia bisa menghubungkan sebagian besar kesuksesannya secara langsung dengan kemalasan.


"Kemalasan saya berfungsi sebagai filter," katanya dalam sebuah wawancara dengan Ryan Smith, CEO perusahaan survei online Qualtrics, dikutip CNBC, Senin (6/12/2021).


"Sesuatu harus benar-benar bagus sebelum saya memutuskan untuk mengerjakannya," imbuhnya.


Persepsi Lewis tentang kemalasan adalah disebut juga sebagai "kemalasan palsu". Fakta bahwa kemalasan berkontribusi pada kesuksesannya menghilangkan prasangka stereotip negatif sebagai orang malas.


Contoh dari "kemalasan palsu" adalah video game. Hal ini sering dilihat sebagai aktivitas orang malas karena tanpa pikiran.


Padahal kebanyakan video game membutuhkan pemikiran strategis dan pemecahan masalah yang cukup banyak.


Elon Musk, salah satu orang tersukses di dunia, justru dikenal sebagai gamer yang produktif, dan tentu sulit membayangkan ada orang yang melabelinya sebagai pemalas.


Di balik lebih dari 100 jam kerja selama seminggu dan bertahun-tahun tanpa liburan, Musk telah membangun setidaknya enam perusahaan yang sangat sukses. Hal itu membuat dia jauh dari kata "tidak cerdas".


Tidak hanya itu, ada juga Mark Zuckerberg (CEO Facebook) dan Larry Page (Pendiri Google) yang suka bermain video game. Tentu kedua orang ini sama sekali tidak malas dan juga tidak cerdas.


Michael menjelaskan bahwa inti dari malas adalah definisi yang sangat luas. Namun, bukti menunjukkan bahwa seseorang mampu untuk lebih sadar memahami kualitas diri orang lain dengan penilaian sendiri.


"Sementara itu, kita harus mempertimbangkan untuk merangkul aspek positif dari kemalasan batin kita sendiri," tuturnya.

Simak Video "Jangan 'Jebak' Anak ke Psikolog"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia