Kolom Edukasi

Merintis Jalan Santri Merambah Dunia Digital

Arif Firmansyah - detikEdu
Jumat, 29 Okt 2021 09:45 WIB
Arif Firmansyah
Foto: Dokumen pribadi
Jakarta - Dunia pesantren mulai menaruh perhatian besar terhadap teknologi digital yang berkembang pesat dalam satu dasawarsa terakhir. Berbagai kajian, halaqah, bahtsul masail, hingga seminar diadakan khusus untuk membedah apa dan bagaimana teknologi yang semakin hari semakin memudahkan kehidupan umat manusia ini. Termasuk juga dampaknya terhadap kehidupan pesantren secara itu sendiri. Dalam dunia yang serba terhubung seperti sekarang ini, sulit rasanya pesantren steril dari kehadiran teknologi. Dalam skala yang paling kecil sekalipun, teknologi digital akan hadir di tengah-tengah kehidupan pesantren.

Smarthphone di tangan seorang kiai adalah bentuk sederhana kehadiran teknologi digital di tengah pesantren. Begitu juga saat pengurus pondok membayar tagihan listrik menggunakan m-banking. Atau pendaftaran santri baru secara daring (online) hingga ujian masuk pesantren dengan fasilitas virtual meeting. Perangkat digital yang membantu memudahkan aktivitas ini tanpa disadari sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak pesantren di Indonesia. Tentu ini perkembangan yang layak disyukuri dan diapresiasi. Anggapan bahwa pesantren 'anti' atau 'alergi' dengan teknologi pada akhirnya jauh panggang dari api karena tidak terbukti.

Memang ada anggapan kalau dunia pesantren teralienasi dari teknologi digital yang sedang berkembang pesat. Anggapan ini mungkin berawal dari kebijakan pesantren yang membatasi santri dalam penggunaan digital device, terutama smartphone. Mereka juga tidak mungkin menikmati social platform seperti rekan-rekan seusianya di luar pesantren. Namun, satu sisi ini tidak dapat digunakan untuk menjustifikasi pesantren secara umum. Apalagi dunia pesantren sebenarnya tidak asing sama sekali dengan teknologi, terutama ilmu-ilmu dasar yang menjadi pondasi berkembangnya teknologi digital di masa sekarang.

Selama ini, dunia pesantren memang identik dengan tempat belajar terbaik untuk mendalami ilmu-ilmu agama plus praktek ibadah hingga muamalah. Pesantren juga identik dengan kitab kuning (kutubut turats), referensi klasik yang ditulis oleh para ulama dari generasi tabi'in, tabiut tabi'in, generasi kejayaan Islam pada abad ke-7 sampai abad ke-12 hingga ulama abad ke-20. Dengan referensi klasik ini para santri mendalami beragam topik yang mencakup bidang akidah, fiqih, 'ulumul Quran, hadist, tafsir, ushul fiqh, balaghah, mantiq, qira'ah, dan lainnya. Kitab semacam Riyadus Sholihin, Bulughul Maram, Fathul Qarib, Matan Al Ajurumiyah, Alfiyah Ibnu Malik, Kifayatul Akhyar dan lain-lain tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dunia pesantren.

Dengan referensi kitab kuning inilah para santri belajar satu topik secara runut dan sistematis berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan. Berbekal kitab kuning ini juga mereka belajar mengkaji beragam topik, baik yang ada maupun tidak ada contoh konkret di masa Nabi SAW. Termasuk juga untuk merespon perkembangan teknologi digital dan produk turunanya seperti transaksi jual beli secara daring melalui platform e-commerce. Tradisi pembelajaran dan keilmuan yang telah mengakar ini merupakan modal besar bagi pesantren untuk memberi kontribusi yang lebih besar terkait perkembangan teknologi.

Di tengah perubahan jaman yang sangat cepat, sudah waktunya pesantren mengambil peran lebih besar. Tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, apalagi sekadar konsumen dan pasar. Pesantren dengan sumber daya santrinya, perlu berkontribusi lebih besar sebagaimana ilmuwan muslim di masa silam. Kontribusi ini dapat diawali dengan menghidupkan kembali tradisi keilmuan eksakta dalam proses belajarnya. Ilmu-ilmu eksakta sebagai pondasi teknologi sebenarnya bukan hal yang asing. Paling tidak, ilmu falak (astronomi) dan ilmu faraid yang berbasis ilmu hitung adalah contoh nyata ilmu eksakta yang banyak dipelajari di pesantren.

Ruang untuk ilmu-ilmu eksakta

Dunia pesantren punya kesempatan besar jika ingin menghidupkan kembali ilmu-ilmu eksakta di dalam materi belajarnya. Tanpa harus mengubah materi yang digunakan selama ini, ilmu-ilmu eksakta dapat ditempatkan sebagai pelengkap materi 'ulumul Quran, hadist, fiqh, tafsir, qira'ah, dan lain-lain. Syukur-syukur materi eksakta ditempatkan sajajar atau sama dengan materi yang selama ini dipelajari. Dalam hal ini, ada kaidah menarik dalam ushul fiqh yang sering dijadikan pegangan untuk merespon hal yang baru: "Al muhaafadzotu 'ala alqodim as sholeh, wal akhdu bi aljadid al ashlah" (mempertahankan hal-hal lama yang masih bagus dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik).

Untuk mengakomodasi ilmu eksakta, pesantren tetap bisa mempertahankan tradisi belajarnya, termasuk dalam penggunaan kitab kuning. Karya klasik ilmuwan muslim di bidang ilmu eksakta sangat melimpah. Sebut saja Al-Kitab al-Mukhtashar fi Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah (Buku Rangkuman untuk Kalkulasi dengan Melengkapkan dan Menyeimbangkan) yang ditulis oleh Al Khawarizmi (780-850 M). Ilmuwan bernama lengkap Abu Ja'far Muhammad bin Musa ini yang pertama mengenalkan notasi nol (0) dalam bilangan matematika. Al Khawarizmi juga dikenal sebagai peletak dasar-dasar algoritma yang sekarang menjadi bagian tidak terpisahkan dari implementasi teknologi digital.

Selain Al Khawarizmi, masih banyak ilmuwan muslim yang melahirkan karya monumental di ranah sains. Sebut saja Al Biruni dengan Al Qanun Al Mas'udi, Ibn al-Haytham dengan terobosan besarnya di bidang optik dengan karya monumentalnya, Al Manazir. Ibn al-Haytham (Alhazen) tidak sekadar menulis buku, tapi juga melakukan riset dan percobaan membuat cermin kanta cekung dan cermin kanta cembung dengan mesin lathe (larik). Temuan ini telah menghilhami Roger Bacon dan Johannes Kepler ketika menciptakan mikroskop dan teleskop.

Di luar nama-nama besar seperti Al Khawarizmi, Ibn al-Haytham, tentu masih banyak ilmuwan muslim klasik di ranah sains yang layak dijadikan referensi. Sebut saja Ibnu Sina (kedokteran), Al Battani (trigonometri), Al Karaji (hidrologi), Umar Khayyam (matematika), Abu Wafa al Bawzajani (matematika), Jabir Ibn Hayyan (kimia), Abu Nasr Mansur (matematika) dan lainnya. Pesantren perlu menempatkan karya-karya di bidang eksakta ini seperti halnya karya ilmuwan di bidang keagamaan seperti Ibn Jarir At Thabari (tafsir), Al Qurtubi (tafsir), Imam Bukhari (hadis), Imam Al Ghazali (tasawuf), dan lain-lain.

Bayangkan sebuah kehidupan di pesantren seperti ini. Di pagi hari para santri tekun mengkaji Kifayatul Akhyar, salah satu kitab untuk mendalami fiqh Syafi'i. Bisa juga khusyu' menghafal bait-bait Alfiyah Ibnu Malik untuk belajar tata bahasa Arab. Di sore hari, mereka beralih belajar rasio trigonometri: Sinus (sin), Cosinus (cos), Tangen (tan) dan Cotangen (cot) yang ditemukan oleh Habash al-Hasib al-Marwazi. Atau bisa juga mencoba menelusuri unsur belarang yang direaksikan dengan mercuri dan air seperti percobaan Jabir Ibn Hayyan ketika menemukan Asam Sulfat (H2SO4).

Dengan memberikan ruang yang cukup untuk ilmu-ilmu eksakta, paling tidak pesantren sudah melakukan dua hal sekaligus. Pertama, melestarikan tradisi belajar melalui sumber aslinya yakni kitab kuning (kutubut turast). Kedua, melatih santri bersentuhan langsung dengan dasar-dasar ilmu eksakta yang menjadi pondasi teknologi digital di masa sekarang. Harapannya, tentu saja akan muncul figur maupun karya penting di dunia digital yang dilahirkan dari rahim pesantren. Semoga Allah meridhoi.

Arif Firmansyah

Alumni Pondok Pesantren Al Amien Madura dan Pelaku Bisnis Digital

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

Simak Video "Hari Santri Nasional, Jokowi: Santri Harus Jadi Pengusaha"
[Gambas:Video 20detik]
(erd/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia