Tentang Sinetron Zahra dan Pernikahan Dini, Ini Tanggapan Pakar Gender UNAIR

Novia Aisyah - detikEdu
Rabu, 09 Jun 2021 16:20 WIB
Panji Saputra pmeran Pak Tirta bersama dengan 3 istrinya dalam sinetron Zahra
Foto: dok. Instagram Panji Saputra
Jakarta - Sinetron Suara Hati Istri: Zahra yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi, menuai banyak tanggapan kontra dalam beberapa waktu belakangan. Selain persoalan isi cerita dari sinetron tersebut, kontroversi lain bersumber dari salah satu pemainnya yang masih berusia 15 tahun.

Seperti sebelumnya diberitakan oleh detikcom, kini sinetron tersebut dihentikan penayangannya untuk sementara oleh KPI. Pihak stasiun televisi yang menayangkan sinetron tersebut disebut perlu mengevaluasi alur cerita.

Di samping alur cerita serta pemain berusia 15 tahun, ada juga persoalan lain menurut pakar Gender dan Kajian Budaya dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNAIR yang disiratkan dalam sinetron tersebut. Seperti apa pendapat beliau?

Seperti dikutip dari laman UNAIR, Pakar Gender UNAIR, Prof. Diah Ariani Arimbi mengungkapkan bahwa sinetron Suara Hati Istri: Zahra telah memancing kesadaran masyarakat bahwa pernikahan dini masih terjadi di Indonesia. Beliau juga menekankan bahwa sebelum menganggap sinetron tersebut mempromosikan pernikahan dini, terlebih dulu kita perlu melihat bagaimana representasi perkawinan anak.

Prof. Diah menggarisbawahi tokoh Zahra yang merasa sedih, tertekan, dan depresi sebagai representasi negatif perkawinan anak. Dan karena itu pula, dari representasi tersebut mengandung pesan bahwa pernikahan dini tak boleh ditiru karena merusak masa depan anak-anak.

Selain hal ini, Prof. Diah juga memaparkan, "Namun harus diingat juga kalau perkawinan anak selain menyalahi UU perkawinan untuk batas usia, juga bisa menunjukkan adanya eksploitasi anak." Undang-undang perkawinan yang dimaksud adalah UU nomor 16 tahun 2019 yang menyatakan bahwa kini batas usia perkawinan adalah 19 tahun, baik untuk perempuan maupun laki-laki.

Kemudian, menanggapi usia pemain Zahra, Prof. Diah juga menyebutkan bahwa pihak rumah produksi telah melanggar UU nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Ada dampak psikologis yang ditimbulkan karena perbedaan usia pemain Zahra yang masih remaja dan Pak Tirta sebagai orang dewasa.

Menurut beliau, adanya adegan romantis antara Zahra dan Pak Tirta memperlihatkan relasi kuasa, pemaksaan, dominasi dan subordinasi. "Adegan semacam itu bisa merepresentasikan eksploitasi terhadap anak-anak yang tidak hanya seksual tetapi juga eksploitasi lainnya dan bahkan mungkin hubungan yang abusive," ujar Prof. Diah.

Menutup tanggapannya terhadap sinetron Suara Hati Istri: Zahra, Prof. Diah berharap sinetron Indonesia ke depannya punya cerita yang edukatif dan punya powerful message. "Kalau memang menceritakan poligami dan perkawinan anak-anak, buatlah seinformatif dan seedukatif mungkin," kata beliau.



Simak Video "Kontroversi Sinetron Zahra hingga Pemerannya Akan Diganti"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia