Mengapa Warna Merah Gerhana Bulan Total Tidak Pernah Sama? Ini Jawabannya

Anatasia Anjani - detikEdu
Rabu, 26 Mei 2021 12:00 WIB
Puncak gerhana bulan sebagian atau parsial sekitar pukul 04:30 WIB terlihat dari Bekasi, Jawa Barat, Rabu (17/7/19). Durasi gerhana bulan sebagian ini dapat diamati selama dua jam dan 58,8 menit dari fase awal hingga fase akhir. ANTARA FOTO/Paramayuda/wsj.
Foto: ANTARA FOTO/Paramayuda/Mengapa Warna Merah Gerhana Bulan Total Tidak Pernah Sama? Ini Jawabannya.
Jakarta - Siap-siap hari ini akan ada gerhana bulan total lho detikers! Gerhana bulan biasanya terjadi dua hingga tiga kali dalam satu tahun. Di tahun 2021 ini, gerhana bulan total akan terjadi pada 26 Mei dan 19 November terjadi gerhana bulan sebagian.

Gerhana bulan total dapat disaksikan di sebagian besar wilayah Indonesia. Sedangkan gerhana bulan sebagian bulan November nanti, sayangnya seluruh wilayah Indonesia tidak dapat melihat seluruh rangkaian fase gerhana.

Tahukah kalian bahwa setiap gerhana bulan total tidak pernah memiliki warna merah yang sama?

Dikutip dari rilis Observatorium Bosscha ITB, warna merah dalam gerhana bulan total terjadi karena cahaya matahari dihamburkan debu dan molekul di atmosfer bumi, sebelum terpantulkan lagi ke arah bulan.

Selain merah, terdapat juga cahaya biru yang terhambur lebih kuat. Berbeda dengan biru, cahaya merah dapat lolos melewati atmosfer bumi. Sehingga peristiwa gerhana bulan total sering disebut blood moon atau bulan merah-darah.

Foto-foto gerhana bulan total sebelumnya memperlihatkan, warna merah di gerhana bulan tidak selalu sama. Bulan dapat berwarna merah oranye, merah bata, merah kecoklatan, hingga merah gelap.

"Perbedaan warna gerhana bulan total disebabkan kadar uap air, polusi udara dari hasil asap pabrik atau kendaraan bermotor, debu, dan letusan gunung berapi. Jika terlalu banyak membawa kandungan tersebut warna merah pada bulan akan semakin gelap," tulis Observatorium Bosscha ITB.

a. Proses terjadinya gerhana bulan total di Indonesia

Proses terjadinya gerhana bulan total di Indonesia dimulai saat bayangan umbra Bumi masuk pukul 16.44 WIB. Saat itu, hanya wilayah Indonesia timur saja yang dapat menyaksikannya karena Bulan sudah terbit di sana.

Seiring dengan masuknya Bulan pada bayangan umbra Bumi, bayangan gelap mulai muncul di permukaan Bulan sehingga tampilan bulan purnama akan tampak berubah bentuk menjadi bulan setengah, lalu bulan sabit, dan kemudian pada fase totalnya Bulan akan terlihat kemerahan (pukul 18.11 WIB hingga 18.25 WIB).

Selanjutnya pada pukul 19.52 WIB, Bulan meninggalkan umbra Bumi menuju bagian penumbra. Bulan akan terlihat sebagai purnama yang redup karena pengaruh dari bayangan penumbra Bumi. Kemudian pada pukul 20.49 WIB, bulan tidak lagi berada pada bayangan bumi dan peristiwa gerhana bulan total telah berakhir. Bulan akan kembali terang sebagai bulan purnama.

b. Supermoon

Gerhana bulan total yang terjadi hari ini bertepatan dengan dekatnya jarak bulan dan Bumi. Peristiwa ini disebut perigee. Bulan purnama saat perigee dikenal dengan istilah supermoon. Sehingga gerhana bulan total pada 26 Mei 2021 disebut sebagai super blood moon eclipse atau gerhana bulan total super merah.

Ukuran piringan bulan saat supermoon akan nampak sedikit leboh besar (hingga 14%) dan lebih terang (hingga 30%) ketimbang bulan purnama pada umumnya karena orbit Bulan yang berupa elips sehingga jarak Bumi-Bulan tidak selalu sama.

Pengamatan supermoon akan dilakukan oleh Bosscha bersama dengan Nusa Cendana (UNDANA), Komunitas Pecinta Langit Timor, dan astronom amatir dari Kupang.

Jika detikers berminat melihat gerhana bulan total, kalian dapat melihat siaran langsung melalui kanal Youtube Observatorium Bosscha.

Simak Video "Pemantauan Gerhana Bulan Total di Pantai Ancol"
[Gambas:Video 20detik]
(row/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia