Keren! Ilmuwan Sebut Kelelawar Tahu Kecepatan Suara Sejak Lahir

Kristina Ina - detikEdu
Jumat, 14 Mei 2021 13:20 WIB
Virus Nipah dikhawatirkan dapat jadi ancaman munculnya pandemi baru di dunia. Selain karena angka kematian yang tinggi, virus itu diketahui belum ada obatnya.
Foto: Ian Waldie/Getty Images/Keren! Ilmuwan Sebut Kelelawar Tahu Kecepatan Suara Sejak Lahir
Jakarta - Sebuah studi baru dari Universitas Tel Aviv mengungkapkan untuk pertama kalinya bahwa kelelawar mengetahui kecepatan suara sejak lahir. Artinya kelelawar memiliki indra bawaan yang konstan.

Seperti dilansir ScienceDaily, untuk membuktikan hal ini para peneliti memelihara kelelawar sejak lahir di lingkungan yang diperkaya helium, di mana kecepatan suaranya lebih tinggi dari biasanya.

Hasilnya, mereka menemukan bahwa kelelawar tidak seperti manusia yang memetakan dunia dalam satuan jarak, tetapi memetakan dunia dalam satuan waktu. Artinya, kelelawar memandang serangga berada pada jarak 9 milidetik dan bukan 1,5 meter seperti yang diperkirakan hingga saat ini.

Virus Nipah dikhawatirkan dapat jadi ancaman munculnya pandemi baru di dunia. Selain karena angka kematian yang tinggi, virus itu diketahui belum ada obatnya. Keren! Ilmuwan Sebut Kelelawar Tahu Kecepatan Suara Sejak Lahir Foto: Getty Images/Lauren DeCicca

Seperti diketahui, kelelawar merupakan hewan yang menggunakan sistem sonar. Sistem ini digunakan untuk mendeteksi objek dengan gelombang ultrasonik. Gelombang suara yang mengenai benda akan dipantulkan kembali ke kelelawar.

Kelelawar dapat memperkirakan posisi benda berdasarkan waktu yang berlalu, antara saat gelombang suara dihasilkan dan saat ia dikembalikan ke kelelawar. Perhitungan ini bergantung pada kecepatan suara dalam kondisi lingkungan yang berbeda, seperti komposisi udara atau suhu.

Sejak penemuan sonar pada kelelawar 80 tahun yang lalu, para peneliti telah mencoba untuk mencari tahu apakah kemampuan kelelawar dalam mengukur kecepatan merupakan indra bawaan sejak lahir.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences ini telah berhasil menjawab pertanyaan tersebut. Para peneliti yang dipimpin oleh Kepala Sekolah Ilmu Saraf Sagol Prof Yossi Yovel, serta anggota fakultas Sekolah Zoologi di Fakultas Ilmu Hayati melakukan percobaan dengan memanipulasi kecepatan suara.

Mereka memperkaya komposisi udara dengan helium untuk meningkatkan kecepatan suara. Dalam kondisi tersebut, mereka mengamati anak kelelawar yang dibesarkan sejak lahir dan kelelawar dewasa.

Hasil percobaan membuktikan baik kelelawar dewasa maupun anak kelelawar tidak dapat menyesuaikan diri dengan kecepatan suara yang baru. Mereka tidak dapat mendarat di depan target secara konsisten.

Para peneliti menyimpulkan bahwa laju kecepatan suara pada kelelawar merupakan bawaan sejak lahir. Mereka memiliki indra yang konstan.

"Karena kelelawar perlu belajar terbang dalam waktu singkat setelah lahir," jelas Prof Yovel.

Kesimpulan menarik lainnya dari penelitian ini adalah, kelelawar tidak benar-benar menghitung jarak ke target berdasarkan kecepatan suara. Hal ini terlihat dari cara kelelawar dalam menyesuaikan kode di otaknya.

"Yang paling membuat saya bersemangat tentang penelitian ini adalah kami dapat menjawab pertanyaan yang sangat mendasar. Kami menemukan bahwa sebenarnya kelelawar tidak mengukur jarak, melainkan waktu untuk menyesuaikan diri di luar angkasa," terangnya.

Para peneliti menyimpulkan persepsi spasial kelelawar sebenarnya didasarkan pada pengukuran waktu bukan jarak.



Simak Video "Memasak Daging Kelelawar, Palangkaraya"
[Gambas:Video 20detik]
(pay/pay)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia