Peneliti Amerika Serikat Paling Banyak Ajukan Izin Riset di Indonesia

Anatasia Anjani - detikEdu
Kamis, 06 Mei 2021 18:17 WIB
Pretty scientist studying new virus in laboratory
Foto: thinkstock
Jakarta - Indonesia sangat menarik bagi para peneliti asing sebagai tempat melakukan riset. Ternyata menurut data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) peneliti dari Amerika Serikat yang paling banyak mengajukan permohonan izin untuk riset di Indonesia.

Direktur Pengelolaan Kekayaan Intelektual Deputi Penguatan Riset dan Pengembangan BRIN Heri Hermansyah mengungkapkan daya tarik Indonesia tersebut disebabkan karena negara ini merupakan living land untuk berbagai keilmuan.

Setiap tahun menurut Heri ada sekitar 500 lebih surat izin penelitian yang dikeluarkan. Data yang dikeluarkan BRIN menunjukkan pada 2017 ada 557 surat izin, lalu 521 surat pada 2018, dan 554 pada 2019.

"Negara-negara yang mendominasi perizinan peneliti asing selama 10 tahun terakhir adalah Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Prancis, United Kingdom, China, Australia, Kanada, dan Italia," ujar Heri dalam diskusi virtual Perizinan Penelitian Asing di Indonesia, Kamis (6/5/2021).

Selama periode 2010-2019 ada 1.064 peneliti dari Amerika Serikat yang mendapatkan surat izin penelitian disusul Jepang dengan jumlah 858 peneliti. Kemudian Jerman sebanyak 505, Prancis 453 peneliti, dan United Kingdom 399 peneliti.

Menurut Heri paling penting harus didorong kerja sama penelitian internasional yang lebih adil dan setara serta ada pembagian keuntungan. Apalagi Indonesia merupakan lokasi dari area penelitian tersebut. "Maka sudah tentu Indonesia tidak boleh gigit jari. Indonesia harus mendapatkan benefit dari hasil penelitian yang dilakukan," ujar Heri.

Sementara, Plt. Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan BRIN, Ismunandar menyampaikan terdapat sejumlah kewajiban peneliti asing menurut Undang-undang Nomor 11 tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Peneliti asing dalam melakukan riset di Indonesia wajib melibatkan sumber daya manusia dari Indonesia dengan kapasitas ilmiah yang setara sebagai mitra kerja.

"Mereka juga wajib mencantumkan nama sumber daya manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di dalam setiap keluaran yang dihasilkan dalam kegiatan bersama," ujar Ismunandar.

Selain itu, peneliti asing wajib menyerahkan data primer kegiatan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan. Kemudian, membuat perjanjian tertulis tentang pengalihan material dalam rangka pemindahan atau pengalihan material dalam bentuk fisik atau digital. (pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia