Insiden KRI Nanggala-402, Siapakah Komandan Kapal Selam Pertama Indonesia?

Pasti Liberti Mappapa - detikEdu
Rabu, 28 Apr 2021 11:00 WIB
Latihan kapal selam 1958
Perwira Angkatan Laut Indonesia sedang latihan diatas kapal selam Uni Soviet di laut Baltik, Agustus 1958 (Foto: Dispen ALRI)
Jakarta -

Duka mendalam mewarnai negeri ini saat Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengumumkan, kapal selam KRI Nanggala-402 tenggelam dan seluruh awaknya gugur Minggu (25/4/2021) lalu.

Tim pencari menemukan kapal yang dibeli dari Jerman pada 1981 tersebut berada di dasar laut dengan kedalaman 838 meter di utara Pulau Bali. KRI Nanggala-402 terlihat terbelah menjadi tiga bagian.

Bersama KRI Cakra-401, kapal selam yang dikomandani Letkol Laut (P) Heri Oktavian ini merupakan kapal selam ke-13 dan 14 yang pernah dimiliki TNI AL.

Sementara kapal selam pertama Indonesia juga dengan nama yang sama RI Tjakra dan RI Nanggala merupakan buatan Uni Soviet. Kapal-kapal ini bergabung dengan armada kapal perang Indonesia pada September 1959.

Setelah persetujuan pembelian kapal selam dicapai pada 1957, tahun berikutnya bakal awak kapal perang dikirim untuk belajar dan dididik di Gdynia, Polandia.

Lalu siapa perwira yang ditunjuk memimpin awak kapal selam yang baru dibeli itu?

Raden Pandji Poernomo yang saat itu berpangkat Mayor Laut ditunjuk memimpin rombongan prajurit untuk mengikuti pendidikan kapal selam di Polandia.

Kepala Staf Angkatan Laut saat itu Laksamana Madya Raden Soebijakto mempertimbangkan pengalaman RP Poernomo yang pernah mengenyam pendidikan perwira torpedo saat berlatih di atas kapal selam Belanda.

RPP di atas kapal selamMayor Laut RP Poernomo pimpinan angkatan pertama spesialisasi kapal selam sedang mengikuti latihan berlayar diatas kapal selam Uni Soviet di laut Baltik, 1958 Foto: (Dispen ALRI)

Putra RP Poernomo, Raditya Poernomo mengungkapkan ayahnya pernah disekolahkan di School voor Torpedo Officieren di Angkatan Laut Kerajaan atau Koninklijk Instituut voor de Marine (KIM) Den Helder, Belanda.

"Kemudian diteruskan Torpedo Control Course and Motor Boats Royal Navy Angkatan Laut Kerajaan Inggris, di Portsmouth dan Plymouth, United Kingdom pada 1952 sampai 1953," ujar Raditya pada detikEdu, Selasa (27/4/2021).

RP Poernomo adalah perwira kelahiran Surabaya, 18 Agustus 1926. Lulusan Sekolah Pelayaran Tinggi ini pada masa Perang Dunia II pernah menjadi Anak Buah Kapal Mualim Kapal Angkut Jepang MV Sakura Maru 26.

Saat proklamasi kemerdekaan RP Poernomo ikut berjuang membentuk BKR Laut atau pasukan "L" yang merupakan cikal bakal TNI AL di Modderlust, Ujung Surabaya. "Ayah juga ikut pertempuran Surabaya dan bergabung dengan BKR Laut," ujar Raditya.

RP Poernomo mendapatkan NRP : 83/P kemudian ditugaskan di Markas Tertinggi Angkatan Laut di Lawang, Jawa Timur. Setelah itu sejumlah pendidikan diikutinya seperti Pendidikan Latihan Opsir di Kalibakung Jawa Tengah dan Pendidikan Special Operations Kementerian Pertahanan RI di bawah pimpinan Mayor Laut RE.Martadinata, di Sarangan Jawa Timur.

Suami dari Aminarti ini lalu ditempatkan di kantor Delegasi RI di Jakarta sebagai perwira penghubung pada Central Joint Board yang saat itu diduduki Belanda.

Penugasannya di kapal perang diawali pada 1950 sebagai perwira artileri di RI Hang Tuah. RI Hang Tuah merupakan korvet pertama yang dimiliki Angkatan Laut RI. Posisinya kemudian berpindah menjadi Perwira Operasi Komando Daerah Maritim Djakarta. Setelah itu dikirim untuk belajar ke Belanda dan Inggris.

Sepulang pendidikan dari Eropa, RP Poernomo ditugaskan jadi Perwira Torpedo RI Gadjah Mada kapal perusak pertama milik Angkatan Laut. Dia juga pernah menjadi Kepala Divisi atau Instruktur Torpedo Senjata Bawah Air di AAL Surabaya dan Panglima Komando Daerah Maritim Surabaya.

Dengan segudang pengalaman RP Poernomo berurusan dengan torpedo, pimpinan AL tak ragu menunjuknya memimpin 112 calon awak kapal selam berangkat menuju Polandia pada 5 Agustus 1958.

Selanjutnya Mayor Laut R.P. Poernomo ditunjuk jadi komandan

KLIK SELANJUTNYA UNTUK MEMBACA

Selanjutnya
Halaman
1 2

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia