KRI Nanggala-402 Tenggelam, Ini Sejarah Dua Nanggala Milik TNI AL

Tim detikcom - detikEdu
Senin, 26 Apr 2021 10:00 WIB
KRI I Gusti Ngurah Rai-332 dan KRI Oswald Siahaan (OWA) -354 bersiap-siap berlayar untuk melakukan operasi pencarian KRI Nanggala-402 di Pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (24/4/2021). Pencarian kapal selam KRI Nanggala-402 difokuskan di laut sebelah utara Bali, yakni sekitar 40 km dari Celukan Bawang, Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/hp.
Proses pencarian KRI Nanggala-402 yang tenggelam (Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Jakarta - Setelah upaya pencarian yang dilakukan selama empat hari, akhirnya Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyatakan seluruh awak KRI Nanggala-402 yang sedang melakukan latihan di perairan utara Pulau Bali gugur.

Pernyataan Panglima TNI dikeluarkan setelah KRI Rigel mendapatkan visual kondisi kapal dan ROV milik kapal Singapura MV Swift Rescue menemukan sejumlah serpihan dari kapal naas tersebut.

Bagian dari KRI Nanggala-402 yang ditemukan diantaranya jangkar, kemudi vertikal belakang, kemudi selam timbul, dan baju keselamatan awak MK 11.

"Berdasarkan bukti-bukti autentik tersebut, dapat dinyatakan, bahwa KRI Nanggala-402 telah tenggelam dan seluruh awaknya telah gugur," kata Hadi, dalam jumpa pers di Bali, Minggu (25/4/2021).

Sehari sebelumnya, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono menyatakan KRI Nanggala-402 statusnya ditingkatkan jadi fase subsunk atau tenggelam.

Dalam sejarahnya, TNI AL pernah memiliki dua kapal selam yang menyandang nama Nanggala, sebuah senjata pamungkas Prabu Baladewa. Berikut kisah dari dua Nanggala ini.


1. RI Nanggala S-02/403 tahun 1959

Sejak tahun 1944 Jerman sudah mulai memproduksi kapal selam paling modern di masanya. Kapal ini disebut sebagai tipe XXI. Jerman disebut memproduksi sebanyak 120 kapal tipe XXI. Kapal ini dipersiapkan menggempur kekuatan laut Sekutu. Namun hanya dua yang sempat beroperasi.

Seperti dikutip dari buku Mission Accomplished : Misi pendaratan pasukan khusus oleh Kapal Selam RI Tjandrasa karya Atmadji Sumarkidjo, saat Jerman menyerah, tentara Rusia yang menguasai seluruh wilayah yang terdapat dok kapal selam Jerman memboyong hampir semua kapal selam tipe XXI yang belum selesai.

Bahkan, ada informasi sejumlah besar pekerja dan insinyur yang merancang dan membuat kapal selam XXI juga dibawa ke Rusia. Akhirnya pada 1946 AL Rusia mengeluarkan purwarupa kapal selam baru yang basis rancangannya diambil dari teknologi kapal selam XXI.

Teknologi yang ditiru yakni metalurgi dan teknik pengelasan. Selain itu teknologi snorkel-nya yang memungkinkan kapal tidak perlu muncul ke permukaan secara penuh jika hendak mengisi baterai-baterainya.

Nanggala S-02/403Nanggala S-02/403 Foto: dok. Mission Accomplished : Misi pendaratan pasukan khusus oleh Kapal Selam RI Tjandrasa

Pengembangan kapal selam ini dilakukan Lazurit Central Design Bureau di Gorky. Produk kapal selam baru ini dinamakan Project 613. Pertama kali diluncurkan pada 1949. Kapal selam baru ini dikategorikan kapal selam patroli lepas pantai, bukan kapal selam yang beroperasi di samudera lepas.

Kapal selam itu oleh NATO diberi kode kelas "W" atau Whiskey. Panjangnya 76 meter dan lebar 6,3 meter. Beratnya sekitar 1080 saat tidak menyelam. Menggunakan mesin pendorong diesel-elektrik kapal ini punya kecepatan maksimum di permukaan sekitar 18,5 knot dan 13 knot saat menyelam.

Persenjataan utama kapal selam kelas "W" adalah torpedo 533 milimeter. Terdapat 6 peluncur torpedo, empat peluncur menghadap haluan, sisanya ke buritan. Di sejumlah varian, kapal selam ini dilengkapi pula dengan meriam penangkis udara kembar 25 mm.

Kapal selam juga dilengkapi dengan radar dan peralatan sonar pasif. Keistimewaan teknologi inilah yang membuat Angkatan Laut RI tak ragu membeli dua kapal selam tipe itu tahun 1959. Pembelian tersebut dalam rangka perebutan Irian Barat.

Dua kapal selam pertama Indonesia ini kemudian diberi nama RI Tjakra 401 dengan komandan pertama Ltk R.P. Poernomo dan RI Nanggala 403/S-02. RI 403 Nanggala punya komandan pertama Mayor Laut O.P. Koesno.

Setelah kedatangan Tjakra dan Nanggala, pada tahun 1962 Uni Soviet kembali mengirimkan 10 kapal selam sejenis. Atmadji dalam bukunya menyebut beberapa sumber mengatakan 12 kapal selam tersebut bukan buatan baru.

Diperkirakan kapal-kapal tersebut diproduksi antara tahun 1955-1956. Hanya saja semua peralatan penting di kapal diganti yang baru. Nanggala dan kawan-kawannya lantas dipensiunkan pada 1972. Dari 12 kapal selam buatan Uni Soviet, hanya KRI Pasopati yag bertahan sampai 1980


2. KRI Nanggala-402 tahun 1981

Setelah seluruh kapal eks Uni Soviet dipensiunkan, TNI AL kemudian memesan dua kapal selam dari galangan Howaldtswerke-Deutsche Werft (HDW) di Kiel, Jerman.kapal selam serang bermotor diesel-listrik kelas U-209 diproduksi pada 1978 dan dipesan Indonesia pada 1977.

Kapal diesel elektrik ini kemudian diserahkan ke TNI AL pada pertengahan 1981. Sama seperti dua kapal selam pertama yang dipesan dari Uni Soviet, kapal dari Jerman pun diberi nama Cakra dan Nanggala.

Kapal selam RI dikabarkan hilang kontak di perairan utara Bali. Kapal selam yang hilang itu adalah kapal selam TNI AL KRI Nanggala-402. Seperti apa potretnya?Kapal selam RI dikabarkan hilang kontak di perairan utara Bali. Kapal selam yang hilang itu adalah kapal selam TNI AL KRI Nanggala-402. Seperti apa potretnya? Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat.



Dikutip dari laman Thyssenkrupp, perusahaan raksasa yang mengambil alih HDW disebutkan kapal selam jenis U-209 pada awalnya dipesan AL Yunani pada 1967. Setelah itu berbagai negara memesan kapal selam jenis ini termasuk Indonesia.

Sebanyak 63 tipe kapal selam kelas U-209 telah dibangun galangan ini. KRI 402 Nanggala memiliki dimensi 59,5 x 6,2 x 5,4 meter. Kecepatannya saat di permukaan mencapai 11 knot dan 21,5 knot ketika menyelam. Nanggala dilengkapi persenjataan 8 torpedo 533 mm.

Kapal selam ini pernah menjalani reparasi panjang mulai tahun 1986-1989. Lalu kemudian pada Oktober 1997-pertengahan 1999 di Surabaya untuk penggantian baterai dan update kontrol persenjataan.

Setelah itu, KRI Nanggala-402 kembali direparasi di Daewoo Shipyard, Korea Selatan untuk mengganti baterai, overhaul mesin, dan modernisasi sistem persenjataan yang selesai pada April 2006. (pal/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia