Dua pria bule berada di bawah kepala patung naga. Punggung wisatawan asing itu dibiarkan basah oleh aliran air bersuhu 28 derajat Celsius yang mengalir dari mulut patung tersebut. Sesekali para pelancong itu berendam agar badannya basah oleh air hangat di kolam seluas 33 meter persegi itu.
Air hangat dengan kandungan belerang sekitar 28 persen itu lalu mengalir ke kolam di bawahnya melalui lima patung kepala naga. Kolam kedua itu berukuran 143 meter persegi. "Di Bali naga itu dihormati, sakral," tutur Manajer Operasional Air Panas Banjar, Komang Artana, kepada detikBali, Minggu (7/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
detikBali melali (pelesiran) ke Air Panas Banjar pekan lalu. Objek wisata tersebut terletak di Desa Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali. Waktu tempuh dari Denpasar menuju tempat pelesiran itu dengan menggunakan motor sekitar dua jam.
Air Panas Banjar memiliki tiga kolam. Kolam itu disebut pancoran delapan, pancoran lima, dan pancoran tiga. Pancoran delapan dan lima merujuk pada jumlah patung kepala naga di kolam tersebut. Adapun pancoran tiga hanya berupa tiga pipa yang mengalirkan air hangat.
Pancoran lima dan pancoran delapan di Air Panas Banjar, Buleleng, Minggu (7/6/2026). Air hangat mengalir dari kepala naga menuju kolam. Foto: Gangsar Parikesit/detikBali |
Kolam pancoran delapan memiliki kedalaman sekitar satu meter. Sedangkan kolam pancoran lima kedalamannya beragam mulai dari satu meter; 1,5 meter; hingga dua meter. Adapun kolam pancoran tiga dalamnya satu meter. Air hangat di kolam berwarna kehijauan dan kandungan belerang membuat patung kepala naga menjadi kekuningan.
Selain itu, terdapat dua jakuzi dengan kapasitas 10 orang. Namun, pengunjung harus membayar Rp 15 ribu untuk bisa berendam di jakuzi tersebut. Sedangkan, tiket masuk Air Panas Banjar untuk wisatawan domestik sebesar Rp 15 ribu dan turis mancanegara Rp 45 ribu.
Saya pun sempat berendam di pancoran delapan. Di kolam tersebut terdapan undakan memanjang yang bisa dijadikan tempat duduk sembari berendam. Rasa pegal di badan setelah bermotor sekitar dua jam dari Denpasar luruh oleh air hangat. Kepala, punggung, dan pundak seperti dipijat oleh aliran air saat berdiri di bawah patung kepala naga.
Bahkan, saya sempat tertidur saat berendam. Suara aliran air bak alunan musik relaksasi. Semilir angin dari pepohonan di sekitar membuat mata terpejam sejenak. Apalagi, siang itu, jumlah pelancong yang berendam bisa dihitung dengan jari. Semuanya, turis asing, sedangkan wisatawan domestik baru berdatangan saat hari mengancik sore dan matahari tak terik lagi.
Lingkungan di Air Panas Banjar asri. Beragam pohon tumbuh di sekitar objek wisata tersebut. Tukad (kali) Yeh Panas yang mengalir di depan tempat pelesiran tersebut membuat suasana tropis kian terasa.
Air Panas Banjar juga dilengkapi beragam fasilitas pelengkap seperti kamar bilas, toilet, loker, serta tempat duduk. Sejumlah penjual suvenir, makanan, dan minuman juga ada di objek wisata yang buka sejak pukul 08.30 Wita dan tutup pukul 17.30 Wita tersebut.
Sayangnya, pengunjung dipungut biaya lagi untuk menggunakan loker dan kamar mandi. Tarif sewa loker sebesar Rp 10 ribu dan kamar mandi Rp 3 ribu.
Artana menuturkan biaya sewa loker dan kamar mandi untuk menambah pendapatan Air Panas Banjar. "Untuk nambah-nambah karena pegawai di sini ada 31 orang," ungkap pria 58 tahun tersebut.
Menurut Artana, pengunjung Air Panas Banjar 75 persen turis asing dan sisanya wisatawan domestik. Rerata jumlah pelancong yang pelesiran ke objek wisata itu 150-200 orang. Namun, saat hari libur jumlah turis yang berkunjung bisa mencapai 500-an orang. "Biasanya ramai pada Juni sampai September," tuturnya.
Sejarah Air Panas Banjar
Manajer Operasional Air Panas Banjar, Komang Artana, menerangkan Air Panas Banjar sudah ada sejak dulu. Warga setempat meyakini sumber air hangat itu berasal dari Gunung Batukaru, Tabanan.
Menurut Artana, sumber air hangat itu dimanfaatkan oleh tentara Jepang saat mereka menduduki Buleleng. Kolam pancoran tiga merupakan peninggalan tentara Jepang. "Mereka (tentara Jepang) juga yang menata aliran airnya sekitar 1945," ujarnya.
Kolam pancoran tiga di Air Panas Banjar, Buleleng, Minggu (7/6/2026). Kolam pancoran tiga merupakan peninggalan tentara Jepang. Foto: Gangsar Parikesit/detikBali |
Baca juga: Berendam Air Hangat di Tepi Tukad Ho |
Situs Pemerintah Kabupaten Buleleng menyebutkan sumber mata Air Panas Banjar diperkirakan telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Mata air hangat ini dibenahi dan dimaksimalkan fungsinya saat pendudukan Jepang. "Pemerintahan Jepang ketika itu membangun setidaknya tiga buah kolam penampungan air untuk berendam di mana airnya mereka gunakan untuk menyembuhkan penyakit kulit," seperti dikutp dari situs banjar.bulelengkab.go.id.
Artana menerangkan pada 1984 kolam Air Panas Banjar direnovasi. Pemilik objek wisata itu, sebuah keluarga, membuat dua kolam yakni pancoran delapan dan pancoran lima. Hingga kini, tiga kolam tersebut menjadi tempat berendam air hangat para pelancong yang tengah pelesiran ke Gumi Panji Sakti, sebutan Buleleng.
(gsp/iws)

