Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Segara Giri, I Ketut Sutrawan Selamet, masih mengingat hancurnya terumbu karang di Desa Pemuteran, Kabupaten Buleleng, Bali, pada dekade 90-an. Saat itu, terumbu karang rusak karena nelayan menggunakan bom dan potas demi mendapat ikan.
Masalahnya, nelayan marah saat dilarang menggunakan bom dan potas. Mereka yang melarang dianggap menghalang-halangi nelayan meraup rezeki dari Teluk Pemuteran.
Warga Desa Adat Pemuteran lalu membuat awig-awig (aturan adat) yang melarang nelayan menggunakan bom untuk menangkap ikan. "Nelayan nggak boleh pakai alat yang merusak alam," tutur Sutrawan kepada detikBali, Jumat (27/2/2026).
Desa Adat Pemuteran juga mengerahkan pecalang segara (polisi laut dari adat) untuk berpatroli mencegah nelayan menggunakan bom dan potas. Pecalang segara tak segan menangkap nelayan yang melanggar awig-awig lalu menyerahkannya kepada polisi perairan. "Banyak yang sudah ditangkap," tutur pria berusia 44 tahun tersebut.
Wawan Ode, sapaan Ketut Sutarwan, menuturkan terumbu karang di Teluk Pemuteran yang rusak akibat bom dan potas itu secara bertahap mulai pulih berkat peran Yayasan Karang Lestari. Yayasan tersebut didirkan oleh I Gusti Agung Prana pada 1990.
Asisten Manajer Karang Lestari, I Ketut Sudarmawan, menuturkan yayasan itu berupaya memulihkan terumbu karang di Teluk Pemuteran dengan teknologi biorock. Teknologi tersebut dikenalkan oleh ilmuwan kelautan Wolf Hilberts dan Tom Goreau pada 2000. "Mereka melihat Pemuteran punya potensi untuk restorasi terumbu karang," ujarnya.
Prinsip kerja biorock adalah dengan mengalirkan listrik voltase rendah ke struktur besi yang ditenggelamkan di dasar laut. Setrum akan memecah kandungan air laut menjadi hidrogen dan oksigen sehingga permukaan besi akan membentuk karang solid yang tersusun dari kalsium karbonat dan magnesium hidrosida. Kedua zat itu akan mempercepat pertumbuhan terumbu karang di struktur.
Sudarmawan menerangkan listrik yang dialirkan ke struktur-struktur bersumber dari solar panel melalui kabel khusus. Adapun besar dan kecilnya tegangan listriknya bergantung pada ukuran struktur. "Makin besar strukturnya, voltasenya makin besar," paparnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karang Lestari menenggelamkan struktur-struktur itu sekitar 40-50 meter dari bibir pantai. Yayasan itu tidak memiliki jadwal untuk membuat struktur karena bergantung dari donasi.
Menurut Sudarmawan, tanpa intervensi, biorock, koral perlu waktu tumbuh sekitar 10 tahun. Sedangkan, pakai biorock, cukup sekitar 6-7 tahun. "Koral itu tumbuhnya lambat. Merusaknya cepat, mengembalikannya yang lama," tutur pria berusia 25 tahun tersebut.
Kini, Sudarmawan menuturkan, terdapat sekitar 70 struktur, tempat tumbuh terumbu karang, yang ditenggelamkan di Teluk Pemuteran. Struktur tersebut dibuat dengan aneka bentuk lalu dinamai antara lain garuda, naga, barong, hingga gajah mina. Karang yang tumbuh akan mengikuti bentuk struktur itu.
Struktur gajah mina, salah satu struktur yang besar di Teluk Pemuteran, Buleleng. Terumbu karang di struktur tersebut tumbuh dengan teknologi biorock. Foto: dok. Yayasan Karang Lestari |
Menurut Sudarmawan, salah satu hal yang menantang dalam pelestarian terumbu karang di Teluk Pemuteran adalah mengedukasi nelayan untuk tidak menggunakan bom dan potas lagi. Nelayan belakangan memahami pentingnya menjaga ekosistem Teluk Pemuteran seiring wisatawan yang berdatangan untuk snorkeling dan diving di sana.
Terdapat sejumlah dampak positif dari pulihnya terumbu karang di Teluk Pemuteran. Struktur tempat tumbuh koral bisa berfungsi sebagai penahan gelombang laut. Karang juga menjadi rumah ikan bertelur. "Sedikit demi sedikit ekosistem yang dulu rusak itu terlahir kembali," ungkap Sudarmawan.
Selain itu, pulihnya terumbu karang Teluk Pemuteran membuat wisatawan berkunjung ke Pemuteran. Para pelancong itu menyelam dan snorkeling di sana untuk menikmati terumbu karang.
Warga Desa Pemuteran pun kecipratan cuan dari meningkatnya kunjungan wisatawan ke Pemuteran. Nelayan kini tak hanya melaut, mereka kerap mengantar turis memancing dan menyelam. "Nelayan juga bisa menyewakan perahunya untuk mengantar wisatawan melihat lumba-lumba," kata Sudarmawan.
Salah satu yang merasakan cuan dari pulihnya ekosistem Teluk Pemuteran adalah Gede Tunas. Warga Desa Pemuteran itu mendirikan penginapan yang terdiri dari tiga kamar dan dinamai Pande Guest House sejak 2016.
Tunas juga menyediakan layanan untuk wisatawan seperti snorkeling, diving, melihat lumba-lumba, memancing, hingga treking di Taman Nasional Bali Barat. Adapun tarif layanan wisata tersebut beragam. Misalkan, biaya untuk menyelam di Pulau Menjangan mencapai Rp 1,1 juta per orang. Tarif itu mencakup untuk sewa perahu, pemandu, makan siang, handuk, hingga asuransi.
Pelancong menyelam di antara terumbu karang yang tumbuh di struktur besi Teluk Pemuteran, Buleleng, Bali, beberapa waktu lalu. Foto: dok. Yayasan Karang Lestari |
Menurut Tunas, dulu Desa Pemuteran hanya menjadi tempat persinggahan. Sebab, turis yang ingin snorkeling dan menyelam di Pulau Menjangan, pulau yang terletak di Taman Nasional Bali Barat, menginap di Pantai Lovina, Buleleng. Adapun, jarak antara Pantai Lovina dan Desa Pemuteran sekitar 46 kilometer. "Sekarang wisatawan bisa menginap di Pemuteran dan Pemuteran ini menjadi tempat kunjungan wisata," tutur pria berusia 51 tahun itu.
detikBali sempat melali (pelesiran) ke Desa Pemuteran pada Senin (16/2/2026). Saat itu, terlihat sejumlah turis asing bermain atau duduk-duduk di pantai. Beberapa di antara pelancong asing tersebut juga terlihat wira-wiri seperti di ATM maupun berjalan di sekitar Desa Pemuteran.
Desa Pemuteran memiliki sejumlah tempat pelesiran. Antara lain Bukit Batu Kursi, pantai, serta penangkaran penyu. Adapun waktu tempuh dari Denpasar ke Desa Pemuteran sekitar tiga jam.
Menurut Wawan Ode, pelestarian terumbu karang di Teluk Pemuteran dengan pelibatan masyarakat itu yang membuat desa tersebut diganjar sejumlah penghargaan. Desa wisata itu meraih Best Tourism Village 2025 dari Organisasi Pariwisata Dunia PBB UN Tourism. Penghargaan itu diberikan dalam momen Best Tourism Villages by UN Tourism-2025 Ceremony & Third Annual Network Meeting yang digelar di Huzhou, China, Jumat (17/10/2025).
"Kami bisa meraih penghargaan karena dianggap mampu membuat pariwisata berkelanjutan," imbuh Wawan Ode.
(gsp/gsp)












































