750 Sekolah di NTT Rusak Berat Akibat Gempa Flores

Sui Suadnyana, Simon Selly - detikBali
Senin, 12 Okt 2026 20:51 WIB
Foto: Kepala BPMP NTT, Ifran Karim, saat diwawancarai di Kupang, Senin (12/10/2026). (Simon Selly/detikBali)
Kupang -

Sebanyak 750 sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami rusak berat akibat gempa Flores pada 15 Agustus 2026. Ratusan sekolah tersebut butuh direvitalisasi segera untuk mempercepat pemulihan belajar mengajar.

"Berdasarkan data yang kami paparkan, terdapat 750 sekolah dengan kondisi rusak berat yang perlu segera direvitalisasi," terang Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT, Ifran Karim, dalam peluncuran aplikasi Si-Pendekar NTT di Kupang, Senin (12/10/2026).

Sebanyak 750 sekolah yang rusak berat tersebar di tujuh kabupaten yang terkena gempa. Kerusakan ratusan sekolah ini menambah jumlah sarana pendidikan yang harus direvitalisasi. Jika ditambah dengan sekolah yang rusak sebelum gempa terjadi, total yang perlu direvitalisasi pada 2026 bisa melampaui 2.000 sekolah di NTT.

"Sebelumnya, per awal September 2026, sebanyak 1.509 satuan pendidikan di 22 kabupaten/kota di NTT telah menerima program revitalisasi dengan total anggaran Rp 1,23 triliun," ujar Ifran.

Revitalisasi, tutur Ifran, merupakan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) dari Presiden Prabowo Subianto di sektor pendidikan. Tujuannya untuk memperbaiki dan menambah sarana prasarana agar murid dapat belajar di ruang kelas yang aman, sehat, dan layak.

Namun, Ifran menegaskan, besarnya anggaran saja tidak cukup dalam revitalisasi sekolah. Ketepatan sasaran dan kualitas pekerjaan menjadi kunci.

"Besarnya anggaran menunjukkan skala intervensi pemerintah. Namun, keberhasilan tidak hanya ditentukan besarnya alokasi dana, melainkan juga ketepatan sasaran, kesiapan pelaksanaan, dan kualitas hasil pekerjaan," ujar Ifran.

Hasil pemetaan cepat terhadap 303 sekolah di 19 kabupaten/kota menggambarkan parahnya kerusakan infrastruktur pendidikan di NTT. Ditemukan 1.172 ruang kelas rusak berat dan kekurangan 288 ruang kelas akibat rombongan belajar melebihi kapasitas.

Permasalahan ini tersebar di Manggarai Barat, Manggarai, Ngada, Sikka, Timor Tengah Selatan, Malaka, dan Flores Timur. Karena itu, Ifran menekankan pentingnya validasi Data Pokok Pendidikan (Dapodik) agar bantuan tepat sasaran, serta prioritas pada ruang kelas rusak berat.

"Persiapan lahan dan dokumen juga menjadi perhatian, terutama sekolah swasta. Jika persyaratan administrasi dan legalitas lahan belum terpenuhi, penandatanganan perjanjian kerja sama bisa tertunda, dan revitalisasi berisiko molor," jelas Ifran.



Simak Video "Pertamina Hadir, Dukung Pemulihan Pascagempa Flores"

(hsa/hsa)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork