detikBali
Round Up

Manggarai Episentrum Gempa NTT, Puluhan Tewas-Ratusan Bangunan Rusak

Terpopuler Koleksi Pilihan
Round Up

Manggarai Episentrum Gempa NTT, Puluhan Tewas-Ratusan Bangunan Rusak


Tim detikBali - detikBali

Patients are treated in makeshift tents outside the Ben Mboi Manggarai regional hospital in the aftermath of an earthquake, in Ruteng, Manggarai regency, East Nusa Tenggara province, Indonesia, August 17, 2026. REUTERS/Willy Kurniawan
Foto: REUTERS/Willy Kurniawan
Manggarai -

Manggarai menjadi salah satu wilayah dengan dampak paling parah akibat gempa magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Puluhan orang tewas, ribuan warga mengungsi, serta ratusan fasilitas pendidikan dan kesehatan mengalami kerusakan.

Berdasarkan data Basarnas hingga Selasa (18/8/2026), sebanyak 27 orang meninggal dunia di Kabupaten Manggarai. Selain itu, tercatat delapan orang luka berat dan belum ada rincian korban luka ringan untuk wilayah tersebut.

Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, memerinci korban tewas akibat gempa di sejumlah wilayah. Nagekeo delapan orang, Kabupaten Ngada dua orang, dan Manggarai Timur 25 orang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Manggarai Barat dua orang meninggal dunia, Manggarai 27 orang, dan Ende dua orang," rinci Fathur.

ADVERTISEMENT

Secara keseluruhan, Basarnas mencatat 70 orang meninggal dunia. Sebanyak 230 korban lainnya luka berat dan 308 orang luka ringan.

Korban luka berat terbanyak berada di Manggarai Timur, yakni 182 orang. Kemudian, Ngada 17 orang dan Nagekeo 13 orang. "Sikka dua orang, Manggarai Barat dua orang, Manggarai delapan orang, dan Ende empat orang," tandasnya.

104 Sekolah dan 39 Fasilitas Kesehatan Rusak

Besarnya dampak gempa juga terlihat dari kerusakan infrastruktur di Manggarai. Sebanyak 104 satuan pendidikan, mulai sekolah hingga perguruan tinggi, dan 39 fasilitas kesehatan mengalami kerusakan.

Berdasarkan data BPBD NTT yang diterima detikBali, Selasa (18/8/2026), gempa tektonik tersebut menyebabkan kerusakan cukup parah pada sejumlah infrastruktur dasar di Manggarai. Kondisi itu berdampak langsung terhadap layanan pendidikan dan kesehatan masyarakat.

Sebanyak 104 satuan pendidikan dilaporkan mengalami kerusakan berat. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar di sejumlah sekolah terpaksa dihentikan sementara.

Kerusakan juga terjadi pada 39 fasilitas kesehatan. Dari jumlah tersebut, 30 fasilitas kesehatan mengalami rusak berat dan sembilan lainnya rusak sedang.

Kondisi tersebut turut menyulitkan penanganan warga terdampak gempa. Sebelumnya, RSUD Ruteng juga dilaporkan mengalami kerusakan hingga 75 persen akibat gempa.

26 Orang Tewas, 6.487 Warga Mengungsi

Berdasarkan data BPBD NTT, gempa di Manggarai menyebabkan 26 orang meninggal dunia dan 119 orang luka-luka. Rinciannya, 31 orang luka berat dan 88 orang luka ringan.

Sebanyak 6.487 orang terpaksa mengungsi akibat rumah mereka rusak atau tidak layak huni.

Kerusakan rumah di Manggarai tercatat sebanyak 1.983 unit. Sebanyak 1.597 unit mengalami rusak berat, 263 unit rusak sedang, dan 123 unit rusak ringan.

Kerusakan juga terjadi pada 12 fasilitas pemerintahan. Rinciannya, 10 unit mengalami rusak berat, satu unit rusak sedang, dan satu unit rusak ringan.

Sarana publik juga tercatat mengalami kerusakan 12 unit. Rinciannya, sembilan unit rusak berat, satu rusak sedang, dan dua unit rusak ringan.

7 Korban Luka Berat Dievakuasi ke Labuan Bajo

Korban luka berat dari Manggarai Timur juga terus dievakuasi. Sebanyak tujuh korban dengan kondisi luka berat telah dievakuasi ke RSUD Komodo di Labuan Bajo, Manggarai Barat, menggunakan helikopter milik Basarnas.

"Sebanyak tujuh korban dengan kondisi luka berat telah berhasil dievakuasi melalui jalur udara. Para korban mengalami sejumlah cedera, di antaranya patah tulang, dislokasi, trauma vertebralis, serta luka parah pada bagian tangan," kata Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafi, Selasa.

Ia menjelaskan proses evakuasi dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan korban yang membutuhkan penanganan medis segera. Evakuasi pertama pukul 11.00 Wita dan kedua pukul 15.00 Wita menggunakan helikopter Dauphin AS 365 N3+ HR-3604.

"Evakuasi dilakukan dalam dua kloter. Kloter pertama menggunakan Helikopter Dauphin dengan membawa tiga korban dan tim medis, sementara kloter kedua membawa empat korban," jelas Syafi.

Untuk mendukung percepatan evakuasi, helikopter tersebut terus disiagakan dan dioperasikan secara intensif di wilayah yang terdampak paling parah, khususnya di Kabupaten Manggarai Timur. Penggunaan jalur udara menjadi salah satu upaya untuk mempercepat proses pemindahan korban dari lokasi terdampak menuju fasilitas kesehatan.

Selain evakuasi melalui jalur udara, penguatan personel dan sarana pendukung di lapangan juga terus dilakukan. Sore tadi, Tim Rescue Kantor SAR Kupang bersama unsur TNI, Polri, dan Potensi SAR dari Kupang diberangkatkan menuju wilayah terdampak menggunakan KN SAR Antareja.

Syafi berharap penambahan kekuatan personel dan armada tersebut dapat mempercepat proses pencarian, pertolongan, dan evakuasi korban, sekaligus memperkuat respons SAR di sejumlah wilayah yang masih membutuhkan penanganan.

"Tim SAR Gabungan hingga saat ini terus berkoordinasi dengan seluruh unsur terkait untuk memastikan proses evakuasi dan penanganan korban berjalan cepat, aman, dan terkoordinasi," tandas Syafi.

Manggarai Tanggap Darurat 90 Hari

Pemerintah Kabupaten Manggarai telah menetapkan status tanggap darurat selama 90 hari melalui Keputusan Bupati Manggarai Nomor 319 Tahun 2026.

Penetapan status darurat terhitung mulai 15 Agustus hingga 13 November 2026 dan disertai pembentukan Pos Komando Tanggap Darurat Bencana.

Hingga saat ini pemerintah daerah bersama BPBD, TNI-Polri, Kemenkes, dan relawan masih fokus pada evakuasi, pendirian tenda darurat, dan pemulihan layanan dasar bagi warga terdampak.



(dpw/dpw)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan










Hide Ads