Gempa bumi masih mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), sejak 15 Agustus 2026 hingga kini. Sebanyak 72 orang meninggal dunia, termasuk tiga murid dan satu guru.
Sementara itu, lebih dari 80 ribu warga mengungsi, termasuk sekitar 38 ribu warga sekolah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (Seknas SPAB) per 20 Agustus 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melaporkan, sebanyak 1.268 dari 1.378 satuan pendidikan terdampak (92 persen) sudah melaporkan kondisi. Sebanyak 502 satuan pendidikan dilaporkan mengalami kerusakan berat.
Sedangkan dari 8.664 ruang kelas yang terdata, sebanyak 5.521 ruang kelas (63,7 persen) rusak. Sebanyak 2.229 ruang kelas di antaranya rusak berat atau rusak total.
Kerusakan satuan pendidikan meliputi laboratorium, perpustakaan, fasilitas sanitasi, dan rumah dinas guru. Sedangkan kerusakan rumah warga mencapai puluhan ribu rumah.
Belajar Darurat
Gempa Flores NTT berdampak pada pembelajaran sekitar 116.324 murid. Sesuai kebijakan Pemerintah Provinsi NTT, pembelajaran dilaksanakan dari rumah dan tempat pengungsian.
Kebijakan pembelajaran darurat tersebut diambil terkait keselamatan warga sekolah, mengingat gempa susulan masih berlangsung dan sejumlah bangunan berisiko roboh.
Berdasarkan data satuan pendidikan yang telah melaporkan kondisi pembelajaran, berikut moda pembelajaran yang dilaksanakan:
- Murid belajar dari rumah: 923 satuan pendidikan
- Murid belajar daring: 171 satuan pendidikan
- Murid belajar di kelas darurat: 35 satuan pendidikan
- Murid belajar tatap muka: 30 satuan pendidikan.
Untuk memastikan keberlanjutan pembelajaran, Kemendikdasmen telah menerbitkan Panduan Pembelajaran di Masa Darurat dengan moda dan materi pembelajaran fleksibel, dengan contoh dapat diakses di laman Rumah Pendidikan. Pembelajaran ditekankan pada materi esensial, literasi-numerasi dasar, serta dukungan psikosisoal. Contoh penerapannya tersedia melalui laman Rumah Pendidikan.
Pendampingan kepada pemda dalam menerapkan kebijakan pembelajaran masa darurat menurut Kemendikdasmen terus dilakukan hingga kebijakan tersebut berakhir pada 28 Agustus 2026.
"Dalam situasi bencana, keselamatan dan keberlanjutan pendidikan anak harus menjadi perhatian bersama. Kemendikdasmen terus bergerak bersama pemerintah daerah dan seluruh mitra untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan layanan pendidikan, meskipun dalam kondisi darurat. Kita ingin memastikan bahwa keterbatasan akibat bencana tidak menghentikan hak anak untuk belajar dan mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan," ujar Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, di NTT, dikutip Minggu (23/8/2026).
Bantuan ke Warga Terdampak
Sejumlah bantuan yang disalurkan antara lain 4.500 bingkisan anak, paket sembako, 800 school kit, dan 400 family kit, dengan daerah penyaluran termasuk Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, dan Ngada. Tim tambahan juga bergerak ke Ende, Nagekeo, dan Sikka.
Sedangkan ruang kelas darurat disiapkan bertahap disiapkan bagi sekolah yang mengalami kerusakan berat. Saat ini, 100 tenda ruang kelas sedang didistribusikan, dengan target penggunaan mulai pekan depan.
Sementara itu, dukungan pendampingan psikososial bagi murid dan guru dilakukan Kemendikdasmen bersama Himpunan Psikologi, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), serta mitra perguruan tinggi.
Penyaluran bantuan selanjutnya meliputi 5.000 school kit, 1.500 family kit, 6.238 mebelair, 3.956 papan tulis, dan 123.522 buku.
