detikBali

TGB Ambil Alih Ponpes Abul Barokat Usai Disorot Kasus Pelecehan Santriwati

Terpopuler Koleksi Pilihan

TGB Ambil Alih Ponpes Abul Barokat Usai Disorot Kasus Pelecehan Santriwati


Edi Suryansyah - detikBali

TGB Muhammad Zainul Majdi saat mengambil alih pengelolaan ponpes Abul Barokat Wannafaat, Desa Bunkate, Jumat (25/9/2026).
TGB Muhammad Zainul Majdi saat mengambil alih pengelolaan ponpes Abul Barokat Wannafaat, Desa Bunkate, Jumat (25/9/2026). (Foto: Edi Suryansyah/detikBali)
Lombok Tengah -

Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi mengambil alih pengelolaan Pondok Pesantren (Ponpes) Abul Barokat Wannafaat di Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pengambilalihan pengelolaan ponpes itu dilakukan setelah sebelumnya menjadi sorotan terkait kasus pelecehan santriwati dan Ahmad Imanuddin Sumar alias AIS atau Abah mundur sebagai pimpinan karena tersangkut kasus pelecehan seksual terhadap santriwati.

Penyerahan pengelolaan tersebut dituangkan secara resmi dalam naskah Berita Acara dan Ikrar Penyerahan. Penyerahan itu mencakup seluruh aset, sarana, dan prasarana yang ada di lingkungan pondok pesantren.

Melalui ikrar tersebut, TGB secara resmi menerima penyerahan Ponpes Abul Barokat untuk selanjutnya dibina, dikembangkan, dan dikelola demi kemajuan pendidikan Islam serta kemaslahatan umat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Seluruh hak, kewajiban, dan operasional pesantren selanjutnya akan disesuaikan dengan kebijakan yang ditetapkan oleh TGB," kata Ketua PD NWDI Lombok Tengah, Habib Ziadi Thahir, di hadapan ratusan wali santri yang menghadiri acara silaturahmi dan penyerahan pengelolaan Ponpes Abul Barokat Wannafaat, Desa Bunkate, Jumat (25/9/2026).

ADVERTISEMENT

Prosesi pembacaan ikrar dan penandatanganan penyerahan tersebut diakhiri dengan gema takbir yang menggaung penuh khidmat dari para wali santri yang menyaksikan.

Ketua Komite Ponpes Abul Barokat, Sahpan, mengenang awal berdirinya pondok pesantren yang dirintis oleh Abah bersama para santri dengan skema gotong royong. Ia menyebut ponpes tersebut tak berdiri dengan mudah, melainkan melalui jerih payah dan perjuangan yang panjang.

"Pondok kita ini awalnya tidak kaya raya. Konsep terbentuknya hingga seperti sekarang ini yaitu dengan perkhidmatan. Kita membangun pondok dan asrama semuanya dari gotong royong santri," ujar Sahpan.

Ia menjelaskan, meski berjalan dengan keterbatasan, kami tidak pernah melupakan kualitas pendidikan. Pada tahun kedua berdiri, jumlah santri kami hanya 11 orang. Namun, seluruh santri yang mengikuti lomba tingkat kabupaten berhasil meraih juara. Mereka mampu bersaing dengan sekolah-sekolah besar yang ada di kota.

"Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kualitas tidak selalu ditentukan oleh banyaknya jumlah siswa atau besarnya fasilitas yang dimiliki. Justru dari santri yang jumlahnya sedikit itulah, kami berusaha membuktikan bahwa pendidikan yang berkualitas dapat dibangun dengan kesungguhan," tegasnya.



(dpw/dpw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads