Kantor Lurah Monjok, Kota Mataram, kini berubah fungsi menjadi tempat penampungan sampah sementara. Kondisi itu terjadi setelah rencana pemindahan lokasi TPS Mobile mendapat penolakan dari warga sekitar.
Kantor Lurah Monjok yang berada di Jalan Terusan Bung Hatta, Gang Gedur, Kota Mataram, akhirnya digunakan sebagai lokasi transit sampah warga untuk sementara. Langkah itu dilakukan untuk menghindari tumpukan sampah di permukiman warga.
"Untuk sementara memang di kantor lurah, sambil kita mencari lokasi lainnya," kata Plt Lurah Monjok, Mulya Hidayat, yang juga Camat Selaparang, saat dikonfirmasi, Selasa (22/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mulya mengatakan rencana relokasi TPS Mobile hingga kini belum menemukan titik temu. Ada dua kendala utama yang membuat rencana tersebut berjalan mandek.
Kendala pertama yakni akses jalan menuju lokasi yang diusulkan harus melintasi kawasan permukiman padat penduduk. Kondisi itu dinilai akan menyulitkan truk pengangkut sampah yang hendak melintas.
Kendala kedua adalah penolakan warga setempat. Warga khawatir lokasi baru tersebut nantinya bakal dikenal sebagai tempat pembuangan sampah permanen yang bau dan kumuh.
"Dianggap menjadi tempat sampah," jelasnya.
"Sejak tahun lalu sampai sekarang, kami sudah cari alternatif tempat (TPS Mobile). Pemda juga sudah siap, jika ada lokasi yang representatif, Pemda siap membebaskan," sambungnya.
Mulya menyebut penumpukan sampah warga di area Kantor Lurah Monjok sebenarnya sudah terjadi sejak tiga tahun terakhir. Pihaknya kini masih berupaya mencari lokasi alternatif yang representatif untuk menampung sampah melalui TPS Mobile.
"Kita ikhtiar cari lokasi yang representatif," jelasnya.
Meski kantor lurah kini berubah bak TPS Mobile, Mulya memastikan kondisi pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan normal. Menurutnya, keberadaan tumpukan sampah tersebut tidak mengganggu pelayanan di kantor lurah.
"Selama ini pelayanan nggak ada masalah. Keluhan ada, tapi pelayanan tetap jalan," tegasnya.
Dari pantauan detikBali di lokasi, sampah rumah tangga milik warga sekitar tampak berserakan karena tidak dimasukkan ke dalam plastik. Banyaknya sampah membuat area tersebut mengeluarkan bau menyengat serta cairan berwarna hitam.
Sopir truk sampah di lokasi, Satriyadi, mengatakan penumpukan sampah di area Kantor Lurah Monjok telah berlangsung cukup lama, yakni lebih dari tiga tahun.
"Ini sudah tiga tahunan," katanya.
Satriyadi mengaku proses pengangkutan sampah warga di area tersebut bisa menghabiskan waktu hingga tiga jam lebih. Kondisi sampah yang berserakan menjadi salah satu penyebab lamanya proses pengangkutan.
"Bisa dua jam sampai tiga jam lebih. Soalnya sampah di sini nggak ditaruh di plastik. Jadi lama pengangkutannya," ucapnya.
Dalam sekali pengangkutan, sampah yang terkumpul bisa memenuhi satu truk. Satriyadi mengatakan sampah tersebut kini dibawa ke TPS Bintaro karena TPA Kebon Kongok tutup.
"Sekali angkut ini bisa satu truk, itu pun kita paksa. Kalau sekarang kita buang sampahnya ke TPS Bintaro, karena TPA Kebon Kongok tutup," tandasnya.