detikBali

Retribusi Pedagang Pasar Kerap Bocor, Pemkot Mataram Rotasi Juru Pungut

Terpopuler Koleksi Pilihan

Retribusi Pedagang Pasar Kerap Bocor, Pemkot Mataram Rotasi Juru Pungut


Sui Suadnyana, Nathea Citra - detikBali

Para pedagang di Pasar Kebon Roek, Ampenan, Kota Mataram tengah berjualan di area depan pagar pasar, Rabu (2/9/2026). Nathea Citra/detikBali
Foto: Para pedagang di Pasar Kebon Roek, Ampenan, Kota Mataram tengah berjualan di area depan pagar pasar, Rabu (2/9/2026). Nathea Citra/detikBali
Mataram -

Retribusi dari pedagang pasar tradisional di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), kerap bocor. Kebocoran terjadi lantaran juru pungut disinyalir kerap menilap uang retribusi yang dibayarkan para pedagang di pasar.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Mataram, Irwan Harimansyah, mengatakan kecurangan juru pungut menjadi salah satu penyebab realisasi pendapatan pasar melalui retribusi para pedagang macet setiap tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Irwan, kebocoran retribusi para pedagang di lapangan terjadi sangat fantastis. "Misalkan (potensinya) Rp 400 ribu, (kalau) Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu (kebocorannya) nggak kami persoalkan, tetapi ini hampir 30% lebih hilang tiap hari. Bayangkan," ungkap Irwan saat diwawancarai, Senin (21/9/2026).

Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram kini mengambil sikap tegas terhadap kinerja juru pungut nakal di 19 pasar tradisional. Tugas para juru pungut dirotasi sebagai upaya pembinaan.

ADVERTISEMENT

"Bukan diganti, tetapi dirotasi juru pungutnya. Kami lakukan pembinaan karena mereka ini terlalu lama, terlalu nyaman (di pasar itu)," terang Irwan.

Irwan menilai rotasi ini menjadi cara jitu untuk mendeteksi potensi kecurangan di lapangan. "Kalau kami rotasi, maka akan ketahuan curangnya mereka itu dimana," jelasnya.

Diketahui, bulan ini Disdag Mataram merotasi lebih dari 50% juru pungut di 19 pasar tradisional Mataram. Disdag Mataram tak segan memberi sanksi tegas berupa pemutusan penugasan jika ditemukan kecurangan seusai dilakukan rotasi.

"Ini bukan bersih-bersih, tetapi kami beri peringatan kepada mereka, mengingatkan mereka. Artinya ada langkah-langkah berikutnya. Kalau masih saja curang, apa boleh buat, kami usulkan agar tidak dilanjutkan lagi," jelas Irwan.

Catatan Disdag Mataram, realisasi retribusi dari pedagang pasar tradisional pada 2026 baru mencapai 60% dari target Rp 8,25 miliar. Target pendapatan ini naik dari sebelumnya di angka Rp 7,5 miliar.

"Target kami kan dinaikkan, dari sebelumnya Rp 7,5 miliar, sekarang jadi Rp 8,25 miliar. Kami usahakan bisa maksimal, (realisasinya) bisa 80% ke atas. Sekarang (capaian) kami baru 60%," terang Irwan.



(hsa/hsa)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads