Kebakaran Hutan di TN Tambora Terus Meluas

Sui Suadnyana, Faruk - detikBali
Minggu, 13 Sep 2026 09:30 WIB
Foto: Petugas memadamkan api di TN Tambora, Dompu, NTB, Jumat (11/9/2029). (Dok. Balai TN Tambora)
Dompu -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional (TN) Tambora, Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), terus meluas. Titik api baru ditemukan di beberapa tempat.

Kepala Balai TN Tambora, Abdul Azis Bakry, mengatakan titik api kembali muncul di wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) I Kore dan SPTN II Pekat pada Rabu (9/9/2026). Kebakaran lahan di dua titik itu terjadi hingga pada Jumat (11/9/2029).

Di wilayah SPTN I Kore Resor Piong, kebakaran terpantau sejak 9 September 2026 dari arah Jalur Hutan Tanaman Industri (HTI) Labu Nae sampai pada Doro Tabe Nae dan berkembang ke arah selatan serta barat daya hingga mendekati Jalur Pendakian Piong Pos 2 dan Pos 3.

"Berdasarkan pemantauan dan pengukuran terakhir pada 11 September 2026, area terdampak teridentifikasi sekitar 358,16 hektare," ungkap Abdul melalui siaran pers, Minggu (13/9/2026).

Petugas mengalami kendala ketika berusaha memadamkan api karena sejumlah titik kebakaran tidak dapat dijangkau menggunakan kendaraan. Petugas harus berjalan kaki melewati jurang, punggungan bukit, serta medan terbuka dengan waktu tempuh sekitar 5-6 jam untuk mencapai titik api.

Atas kondisi tersebut, lanjut Abdul, upaya pemantauan dan pemadaman dilakukan siang hingga malam hari dengan tetap memperhitungkan arah angin, perkembangan api, kondisi medan, dan keselamatan seluruh personel.

"Petugas tetap berupaya maksimal meskipun akses menuju lokasi cukup berat. Keselamatan personel tetap menjadi prioritas karena kondisi angin, medan, dan jarak tempuh sangat menentukan langkah pemadaman di lapangan," tutur Abdul.

Sementara itu, kebakaran yang terjadi di Jalur Pintu Walet Timur Hodo, Grid 67-68, Zona Rimba, membakar sekitar 37,34 hektare lahan, Jumat (11/9/2026). Petugas melakukan pemadaman menggunakan peralatan manual serta membuat sekat bakar.

"Vegetasi terdampak antara lain ilalang, serasah, semak belukar, kesambi, luhu, sonokeling, safari bura, dan saroe," jelas Abdul.

Abdul mengungkapkan penyebab kebakaran di wilayah Resor Piong, diduga berkaitan dengan aktivitas penggembalaan ternak, termasuk dugaan penggunaan api untuk menggiring ternak dan atau merangsang tumbuhnya tunas baru sebagai pakan.

Sementara di SPTN II Pekat, petugas menemukan bekas umban atau bahan pengasapan yang biasa digunakan dalam aktivitas pencarian madu di sekitar lokasi kebakaran. Abdul menegaskan informasi tersebut merupakan dugaan awal, sedangkan penyebab pasti dan pihak yang bertanggung jawab masih dalam proses penyelidikan.

"Temuan-temuan tersebut menjadi salah satu bahan pendalaman terkait dugaan penyebab kebakaran," tutur Abdul.



Simak Video "Video: Blak-blakan Komisi IV DPR Soal Luasan Lahan Terbakar di 2026"

(iws/iws)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork