detikBali

1.956 Hektare Savana TN Tambora Terbakar, Kemenhut Turun Tangan

Terpopuler Koleksi Pilihan BaliNusra Awards 2026

1.956 Hektare Savana TN Tambora Terbakar, Kemenhut Turun Tangan


Rafiin - detikBali

Tim Gabungan Kemenhut melakukan pemadamam kebakaran di padang savana Taman Nasional (TN) Tambora, Kamis (9/7/2026). (Dok. Kemenhut).
Foto: Tim Gabungan Kemenhut melakukan pemadamam kebakaran di padang savana Taman Nasional (TN) Tambora, Kamis (9/7/2026). (Dok. Kemenhut)
Bima -

Padang savana seluas sekitar 1.956 hektare di Taman Nasional (TN) Tambora, Nusa Tenggara Barat (NTB), terbakar. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama dengan tim gabungan turun tangan mengendalikan kebakaran itu.

Diketahui, TN Tambora adalah kawasan pelestarian alam seluas 71.645,64 hektare yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Cagar Biosfer Dunia. Kawasan ini menjadi habitat berbagai satwa liar, di antaranya, kakatua kecil jambul Kuning, nuri kepala merah, kirik-kirik australia, dan rusa timor.

"Kebakaran ini tidak hanya mengancam habitat satwa liar dan kawasan konservasi bernilai tinggi, tetapi juga berdampak bagi ekonomi masyarakat. Selain mengganggu kualitas udara, kebakaran dapat memengaruhi aktivitas wisata alam," kata Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, dalam keterangannya, Kamis (9/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dwi mengungkapkan kebakaran pertama kali terdeteksi pada Minggu (5/7/2026) di Resort Piong. Kondisi cuaca kering, vegetasi savana yang mudah terbakar, embusan angin yang cukup kencang, serta keterbatasan sumber air menyebabkan api cepat meluas.

ADVERTISEMENT

Sejak awal kejadian kebakaran, lanjut Dwi, Balai TN Tambora bersama Masyarakat Peduli Api (MPA) berupaya melakukan pengendalian awal dengan membatasi penyebaran api. Untuk memperkuat operasi pemadaman, Kemenhut juga menurunkan satu regu Manggala Agni.

"Saat ini, Kemenhut melalui Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Balai Dalkarhut Jabalnusra), Dirjen Penegakan Hukum Kehutanan, bersama Balai Taman Nasional Tambora, Masyarakat Peduli Api, serta unsur terkait lainnya terus melakukan operasi pemadaman di lapangan," katanya.

Kepala Balai Dalkarhut Jabalnusra, Bambang Setyo Antoko, menjelaskan operasi pemadaman difokuskan untuk menekan laju penyebaran api dengan menyesuaikan strategi terhadap karakteristik medan di TN Tambora.

"Karakteristik savana di Tambora membuat api dapat menjalar dengan cepat, terutama saat kondisi angin menguat dan sumber air terbatas," jelasnya.

Karena itu, strategi pemadaman disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan agar penyebaran api dapat dikendalikan secara efektif. Hingga saat ini operasi pemadaman masih terus berlangsung dengan melibatkan seluruh unsur.

"Pengendalian kebakaran ini tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi seluruh pihak agar pencegahan menjadi budaya bersama," ujar Bambang.

Ia mengingatkan pemerintah daerah, aparat kewilayahan, pengelola kawasan, pelaku wisata, dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran dan segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

"Kemenhut akan menindak tegas pelanggaran hukum yang menyebabkan kebakaran sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan," tegas Bambang.

Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Tambora, Abdul Azis Bakry, mengatakan perlindungan Tambora tidak berhenti ketika api berhasil dikendalikan, tetapi berlanjut pada upaya memastikan fungsi kawasan tetap terjaga.

"Setelah kebakaran bisa dikendalikan, pekerjaan kami belum selesai. Pemulihan kawasan akan dilakukan secara bertahap bersamaan dengan penguatan patroli, deteksi dini, dan pelibatan masyarakat agar fungsi ekologis kawasan serta manfaatnya bagi masyarakat tetap terjaga untuk jangka panjang," tandasnya.



(hsa/iws)










Hide Ads