Suriati tak kuasa menahan haru saat mengisahkan momen dirinya mengungsi ke sebuah gereja Katolik di Desa Nangadhero, Kecamatan Aesesa, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Guru ngaji itu merasa diterima dengan baik oleh pengurus gereja saat gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores, NTT, pada 15 Agustus lalu.
"Kami diterima dengan baik oleh para suster dan romo di Paroki Yesus Karahiman Ilahi Aeramo. Ini sangat luar biasa," tutur Suriati saat ditemui detikBali di posko mandiri Desa Nangadhero, Minggu (6/9/2026).
Tak hanya Suriati, sekitar 320 umat muslim lainnya juga mengungsi ke gereja Katolik itu saat gempa dahsyat mengguncang wilayah tersebut. Bagi Suriati, bencana mengajarkan nilai kemanusiaan tanpa memandang latar belakang keyakinan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seandainya kalau tidak ada musibah bencana, mungkin kami tidak tahu suster dan romo itu seperti apa. Kami dirangkul dengan baik," tutur Suriati berlinang air mata.
Selama masa pengungsian, Suriati dan ratusan warga lainnya mendapatkan makanan-minuman tiga kali sehari dari Paroki Yesus Karahiman Ilahi Aeramo. Bahkan, para pengungsi dan umat gereja tersebut juga sempat memasak hingga makan bersama-sama.
"Saya sangat rasakan toleransi dan gotong-royong, terutama saat masak-memasak. Romo dan suster tidak membedakan kami saat makan itu," ujar Suriati.
"Saat mau makan, anak kecil hingga orang tua dipanggil oleh romo dan suster. Kami makan ramai-ramai. Rasanya seperti keluarga," imbuh perempuan berusia 28 tahun itu.
Suriati mengaku hingga saat ini suster-suster di gereja tersebut masih kerap membawakannya sayuran ke posko pengungsian. Ia berharap rasa persaudaraan itu tetap terjalin.
Imam Paroki Yesus Karahiman Ilahi Aeramo, Romo Charles Talu, menjelaskan masyarakat Nangadhero yang mengungsi ke paroki tersebut seluruhnya merupakan umat muslim. Menurutnya, pihak paroki membuka dapur umum saat gempa M 7,7 mengguncang wilayah tersebut.
"Kemanusiaan itu ada di atas segala-galanya. Saya merasa terketuk hati untuk menerima siapa saja karena gereja ini terbuka dan ruang harapan untuk semua," tutur Charles.
(iws/iws)