Warga Kampung Adat Desa Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menggelar acara Nyemulak atau peletakan batu pertama sebagai penanda dimulainya pembangunan ulang Desa Sade, setelah kebakaran hebat yang meludeskan 75 rumah warga. Selain rumah, terdapat satu bangunan masjid dan museum.
"Hari ini kita melakukan acara Nyemulak sebagai tanda dimulainya pembangunan Kampung Sade ini," kata Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, seusai melakukan peletakan batu pertama masjid dan rumah di Kampung Adat Desa Sade, Kamis (3/9/2026).
Diketahui, bahasa Nyemulak merupakan bahasa sebagai penanda dimulainya pembangunan masyarakat Suku Sasak. Nyemulak juga kerap dimaknai sebagai sebuah kebangkitan Adat Sade atas musibah yang telah terjadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kegiatan tersebut, terdapat dua item yang dilakukan Nyemulak. Pertama di masjid Desa Sade dan bale toak atau rumah paling tua milik warga di bagian atas.
Iqbal mengatakan, pembangunan ulang Desa Sade ini bukan hanya membangun rumahnya. Tetapi juga harus memikirkan sebuah peradaban manusia yang menggambarkan masyarakat Sasak Pulau Lombok.
"Kita ingin membangun dan merekonstruksi kembali peradaban bukan sekedar bangun. Jadi bukan sekedar kita desain terus bangun, tidak," tegasnya.
Menurutnya, dalam proses rekonstruksi ini warga tak bisa hanya membangun ulang bangunannya. Tetapi harus memahami filosofi setiap item bangunan yang dibuat, bahkan material juga harus benar-benar diseleksi ketat.
"Tapi kita harus paham betul nilainya, filosofi setiap pembangunan, bahkan setiap materialnya kita verifikasi sehingga nanti ketika sudah selesai Kampung Sade ini seperti Kampung Sade aslinya. Bukan sekedar deretan bangunan dalam kampung," ujarnya.
Di sisi lain, Iqbal juga mendorong agar Desa Adat Sade ini diabadikan dengan cara mengubah statusnya dari Desa Wisata ke Desa Adat. Dengan begitu, seluruh bangunan yang ada akan memiliki arti tersendiri bagi masyarakat dan wisatawan.
"Plus kita akan revitalisasi dusun Sade ini yang awalnya statusnya sebagai desa wisata tetapi desa adat," tegasnya.