Para bidan di Kabupaten Flores Timur disiapkan menghadapi tantangan kesehatan akibat krisis iklim dan kebencanaan. Upaya itu dilakukan Asosiasi Pendidikan Kebidanan Indonesia (AIPKIND) bersama Pemerintah Australia melalui MENTARI Project.
MENTARI Project diluncurkan di Hotel Sunrise Larantuka, Senin (31/9/2026). Project ini bertujuan membekali bidan agar lebih tangguh menghadapi kebencanaan dan krisis iklim.
Acting Counselor for Governance and Human Development at the Australian Embassy in Jakarta, Ms Elena Martin Avila, menyampaikan duka dan keprihatinan atas bencana gempa bumi yang baru-baru ini melanda Flores.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bencana gempa bumi ini mengingatkan sistem dan layanan. Australia berkomitmen untuk mendukung sistem kesehatan yang adil dan kuat lebih khusus ibu anak-anak dan masyarakat," ujar Ellena.
Menurut Ellena, penguatan sistem kesehatan ibu, bayi, dan anak penting untuk menghadapi tantangan kesehatan di masa depan.
"Sambil terus menghadapi perubahan iklim di masa depan, kita juga harus memastikan kesehatan perempuan dan bayi berkualitas tinggi," tandasnya.
Ketua AIPKIND Jumiarni Ilyas mengatakan Project MENTARI merupakan kerja sama AIPKIND dan Pemerintah Australia untuk memperkuat pendidikan kebidanan.
"Kami hadir dari pendidikan kebidanan dapat memberikan kontribusi besar pada pembangunan pada ibu bayi dan anak. Dengan keyakinan dan memastikan bidan-bidan Indonesia dapat disiapkan," ujar Jumiarni.
Jumiarni menegaskan kehadiran Project MENTARI di Flores Timur bukan karena daerah tersebut tertinggal.
"Justru para bidan sudah lebih dahulu berhadapan dengan situasi yang belum tentu dialami oleh sejawat lain. Bidan tidak diposisikan sebagai objek tetapi sumber pengetahuan," tandasnya.
Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen mengapresiasi kolaborasi tersebut. Dia berharap proyek itu memperkuat sistem kesehatan dan pendidikan kebidanan yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan.
"Mari kita bekerja dengan semangat yang sama: ilmu yang berbasis data, kebijakan yang berbasis kebutuhan, pelayanan yang berbasis kemanusiaan, dan kolaborasi yang menghasilkan perubahan," ujarnya.
Anton juga menilai MENTARI Project tidak hanya meningkatkan kapasitas individu, tetapi menghubungkan sistem pendidikan kebidanan, pelayanan kesehatan, dan kebutuhan masyarakat.
"Ini merupakan pendekatan yang sangat penting. Apa yang ditemukan di lapangan harus menjadi pembelajaran bagi dunia pendidikan. Apa yang dipelajari di institusi pendidikan harus relevan dengan kebutuhan pelayanan. Dan pelayanan kesehatan harus benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat," tandasnya.